Pemilu 2014
Elit Politik Nasional Dituding Sumber Kisruh Pileg Depok
Status wespada kondisi darurat demokrasi layak distempelkan untuk pileg kota Depok
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pembubaran paksa proses validasi perhitungan suara ulang secara diam-diam di gudang kotak suara KPUD Depok oleh Polres Depok Senin (5/5) malam lalu, menunjukkan adanya praktik kotor kecurangan Pileg 2014 di kota Depok.
Status wespada kondisi darurat demokrasi layak distempelkan untuk pileg kota Depok. Keprihatinan itu diungkapkan politisi muda PDI Perjuangan Fahmi Habcy kepada Tribunnews.com Rabu pagi (7/5/2014) di Jakarta.
"Keputusan penghitungan ulang KPU Jabar saja sudah mengindikasikan ada ketidakberesan Pileg Kota Depok. Ini masih coba sembunyi-sembunyi validasi KPUD ditengah hutan dalam gudang kotak suara bukan dikantor KPUD, diam-diam tanpa mengundang 12 partai , dimalam hari pula bukan jam kerja ,dan tidak memberitahukan polisi setempat," ungkap Fahmi.
"Bukankah ini mencerminkan kegagalan Pemilu Kota Depok sekaligus runtuhnya kewibawaan aparat negara juga penyelenggara pemilu. Anehnya polisi tidak mempidanakan jajaran KPUD Depok, “ Fahmi menegaskan.
Ia mendapatkan informasi bahwa kecurangan dan kekisruhan pileg 2014 di kota Depok ini dipicu oleh keterlibatan dan rekayasa sistematis elit politik nasional yang maju dari Dapil Depok-Bekasi yang terlalu jauh ikut campur juga mengkondisikan suara bagi bagi caleg-caleg ditingkat kota dan propinsi.
Fahmi mengelak diplomatis ketika didesak apakah elit politik tersebut dari internal atau luar PDIP.
"Kejahatan pemilu seperti korupsi pasti berjamaah , sekali terbongkar kotak pandora akan merembet hingga ke bandarnya. Kita perhatikan hasil perhitungan ulang ini adakah perbedaan signifikan antara keputusan era jahiliyah demokrasi beberapa minggu lalu dan setelah perhitungan ulang, juga penyidikan kasus pidana pemilu yang sudah dilaporkan ke Polres Depok oleh Panwaslu Depok," paparnya.
"Informasi yang saya dapat katanya intelkam Mabes juga sedang menyelidiki hal ini karena diduga melibatkan perlindungan oleh oknum aparat. Itu wewenang kepolisian. Kita berpikir positif saja Polri telah mereformasi diri," tandasnya
Fahmi menyayangkan KPU Pusat dan Bawaslu yang tidak peka dan tidak curiga atas carut-marutnya pileg kota Depok, dan cenderung mendiamkan kondisi yang memalukkan tersebut, padahal jaraknya Depok tidak jauh dari kota Jakarta.
Ditegaskan kembali, semestinya dari banyaknya kasus kecurangan Pileg 2014 yang terjadi di Indonesia.
KPU Pusat dan Bawaslu bisa menjadikan kota Depok sebagai random sampling investigasi mendalam atas kasus kecurangan pileg dari DPR RI, Propinsi hingga Kota.
Jika tidak pernah dibongkar, tegasnya, budaya ini akan terus melahirkan para bandit suara rakyat dan pelacur demokrasi, berimbas kualitas parlemen 2014 makin amburadul dibanding 2009.
Karena akan terbiasa merampok uang rakyat dan bolos pemalas ketika diparlemen sebagaimana perilaku sebelumnya merampok suara pemilih pileg 2014, dibanding bekerja keras turun ke dapil.
"Saya menyarankan Hadar Gumay mundur dari KPU Pusat karena nampaknya Bung Hadar lebih bermanfaat buat demokrasi ketika berani , peka dan kritis saat menjadi pejuang pemilu Jurdil di Cetro dibanding menjadi anggota KPU Pusat. Taruhan kecurangan pileg 2014 ini bukan caleg tapi Pilpres 9 Juli nanti. Waspadalah," pungkas Fahmi.
Hingga berita ini diturunkan belum ada tanggapan dari pihak KPUD Depok, Jawa Barat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/20140408_181732_distribusi-logistik-pemilu-ke-pulau-perbatasan.jpg)