Mata Uang Kripto

Bitcoin Bertengger di Level 19.000 Dolar AS, Pasar Kripto Diprediksi Berada di Zona Kritis

harga Bitcoin selama perdagangan Senin (3/10/2022) anjlok 0,42 persen hingga harganya melesat jatuh di level 19,202 dolar AS per keping

Shutterstock
Ilustrasi Kripto Bitcoin. Kondisi aset digital diproyeksi akan masuk zona kritis selama beberapa minggu ke depan. 

TRIBUNNEWS.COM, NEW YORK – Alessio Rastani analis pasar kripto, membagikan pandangannya tentang kondisi aset digital yang akan masuk zona kritis selama beberapa minggu ke depan.

Pernyataan ini dilontarkan setelah harga Bitcoin tampak suram pada awal pekan ini.

Dimana harga Bitcoin selama perdagangan Senin (3/10/2022) anjlok 0,42 persen hingga harganya melesat jatuh di level 19,202 dolar AS per keping, dalam 24 jam terakhir.

Baca juga: Korea Selatan Bekukan Aset Bitcoin Milik Bos Terra Luna Senilai 67 Juta Dolar AS

Keruntuhan ini tak hanya dialami oleh Bitcoin, melainkan mayoritas pasar kripto.

Seperti Ethereum yang merosot 1.62 persen menjadi 1,290.72 dolar AS, penurunan serupa juga terjadi pada Cardano yang sejak kemarin terkoreksi 2,02 persen dan nilainya melesat anjlok pada level 0.4215 dolar AS per koin.

Adapun Solana (SOL) yang kembali menempatkan diri di zona merah, Coinmarketcap mencatat SOL anjlok 1,82 persen hingga harganya berada di level 32.20  dolar AS per koin.

Penurunan ini bahkan membuat pasar kripto secara historis mencatatkan kinerja yang kurang baik di sepanjang September.

Mengutip dari Cointelegraph, penurunan ini terjadi imbas sikap hawkish The Fed yang mengerek suku bunga ke level tertinggi dengan tujuan untuk menurunkan laju inflasi.

Baca juga: Bitcoin Memantul di Atas 20 Ribu Dolar AS, Pasar Kripto Kembali Sumringah

Alasan tersebut yang kemudian membuat nilai mata uang dolar AS melonjak pada perdagangan global.

Sayangnya aksi bullish dolar mendorong tekanan pada pasar investasi dan membuat sejumlah aset kripto jatuh ke posisi terendah.

“Penurunan ini terjadi karena penguatan indeks dolar yang saat ini melesat ke level 111,5,” jelas  Rastani.

Kondisi bearish ini diperkirakan akan terjadi selama beberapa minggu kedepan, mengingat saat ini kondisi pasar global tengah berkontraksi akibat efek resesi jangka pendek. 

Akan tetapi menurut perusahaan saham yang berbasis di Wall Street, S&P 500 memproyeksikan apabila aset kripto khususnya Bitcoin pada periode Oktober hingga Desember 2022 akan mengalami penguatan nilai secara berkala.

Baca juga: Manfaatkan Penurunan Harga Kripto, Microstrategy Borong 301 Bitcoin Senilai Rp 90 Miliar

Meski begitu investor diimbau untuk tetap waspada akan pergerakan aset kripto, mengingat pergerakan volatilitasnya yang selalu berubah.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved