Breaking News:

Kemendikbudristek: Kampus Merdeka untuk Akselerasi Pemulihan Ekonomi di Masa Pandemi

Dalam menghadapi disrupsi ini tidak boleh ada mata rantai yang putus antara perguruan tinggi dengan dunia kerja yang dinamis sekali perubahannya

Tribunnews.com/ Fahdi Fahlevi
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Plt Dirjen Dikti) Kemendikbud Nizam 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Fahdi Fahlevi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Nizam mengatakan mahasiswa perlu mempersiapkan diri dalam menghadapi revolusi industri dengan membekali kecakapan kompetensi yang adaptif, entrepreneurial, dan complex problem solver.

“Oleh karena itu perlu kecakapan lintas disiplin keilmuan, agar adik-adik tidak hanya mengetahui satu keilmuan secara sempit tetapi bisa berinteraksi lintas keilmuan untuk menghasilkan kreativitas inovasi baru," kata Nizam melalui keterangan tertulis, Jumat (30/4/2021).

Nizam mengatakan dengan keragaman budaya daerah dan kesenian yang ada di Indonesia merupakan suatu keunggulan yang dimiliki oleh DNA anak-anak bangsa.

Baca juga: Kronologi Pengungkapan Kampus Berizin Palsu oleh Kemendikbudristek dan Polda Metro Jaya

Menurutnya, ini terbukti ketika hal tersebut dikawinkan dengan penguasaan ilmu pengetahuan teknologi, yang lahir adalah raksasa-raksasa ekonomi baru.

"Enam dari sebelas unicorn dan decacorn yang ada di Asia Tenggara lahir dan besar di Indonesia.

Hal ini merupakan bukti bahwa kreativitas milenial Indonesia luar biasa dan hal tersebut harus diakselerasi dan diperkuat agar melahirkan para kreator baru," ujar Nizam.

Baca juga: Geger Penemuan Janin Membusuk di Hutan Kampus UHO, Ditutupi Jilbab Biru, Ini Kata Polisi

Perguruan tinggi, menurutnya, dalam menghadapi disrupsi ini tidak boleh ada mata rantai yang putus antara perguruan tinggi dengan dunia kerja yang dinamis sekali perubahannya.

Sehubungan dengan itu, menurut Nizam, kebijakan Kampus Merdeka memberikan kesempatan kepada seluruh mahasiswa untuk bisa mengambil mata kuliah fakultas lain sampai 20 SKS bagian dari 144 SKS wajib sarjananya dan kesempatan 40 SKS untuk belajar di kampus kehidupan.

"Pelajar Indonesia merupakan pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila," pungkas Nizam.

Baca juga topik tenggelamnya KRI Nanggala

Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Hendra Gunawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved