Senin, 13 April 2026

Menjadi Penjaga Perdamaian PBB, Inilah Sosok Cecilia Permatasari

Inilah dia sosok perempuan keren, Cecilia Permatasari Ritonga yang menjadi penjaga perdamaian PBB. Simak kisah lengkapnya berikut ini!

Ilustrasi Parapuan Foto 2021-09-03 01:01:00 

Parapuan.co - Briptu Cecilia Permatasari Ritonga adalah perempuan keren yang menjadi penjaga perdamaian PBB.

Mendaftar dan diterima di Fakultas Kedokteran USU (Universitas Sumatra Utara), perempuan yang akrab dipanggil Cici ini malah lebih memilih memenuhi keinginan orang tuanya untuk menjadi polisi.

"Dulu udah diterima di Fakultas Kedokteran di USU, tapi karena orang tua yang kepengen jadinya ngikutinlah tes seleksi. Orang tua pengen salah satu anaknya ada yang pakai baju dinas," cerita Cecilia kepada PARAPUAN.

Berawal dari kariernya sebagai polisi, kini Briptu Cecilia Permatasari Ritonga sedang menjalankan tugasnya sebagai Sersan Taktis Pasukan Pertama di Misi Stabilisasi Terpadu Multidimensi Perserikatan Bangsa-Bangsa di Republik Afrika Tengah (MINUSCA).

Baca Juga: Kisah Laninka Siamiyono, Perempuan Hebat di Balik Aksi Sosial Lisptick Untuk Difabel

Meski sudah memiliki karier yang terbilang cukup baik sebagai polwan, namun ia malah memilih untuk menjadi bagian dari penjaga perdamaian PBB.

Briptu Cecilia pun mengaku kalau menjadi penjaga perdamaian PBB memberinya tantangan tersendiri.

Ia juga ingin membantu sesama dengan berkontribusi menjadi penjaga perdamaian di bawah bendera PBB.

"Kalau ikut sebagai peace keeper (penjaga perdamaian) itu ada tantangan tersendiri, bisa ikut misi perdamaian dunia. Kepengen aja ngebantu, kita sebagai warga negara Indonesia bisa membantu di bawah helm biru, di UN (PBB)," jelasnya.

Tak hanya itu, Briptu Cecilia menjelaskan bahwa ia ingin menunjukkan bahwa dengan menjadi peace keeper, polwan juga memiliki peran yang sama pentingnya dengan laki-laki.

Kawan Puan, berdasarkan penuturan Briptu Cecilia, jumlah peace keeper perempuan masih tergolong rendah.

"Dari tahun 2008 itu, Polri mengirimkan pasukan Polri. Awalnya ke Sudan. Nah, baru di tahun 2019 mengirimkan pasukan perempuan," ujarnya.

"Dari total pasukan, ada 16 orang Polwan, jadi persentasenya baru 10 persen," jelasnya lebih jauh.

Baca Juga: Kenalan dengan Sosok Jessica Jung, Idol yang Sukses Jadi Business Woman

Kawan Puan, perjalanan untuk menjadi bagian dari misi perdamaian PBB ini tentu saja tidak mudah dan panjang.

Ada berbagai tes serta seleksi yang harus diikuti oleh Briptu Cecilia Permatasari Ritonga sebelum akhirnya bisa bertugas di bawah helm biru ini.

"Seleksi dulu beberapa tahapan, mulai dari seleksi kemampuan fisik, kemampuan Bahasa inggris, IT, tes menembak, psikotes dan tes bahasa lainnya.

"Setelah lolos seleksinya, baru dipanggil untuk melaksanakan training kurang lebih enam bulan di Jakarta.

"Selain itu, untuk mendapatkan baret UN, kami juga melaksanakan jalan juang sejauh 30 km, dengan maksud nantinya di daerah misi, kami selalu siap dengan kemungkinan yang terjadi," cerita perempuan kelahiran 1996 ini.

Selesai dengan tes, seleksi dan pelatihan, tentu masih ada tantangan lain yang dihadapi Briptu Cecilia Permatasari Ritonga.

Menurut penuturannya salah satu tantangan sulit yang dihadapinya adalah belajar bahasa untuk berkomunikasi dengan penduduk setempat.

"Di sinikan pakainya Bahasa Prancis, jadi sebelum kita berangkat ke Afrika, kita harus dibekali sama latihan Bahasa Prancis.

Baca Juga: Mengenal Rawdah Mohamed, Model Berani yang Jadi Editor Fashion Berhijab Pertama di Vogue Skandinavia

"Nah, sesampainya di sini, ternyata orang lokal, mayoritas, menggunakan Bahasa Sango, kayak bahasa daerah mereka. Salah satu tantangan sih belajar Bahasa Sango, bahasa daerah mereka," ujarnya. 

Dengan mengemban amanah sebagai penjaga perdamaian, Briptu Cecilia Permatasari Ritonga memahami betul ada risiko bahaya yang harus selalu ia waspadai, Kawan Puan.

"Kalau di PBB, risiko keselamatan diri sih, yang sejak awal sudah jadi konsekuensi atau tantangan terbesar yang harus kita ketahui terlebih dahulu sebelum berangkat," terangnya.

Kawan Puan, terhitung sudah sepuluh bulan bertugas di daerah konflik, Briptu Cecilia Permatasari Ritonga menyampaikan pesannya untuk masyarakat Indonesia.

"Kalau kita lihat di sini, kita beruntung tinggal di Indonesia dengan kemerdekaan yang sudah kita terima. 

"Dengan pemerintahan yang sudah stabil di Indonesia, terus kebebasan dalam bersuara, memilih. Kita harus banyak-banyak bersyukur karena keadaan di Indonesia masih lebih baik," tutupnya.

Kawan Puan, itu dia sosok Briptu Cecilia Permatasari Ritonga.

Sosok perempuan hebat yang bangga dengan tugasnya sebagai bagian dari penjaga perdamaian di bawah bendera PBB.

Baca Juga: Ingin Membuat Perempuan Lebih Berdaya, Alasan Shandy Purnamasari Rintis MS Glow

(*)

Sumber: Parapuan
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved