Breaking News:

BBM RON Tinggi Untungkan Pemilik Kendaraan, Edukasi ke Masyarakat Perlu Digencarkan

Pertamina akan menggelar promo potongan harga Pertalite seharga Premium untuk di 85 kabupaten/kota di Pulau Jawa dan Bali lewat program Langit Biru.

WARTA KOTA/ANGGA BHAGYA NUGRAHA
Petugas SPBU Pertamina di Kawasan Abdul Muis, Tanah Abang, Jakarta Pusat, tengah mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite, Jumat (24/7/2015). Warta Kota/angga bhagya nugraha 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pertamina terus memberi edukasi kepada masyarakat untuk beralih menggunakan BBM dengan kadar oktan yang lebih baik.

Pertamina menempuh berbagai strategi untuk menggeser konsumsi masyarakat agar tak lagi menggunakan BBM oktan rendah seperti premium.

Misalnya saja, Pertamina akan menggelar promo potongan harga Pertalite seharga Premium untuk di 85 kabupaten/kota di Pulau Jawa dan Bali, melalui program Langit Biru.

Dengan demikian, pengendara sepeda motor roda dua, kendaraan roda tiga, angkot pelat kuning, dan taksi pelat kuning, bisa membeli bahan bakar oktan tinggi dengan harga diskon.

Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan menilai, langkah Pertamina itu sudah tepat. Sebagai bentuk edukasi dan dukungan kepada pemerintah sesuai peraturan pemerintah nomor 41 tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara.

Baca juga: Dukung Udara Bersih dan Sehat, Pertamina Jalankan Program Langit Biru

Agar program Langit Biru makin optimal, Mamit mendorong Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) segera merevisi aturan mengenai pendistribusian Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium, terutama di Jawa Madura Bali (Jamali).

Baca juga: Pengamat: Komponen Kendaraan Tak Cepat Rusak Jika Rutin Gunakan BBM RON Tinggi

Karena, kata Mamit, aturan kewajiban pendistribusian Premium bertolak belakang dengan Paris Agreement.

"Untuk itu tak ada jalan lain, Kementerian ESDM harus segera merevisi aturan tersebut, sehingga tak ada lagi kewajiban pendistribusian Premium dan ini bisa diawali di Jamali," ujar Mamit ketika dihubungi wartawan, Rabu (18/11/2020).

Revisi aturan tersebut, kata Mamit sangat penting baik sebagai bentuk dukungan terhadap Paris Agreement dan sesuai peraturan pemerintah nomor 41 tahun 1999 tentang pengendalian pencemaran udara.

Jika terus menggunakan bahan bakar ron rendah, maka Indonesia akan jadi sorotan internasional karena standar bahan bakar tidak sesuai dengan perkembangan terbaru yang ramah lingkungan, juga bertolak belakang dengan komitmen Presiden dalam Paris Agreement.

Halaman
12
Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved