Mata Uang Kripto

Pasar Kripto Tertekan, Bitcoin Anjlok 2,65 Persen dan Kini Bertahan di Level 21 Ribu Dolar AS  

Mata uang kripto telah terkoreksi secara drastis sepanjang tahun ini, akibat kenaikan suku bunga Federal Reserve AS (The Fed) dan melonjaknya inflasi

Shutterstock
Ilustrasi Kripto Bitcoin. Bitcoin, mata uang kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar, menuju ke zona merah pada perdagangan hari ini, Sabtu (20/8/2022). 

Laporan Wartawan Tribunnews, Nur Febriana Trinugraheni
 
TRIBUNNEWS.COM, LONDON - Bitcoin, mata uang kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar, menuju ke zona merah pada perdagangan hari ini, Sabtu (20/8/2022).

Sementara kapitalisasi pasar kripto global hari ini terkoreksi 2,09 persen dalam 24 jam terakhir, menjadi 1,02 triliun dolar AS.

Melansir dari Coinmarketcap, total volume penjualan di pasar kripto dalam 24 jam terakhir mencapai 83,21 triliun dolar AS, naik 4,10 persen.

Baca juga: Kapitalisasi Pasar Kripto Terkoreksi 70 Miliar Dolar AS dalam 24 Jam Terakhir

Bitcoin bertahan di level 21,225,41 ribu dolar AS pada pukul 16.53 WIB, anjlok 2,65 persen dalam 24 jam terakhir.

Ether (ETH), koin yang terhubung ke blockchain Ethereum, diperdagangkan 1,636.88 dolar AS, setelah turun 5,97 persen.

Koin Tether (USDT) bergerak datar menuju ke 1,00 dolar AS. Sedangkan USDC Coin (USDC) bertahan di 1,00 dolar AS, turun 0,01 persen dalam 24 jam terakhir.

BNB (BNB) diperdagangkan di level 287,32 dolar AS, naik 0,75 persen dari perdagangan Jumat (19/8/2022) kemarin.

Sementara Binance USD (BUSD) mengalami kenaikan 0,03 persen menuju 1,00 dolar AS. Sedangkan, koin XRP morosot 0,30 persen, bertahan di 0,3404 dolar AS.

Baca juga: Saingi Bitcoin, Volume Ethereum Naik 100 Persen dari Titik Terendahnya

Cardano (ADA) diperdagangkan di level 0,4595 dolar AS, setelah menyusut 2,37 persen dalam 24 jam terakhir. Mata uang kripto Solana (SOL) naik 1,10 persen menuju ke level 36,71 dolar AS.

Cryptocurrency yang menampilkan wajah anjing Shiba Inu, Dogecoin (DOGE) bertahan di level 0,07042 dolar AS, naik 0,72 persen dalam 24 jam terakhir.

Mata uang kripto telah terkoreksi secara drastis sepanjang tahun ini, akibat kenaikan suku bunga Federal Reserve AS (The Fed) dan melonjaknya inflasi yang mendorong investor menghindari aset berisiko.

Analis pasar senior di perusahaan valuta asing OANDA, Craig Erlam mengatakan kegagalan BTC untuk pulih dari kerugian menunjukkan adanya substansi dari pergerakan tersebut.

"Kegagalan Bitcoin untuk memulihkan kerugiannya, menunjukkan ada substansi dari pergerakan tersebut," ujar Erlam, yang dikutip dari Reuters.

Baca juga: Bitcoin Lanjutkan Penurunan, Menuju ke Level 21.000 Dolar AS Pasca Rilis Risalah The Fed

Pergerakan tajam seperti itu biasa terjadi di pasar kripto yang fluktuatif. Pada tanggal 15 Juni, harga BTC jatuh lebih dari 15 persen saat investor ketakutan oleh runtuhnya stablecoin TerraUSD, dan pemberi pinjaman kripto besar membekukan penarikan bagi pelanggannya.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved