Senin, 20 April 2026

GIICOMVEC 2026

Cegah Kecelakaan Bus di Jalan Raya, Kuncinya di Pengemudi dan Keandalan Armada

Hasil investigasi KNKT menunjukkan human factor masih menjadi penyebab utama kecelakaan bus di jalan raya.

Penulis: Choirul Arifin
Tribunnews.com/Choirul Arifin
CEGAH RISIKO KECELAKAAN DI JALAN RAYA - Talkshow Hino Indonesia Academy: Membangun Moda Transportasi yang Aman dan Laik Jalan dengan Penyediaan Pengemudi yang Kompeten dan Penyediaan Manajemen Kendaraan yang diselenggarakan Hino di pameran kendaraan niaga GIICOMVEC 2026, Kamis, 9 April 2026. 
Ringkasan Berita:
  • Hasil investigasi KNKT menunjukkan human factor masih menjadi penyebab utama kecelakaan bus di jalan raya.
  • Jika armada bus dirawat rutin sesuai standar dan rekomendasi pabrikan, biaya operasional armada akan lebih hemat, misalnya dalam penggunaan komponen kendaraan yang bersifat fast moving.
  • Pengemudi bus benar-benar memahami teknologi pada armada yang dijalankannya, termasuk teknik mengemudi bus dengan putaran mesin (rpm) rendah.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Upaya mencegah terjadinya kecelakaan bus di jalan raya menjadi topik bahasan menarik di acara diskusi yang diselenggarakan Hino di pameran kendaraan niaga GIICOMVEC 2026, Kamis, 9 April 2026.

“Berdasarkan hasil investigasi KNKT, human factor masih menjadi penyebab utama kecelakaan. Selain itu, kondisi kendaraan dan sistem operasional juga berpengaruh."

Karena itu peningkatan kompetensi driver serta manajemen perawatan kendaraan menjadi kunci penting dalam meningkatkan keselamatan transportasi,” ungkap Ahmad Wildan, senior investigator Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) saat menjadi narasumber Talkshow Hino Indonesia Academy: Membangun Moda Transportasi yang Aman dan Laik Jalan dengan Penyediaan Pengemudi yang Kompeten dan Penyediaan Manajemen Kendaraan.

"Kuncinya di pengemudi dan armada. Hampir semua jalan di Indonesia bisa dilalui oleh kendaraan asal menggunakan kendaraan yang siap dioperasikan dan pengemudi yang sehat dan bugar," 

Ahmad Wildan menekankan, jika armada bus dirawat rutin sesuai standar dan rekomendasi pabrikan, biaya operasional armada akan lebih hemat.

Misalnya, dalam penggunaan komponen kendaraan yang bersifat fast moving seperti kampas rem dan kampas kopling.

"Saya baru saja bertemu pengusaha operator dengan armada ribuan unit. Biaya maintenance armada oleh operator berdasar pengalaman operator tersebut, per tahun bisa mencapai Rp 3 miliar, ketika armada dirawat dengan benar, bisa turun menjadi hanya Rp900 juta saja per tahun," kata Ahmad Wildan.

Karena itu, dia menekankan agar pengemudi bus benar-benar memahami teknologi pada armada yang dijalankannya atau menjadi batangan (pegangan)-nya.

Baca juga: Bus Tambang Hino Bus 136 MDBL 4x4 Mendebut di GIICOMVEC 2026

"Driver harus paham cara mengemudi dengan rpm rendah, jika tidak (paham), itu akan mengorbankan kampas rem dan kampas kopling (aus lebih cepat)," dia mencontohkan.

Mengemudi dengan menjaga rpm atau putaran mesin lebih rendah juga membantu menghemat konsumsi bahan bakar solar di kendaraan.

Ahmad Wildan juga menekankan kepada pengusaha transportasi agar memberikan pelatihan berkala kepada para pengemudi dan mekanik bengkel agar pemahaman terhadap teknologi kendaraan tetap bagus, bahkan meningkat. 

"Ketika pengemudi sudah dilatih, pengeluaran untuk belanja ban dan kopling akan turun drastis.
Safety meningkat, efisiensi (biaya operasional) juga menjadi lebih tinggi," tegas Ahmad Wildan.

Dia kembali mengingatkan, terjadinya inefisensi yang tinggi karena pengemudi dan mekanik yang tidak kompeten.

Baca juga: Mitsubishi Fuso Siap Pasok Beragam Armada untuk Industri Cold Chain Tanah Air

Piter Andre, Training Division Head PT Hino Motore Sales Indonesia mengatakan, Hino Indonesia berkomitmen meningkatkan aspek keamanan dan keselamatan di jalan raya melalui pendidikan dan pelatihan pengemudi di fasilitas pelatihan Hino Total Support Customer Center (HTSCC) di Purwakarta, Jawa Barat.

HTSCC merupakan pusat pelatihan berkendara (safety driving) yang didirikan oleh PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI) untuk pengemudi truk dan bus.

"Kami ingin berkontribusi, tidak hanya menyediakan transportasi angkutan penumpang dan barang yang aman dan berkeselamatan di Indonesia melalui produk dan campaign melalui kegiatan pelatihan.
Tidak hanya dari sisi produk tapi juga di manajemen pengemudi dan perawatan armada," ungkapnya.

Karena itu dia menekankan pentingnya pelatihan pengemudi dan manajemen perawatan kendaraan sebagai investasi keselamatan.

Baca juga: Isuzu Rilis Pikap Traga Varian AC di GIICOMVEC 2026, Harga Naik Rp9 Juta

“Pengemudi kendaraan niaga memiliki tanggung jawab besar. Pelatihan yang berkelanjutan akan meningkatkan kompetensi, kesadaran keselamatan, serta efisiensi berkendara. Selain itu, manajemen perawatan kendaraan yang baik memastikan kendaraan selalu laik jalan dan fitur keselamatan bekerja optimal,” ujar Pieter Andre.

Lantas apa aktivitas utama dalam manajemen perawatan armada?

"Perawatan armada jadi faktor penyebab kedua terjadinya kecelakaan. Kendaraan harus kita pastikan dalam kondisi prima," ungkap Peter Andre.

"Manajemen perawatan diperlukan untuk memastikan kendaraan layak dioperasikan mulai dari inspeksi harian. Ini juga atas rekomendasi KNKT. Ada checklist critical yang harus dicek yang bisa jadi faktor utama kecelakaan seperti pengereman," imbuhnya.

Jika harus dilakukan perbaikan terhadap armada tertentu, operator harus memasukkannya ke bengkel untuk repair. "Perusahaan juga harus memastikan ketersediaan spare parts asli Hino sesuai standar pabrikan," Peter Andre menekankan.

Bayu Permana, Direktur Pengembangan Bisnis dan Organisasi PT Primajaya Perdanarayautama, perusahaan operator PO Primajasa, mengatakan, keandalan armada dan kondisi pengemudi yang prima memang faktor paling menentukan menjaga keselamatan bus di jalan raya saat dioperasikan membawa penumpang.

"Saya sependapat dengan Pak Ahmad Wildan  bahwa dua hal itu jadi faktor penentu. Dari sisi driver, kita mulai dari proses rekrutmen, tidak hanya menilai kemampuan pengemudi yang menyetir bagus, tapi juga perilaku mengemudinya seperti apa," kata Bayu.

"Kita juga lakukan tes kesehatan ke pengemudi dan kita lakukan juga pembinaan-pembinaan kewilayahan.
Saat bus sudah beroperasi pengemudi harus beristirahat minimal satu sampai dua jam untuk kembali menjalankan bus," ungkapnya.

Dia menambahkan, saat armada bus Primajasa kembali ke pool, petugas langsung melakukan pengecekan. "Itu melibatkan inspektor untuk mengecek berbagai keluhan yang ada seperti keluhan seperti AC yang panas," kata dia.

"Kemudian armada diserahkan ke mekanik untuk dilakukan perbaikan. Setelah itu dilakukan quality control untuk memastikan kendaraan bisa beroperasi lagi dengan baik," lanjutnya.

“Sebagai operator, kami memastikan rekrutmen driver yang selektif, pelatihan berkala, serta penerapan sistem manajemen perawatan kendaraan yang disiplin."

"Kami juga meningkatkan standar perawatan sesuai standar ATPM, mulai dari prosedur bengkel, fasilitas, hingga peningkatan kompetensi mekanik dan penyediaan inspector kendaraan,” ungkap Bayu Permana.

Dia mengatakan, PO Primajasa bekerja sama dengan Hino selama empat bulan ini dan dijalankan sejak Januari 2026 untuk melakukan pelatihan SDM seperti mekanik melalui training.

"Ini kita lakukan untuk mengejar target kami zero storing (pada armada). Kita juag lakukan penyempurnaan SOP dan QC agar hasil pekerjaan perawatan armada konsisten," ungkap Bayu Permana.

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved