Truk dan Bus Hino Juga Siap Gunakan Biosolar B20, Syaratnya Perawatan Harus Benar!

"Karena kendaraan yang Hino produksi di Indonesia selalu dilakukan pengembangan dan penyesuaian mengikuti kondisi yang ada di pasar lokal."

HANDOUT
Tabel perawatan berkala kendaraan Hino jika menggunakan bahan bakar biodiesel B20 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kewajiban menggunakan bahan bakar biodiesel B20 dengan 20 persen campuran minyak nabati pada bahan bakar solar menjadi tantangan bagi PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI) sebagai pemimpin pasar medium duty truck sejak 18 tahun terakhir.

Mau tak mau, tantangan itu harus diatasi. Setelah melakukan riset selama 3 tahun ini, Hino menyatakan semua truk dan busnya yang saat ini dipasarkan di Indonesia, siap mengasup biosolar B20

Santiko Wardoyo, Direktur Penjualan dan Promosi HMSI mengatakan, Hino sejak awal biosolar B20 dicanangkan pemerintah, pihaknya sudah siap menggunakan B20 untuk semua truk dan bus Hino yang dijual di Indonesia.

"Karena kendaraan yang Hino produksi di Indonesia selalu dilakukan pengembangan dan penyesuaian mengikuti kondisi yang ada di pasar lokal," ungkap Santiko dalam keterangan persnya kepada Tribunnews, Rabu (5/9/2018).

Santiko mengatakan, pelanggan loyal Hino tidak perlu khawatir dengan kebijakan ini karena kendaraan Hino sudah lulus uji dan siap menggunakan bahan bakar biodiesel 20 persen atau B20.

Baca: Daimler: Semua Bus dan Truk Mercedes-Benz yang Dijual di Indonesia Siap Mengasup Biodiesel B20

Santiko memaparkan, sejak tiga tahun lalu Hino telah melakukan pengujian pada mesin dengan teknologi common raildengan metode uji engine bench test.

Pengujian tersebut dilakukan di Balai Thermodinamika Motor dan Propulsi (BTMP-BPPT) selama 400 jam dengan beban penuh pada putaran mesin maksimum yaitu 2.500 rpm selama 8 jam/ hari.

Baca: Gandeng Gudang Garam, Jasa Marga Kembangkan Proyek Properti 200 Ha di Kawasan Bandara Kediri

Metode uji tersebut merupakan metode yang disarankan oleh prinsipal Hino di Jepang. yaitu Hino Motors, Ltd. yang diklaim lebih memaksa mesin melakukan performa maksimal jika dibandingkan dengan road test atau kondisi pemakaian aktual di jalan.

Hasilnya, untuk mesin Hino tidak ada fenomena yang membahayakan pada pengujian tersebut.

Baca: Mercedes-Benz Segera Luncurkan Bus Baru untuk Pasar Indonesia

Temuan yang muncul hanya ada penyumbatan filter bahan bakar yang diakibatkan oleh glicerol dan selulosa hasil blending bahan bakar kelapa sawit dan solar.

Namun dengan kontrol dan perawatan yang benar akan dapat mencegah atau diminimalisir penyumbatan filter tersebut dan hasilnya mesin Hino telah lulus uji menggunakan bahan bakar biodiesel B20.

Baca: Diam-diam Tata Motors Lagi Ngetes Truk Ringan Empat Ban Tata LPT 407 di Lampung dan Solo

Hasil pengujian terhadap mesin berteknologi common rail yang memperoleh hasil memuaskan tersebut, secara otomatis membuktikan bahwa penggunaan biodiesel B20 tidak akan berpengaruh terhadap mesin berteknologi mekanikal.

Hasil pengujian tersebut juga sudah dilaporkan ke Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Kementerian ESDM sebagai salah satu bentuk komitmen Hino dalam mendukung kebijakan pemerintah.

“Kami menghimbau kepada pemerintah agar menyempurnakan proses pencampuran solar dan FAME agar meminimalisir efek samping yang ditimbulkan bagi kendaraan,” ujar Santiko Wardoyo.

Penulis: Choirul Arifin

Berita Populer
Penulis: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved