Pemilu 2014

Sigma: Capreskan Sultan HB X, Tunjukkan Demokrat Galau Tingkat Tinggi

Said Salahuddin menilai wacana Sultan Hamengku Buwono X menjadi calon presiden (Capres) menunjukkan betapa tingginya kadar kegalauan Demokrat

Sigma: Capreskan Sultan HB X, Tunjukkan Demokrat Galau Tingkat Tinggi
tribunnews.com/ismanto
Sri Sultan Hamengkubuwono X


Tribunnews.com, JAKARTA-- Direktur Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (Sigma), Said Salahuddin menilai wacana Sultan Hamengku Buwono X menjadi calon presiden (Capres) menunjukkan betapa tingginya kadar kegalauan politik Partai Demokrat dalam menghadapi Pilpres 2014.

"Saya lihat Ketua Umum Demokrat, SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) ini sudah mulai linglung. Ini lantaran mereka mulai sadar bahwa Demokrat sedang di ambang kegagalan untuk mengusung Capres," ungkap Pengamat Politik dari Sigma ini ketika dihubungi Tribunnews.com, Jumat (16/5/2014).

Dia menilai, satu-satunya yang Demokrat bisa harapkan untuk menjadi penolong adalah Partai Golkar. Selain juga, menurut dia tujuan untuk mempengaruhi sikap Golkar untuk tidak berkoalisi dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) maupun Gerindra.

Karena itu, kata Said, diwacanakanlah Sri Sultan sebagai tokoh senior dari Partai Golkar untuk menjadi capres.

"Melalui strategi merayu ini SBY coba mempengaruhi psikologis Golkar. Dia ingin membuat Partai Golkar mikir. Daripada Golkar berkoalisi dengan PDI-P dan Gerindra tetapi tidak mendapatkan apa-apa, kan lebih baik berkoalisi dengan Demokrat mendapatkan posisi capres," jelasnya.

Kenapa Sri Sultan?

Mengapa harus Sri Sultan? Direktur Sigma ini menduga setidaknya ada tiga alasannya. Pertama, Gubernur DIY itu dipandang oleh SBY sebagai tokoh Golkar yang "gampang dijinakkan".

Bahkan, Sultan dianggap berbeda dengan kader-kader Golkar lainnya seperti Jusuf Kalla (JK), Akbar Tandjung, Aburizal Bakrie (Ical), Priyo Budi Santoso, serta dedengkot Golkar lainnya yang sulit "dipegang" oleh SBY. Karena mereka itu dikenal jago dalam urusan manuver politik.

Kedua, Sultan dianggap cukup "menjual" karena sejak Pemilu 2004, 2009, dan 2014 ini namanya selalu muncul dalam bursa capres. Elektabilitasnya memang tidak tinggi, tetapi boleh jadi itu dianggap oleh SBY karena selama ini Sultan tidak berusaha tampil dalam hiruk-pikuk pencapresan, sehingga namanya tenggelam oleh ARB, JK, dan Akbar. "Mungkin pikir SBY, akan beda halnya jika Sultan benar-benar dimajukan sebagai capres," tuturnya.

Ketiga, Sultan adalah pemimpin Jawa, sementara pemilih mayoritas adalah orang jawa. Faktor etnis seringkali berpengaruh kuat terhadap pemilih. Itu salah satu kelebihan Sultan.

"Tetapi di balik wacana pencapresan Sultan itu, saya lihat kemenangan tampaknya bukan menjadi target utama SBY. Dia sadar betul Jokowi dan Prabowo sulit tertandingi. SBY sepertinya hanya ingin menciptakan Pilpres dua putaran. Kalau Demokrat dan Golkar bersekutu mengusung poros baru, maka akan ada tiga pasangan calon," jelasnya.

Karena dengan tiga pasangan calon, maka suara pemilih cenderung akan menyebar dan bisa memecah suara Jokowi dan Prabowo. Akibatnya, Jokowi atau Prabowo sulit memenangkan Pilpres dalam satu putaran dengan memperoleh suara lebih dari 50 persen dengan minimal 20 persen suara di 17 provinsi. Inilah yang mungkin menjadi target SBY yang sesungguhnya.

"Apabila suara Jokowi dan Prabowo berbeda tipis pada putaran pertama, maka pada putaran kedua Demokrat dan Golkar bisa menawarkan dukungan kepada salah satu dari mereka dengan meminta imbalan jatah kursi menteri yang lebih banyak dari partai lain yang sudah lebih awal berkoalisi dengan Jokowi dan Prabowo," ucapnya.

Penulis: Srihandriatmo Malau
Editor: Gusti Sawabi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved