Penjual Gula Aren itu Pernah Kuliah di ITB, Mengharukan, Ternyata Ini Penyebab Dia Drop Out
Nahas tidak dapat ditolak, ibunya meninggal pada Februari itu juga. Nasib tidak berpihak pada Izhak, sang ayah juga meninggal
Ayah Izhak meninggal setelah menderita TBC kronis.
Saat ini, sehari-hari Izhak fokus untuk menjaga dan merawat adik-adiknya.
Adiknya berjumlah 9 orang, yang paling besar juga sudah kuliah sementara yang paling kecil baru berusia 19 bulan.
Jumlah adiknya yang bersekolah ada 6 orang mulai dari jenjang SMP hingga TK.
Tetangga Izhak banyak yang datang berkunjung dan memberi sedikit bantuan untuk keluarga itu.
Sementara untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Izhak dan adik-adiknya berjualan gula merah.
Gula merah itu dibuat dari getah pohon aren yang tumbuh di kebun milik keluarga Izhak dan diolah di bagian bawah rumah panggung tua itu.
Dalam lima hari, Izhak bisa menjual 20 bungkus gula aren dengan harga Rp6 ribu per bungkus.
Meski pendapatannya cukup kecil, hanya itu yang bisa dia lakukan.
Sebab, Izhak tidak mungkin pergi jauh ke kota untuk mencari pekerjaan karena adiknya yang paling kecil tidak mungkin dia tinggalkan.
Sejak kisahnya viral di media sosial, banyak sekali petugas dari dinas-dinas setempat yang datang untuk memberi bantuan.
Dari dinas sosial, Izhak mendapat bantuan program Harapan Keluarga yang membantu masalah ekonominya, dan bantuan KJP untuk adik-adiknya bersekolah.
Pihak ITB, bahkan wakil rektor ITB juga berkenan membantu jika Izhak ingin meneruskan kuliahnya di ITB, maupun memberi rekomendasi jika Izhak memilih berkuliah di tempat lain.
"Pak Hatta Rajasa juga menghubungi saya, beliau bilang akan membantu saya untuk kembali kuliah jika saya berkenan," kata Izhak.
Hatta Rajasa menawarkan pada Izhak beberapa opsi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/muhammad-izhak_20171221_230811.jpg)