Segera Sadari dan Berubah, Ini 5 Tanda Kamu Tergolong Orang Toksik
Tidak melulu orang lain, bisa jadi kamu pun tergolong toxic people. Inilah dia tanda dan ciri kamu orang toksik. Segera sadari dan berubah!
Parapuan.co - Menganggap orang lain sebagai pribadi yang toksik atau toxic people adalah hal yang sangat mudah kita lakukan.
Namun hal itu jadi sulit saat kita harus mengidentifikasi diri sendiri bahwa kita termasuk orang yang toksik.
Orang toksik adalah seseorang yang secara teratur menampilkan tindakan dan perilaku yang menyakiti orang lain, hingga berdampak negatif bagi kehidupan mereka.
Melansir Mindbodygreen, berikut tanda-tanda yang bisa diidentifikasi dalam diri apakah kita termasuk pribadi yang toksik.
Baca Juga: Jaga Jarak, Ini 4 Tipe Orang Toksik yang Tak Perlu Diberi Perhatian
1. Memaksakan kebenaran pada orang lain
Ciri pertama kamu adalah orang toksik adalah selalu ingin memaksakan kebenaran pada orang lain.
Padahal memaksakan kebenaran pada orang lain ini dapat menyakiti hati mereka.
Contohnya adalah kamu memberi nasihat hingga mempromosikan suatu hasil pada diri sendiri yang belum tentu berhasil juga pada mereka.
Misalnya, ketika mereka ingin diet dengan berolahraga, tapi kamu terus memaksanya untuk membeli suplemen berat badan yang tidak diinginkan, ini akan mengganggu mereka.
Perlu kita tahu, tidak semua perspektif dan cara kita bisa diterima dan dinikmati orang lain. Sifat beracun dalam diri akan tumbuh jika terus begini.
2. Menganggap masalah menjadi lelucon
Menganggap suatu hal yang bagi orang lain adalah masalah atau suatu hal besar tapi kamu menganggapnya cuma lelucon adalah tanda kamu orang toksik.
Baca Juga: Keuntungan Punya Sedikit Teman, Salah Satunya Terhindar dari Pertemanan Toksik
Kamu tidak peka dengan perasaan orang lain, saat mereka bilang "Tolong hentikan itu, aku tidak nyaman."
Jika kamu menjawabnya dengan "Itu cuma bercanda.", saat itulah kamu menyakiti perasaan mereka bertubi-tubi.
Dalam psikologi, dalih bercanda adalah cara untuk menutupi sesuatu yang tidak nyaman tanpa bersedia minta maaf.
3. Suka membandingkan
Apakah kamu selalu membandingkan diri sendiri dengan orang lain? Kalau ya, maka bisa jadi kamu tergolong orang toksik.
Misalnya ada teman kita bercerita dia bersedih karena tidak bisa lolos wawancara kerja.
Kamu justru berkata dengan perbandingan, "Ah, baru segitu saja lowongan yang kamu lamar. Aku dulu lebih dari 1000 lowongan nggak dipanggil-panggil biasa saja, tuh."
Perlu kita tahu, kita tidak akan paham bagaimana kesedihannya, apakah perusahaan itu menjadi dambaannya atau alasan lainnya.
Baca Juga: Meski Tidak Mudah, Begini Perjuangan Lala Karmela Keluar dari Hubungan Toksik
Membandingkan kesedihan kita di masa lalu dengan kesedihan teman di masa kini justru akan menyinggung perasaannya.
4. Sarkastik
Pernyataan sarkas bisa sangat menusuk hati orang lain bahkan hanya beberapa frasa yang kita lontarkan.
Pernyataan memuji di awal dan menjatuhkan seseorang di akhir adalah perilaku tidak sopan dan menyinggung perasaan orang lain.
Contohnya, "Habis gajian pasti senang, ya? Traktir kita dong, jangan pelit jadi orang, tuh."
Jika mereka adalah tipe tidak enakan, mereka akan mengorbankan gajinya untuk kita yang sebanarnya tidak perlu.
Kita tidak pernah tahu apakah uangnya akan ditabung, untuk berdonasi, atau untuk keluarga mereka.
5. Senang saat orang lain susah
Kita wajib introspeksi diri saat kita bahagia ketika orang lain sedang kesusahan, sakit, depresi, dan kesulitan lainnya.
Baca Juga: Tak Perlu Sungkan, Ini 5 Cara Menarik Diri dari Persahabatan Toksik
Memang empati tidak bisa muncul begitu saja, harus ada momen-momen tertentu di mana kita juga ikut prihatin karenanya.
Tanda kita adalah orang toksik lainnya adalah berpura-pura bersedih di hadapan mereka, padahal di hati kita sangat bahagia.
Jika kita mengenali tanda-tanda toksik ini dalam diri kita, akan lebih baik jika melukan introspeksi diri bahwa sifat ini harus diubah.
Mungkin sulit pada awalnya, tapi jika perlahan-lahan kita memperbaikinya dengan sadar maka sifat ini akan berangsur-angsur berkurang.
Jika sangat sulit untuk berjuang sendirian, kita bisa melakukan perawatan profesional seperti ke psikolog atau psikiater untuk penanganan lebih lanjut.
(*)

:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/istock-928162808jpg-20211004024838.jpg)