Tanoto Foundation Cetak Pemimpin Muda lewat Fellowship Program 2025
Tanoto Foundation luluskan fellows perdana dan kukuhkan angkatan baru 2025 untuk siapkan pemimpin muda di bidang pendidikan, kesehatan, & pembangunan.
Editor:
Content Writer
TRIBUNNEWS.COM - Indonesia masih menghadapi tantangan serius dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Berdasarkan laporan Human Capital Index (HCI) Bank Dunia tahun 2020, skor Indonesia hanya 0,54.
Artinya, seorang anak yang lahir di Indonesia saat ini diperkirakan hanya dapat mencapai 54 persen dari potensi produktivitasnya pada kondisi ideal. Angka ini jauh di bawah negara-negara lain di Asia. Sebagai perbandingan, Thailand mencatat skor 0,61?n Malaysia 0,62 persen.
Hal ini menandakan bahwa masih ada kesenjangan yang mendasar seperti kualitas pendidikan dasar yang belum merata, gizi anak yang masih rendah, serta keterbatasan sistem kesehatan yang berdampak pada perkembangan sumber daya manusia.
Bila terus dibiarkan, anak-anak Indonesia berisiko kehilangan potensi besar dalam hal keterampilan, kesehatan, dan produktivitas, yang pada akhirnya akan kesulitan mengejar bonus demografi dan berisiko tertinggal dalam persaingan global.
Pemerintah melalui Visi Indonesia Emas menargetkan peningkatan signifikan kualitas modal manusia agar pada 2045 tahun generasi muda Indonesia dapat bersaing setara dengan negara-negara berpendapatan tinggi.
Melalui agenda pembangunan jangka panjang yaitu, RPJPN 2025-2045, pemerintah menargetkan HCI Indonesia pada tahun 2045 mencapai angka 0,73.
Namun untuk mencapainya, dibutuhkan investasi jangka panjang dan strategi terobosan, bukan hanya di level kebijakan di tingkat makro, tetapi juga dalam mencetak aktor-aktor pembangunan muda yang dapat bekerja langsung di lapangan, menciptakan solusi, dan menggerakkan perubahan.
Berdasarkan hal ini, Tanoto Foundation, organisasi filantropi independen di bidang pendidikan yang didirikan oleh Sukanto Tanoto dan Tinah Bingei Tanoto pada tahun 1981, meluncurkan Tanoto Foundation Fellowship Program pada tahun 2024 lalu.
Program ini memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk dipersiapkan menjadi pemimpin perubahan di bidang pendidikan dan sektor pembangunan lainnya. Sembilan Tanoto Fellows (sebutan untuk penerima Tanoto Foundation Fellowship Program) terpilih dari ribuan pendaftar menjadi angkatan pertama.
Baca juga: Tanoto Foundation Bentuk Pemimpin Masa Depan Lewat Tanoto Scholars Gathering 2025
Pada Kamis 28 Agustus 2025, Tanoto Foundation meluluskan sembilan Tanoto Fellows angkatan perdana ini. Mereka telah menjalani perjalanan penuh selama satu tahun, terjun di berbagai program Tanoto Foundation seperti pengembangan dan pendidikan anak usia dini, peningkatan kemampuan literasi-numerasi siswa sekolah dasar dan menengah, serta peningkatan soft-skill di pendidikan tinggi di tiga daerah mitra Tanoto Foundation yaitu Sumatra Utara, Jawa Tengah, dan Kalimantan.
"Sejak orang tua saya mendirikan Tanoto Foundation pada 1981, kami telah berkembang dari membangun sekolah dasar di Besitang, Sumatra Utara, hingga mendampingi ratusan sekolah, dan mendorong perubahan system. Namun, kami melihat masih ada kekurangan talenta, yang punya misi, holistik dan mampu memimpin,” ujar Belinda Tanoto, Anggota Dewan Wali Amanat Tanoto Foundation.
Melalui Fellowship ini, kami ingin menumbuhkan generasi pemimpin baru yang tidak hanya memiliki kapabilitas, tetapi juga tujuan yang kuat, serta berkomitmen untuk memahami isu-isu akar rumput dan melayani komunitasnya,” lanjutnya.
Dari Papua hingga London
Di kesempatan yang sama, Tanoto Foundation juga mengukuhkan 10 orang Tanoto Fellows baru angkatan 2025 yang merupakan angkatan kedua yang telah terpilih dari lebih dari 1.300 pendaftar program.
Selama satu tahun penuh mereka akan terjun langsung ke dalam ekosistem pendidikan dan kesehatan di daerah mitra Tanoto Foundation, belajar dari praktik nyata, sekaligus merancang dan mengimplementasikan inisiatif pembangunan yang berdampak.
10 Tanoto Fellows angkatan 2025 berasal dari berbagai latar belakang pendidikan dan pengalaman yang inspiratif. Mereka adalah:
- Julia Rosemary Tapilatu, konservasionis laut asal Papua, pendiri OurConservaSea, lulusan Universitas Papua (S1) dan Texas A&M University (S2) yang aktif menggerakkan edukasi lingkungan di pesisir
- Ghefira Auliya Rabbani, lulusan S1 Universitas Riau yang telah memimpin berbagai program pengembangan pemuda, advokasi literasi, serta berpengalaman sebagai Penasihat Khusus untuk Akselerasi Inovasi di Kementerian Pemuda dan Olahraga
- Kevin Angdreas, peneliti ekonomi-politik internasional lulusan Asia Pacific University (S1) & London School of Economics (S2), dengan pengalaman bekerja bersama INDEF, CIPS, dan Foreign Policy Community of Indonesia
- Dinda Kayana Rizky, lulusan Universitas Brawijaya (S1&S2) yang berdedikasi pada pembangunan kota yang inklusif dan berkelanjutan, serta co-founder Urbanist Indonesia, sebuah yayasan yang mengadvokasi komunitas urban termarjinalkan melalui riset, advokasi, dan layanan publik
- Ansar Ahmad, alumnus S1 Universitas Indonesia dan Kepala Fundraising di Shantanu Indonesia, yang mengembangkan program pemberdayaan akar rumput di seluruh nusantara dan aktif memimpin upaya penggalangan dana dan advokasi bersama organisasi seperti Humanity First dan LBH Jakarta
- Arief Rahman Nur Fadhilah, konselor karier dan pelatih kepemimpinan yang merupakan lulusan Universitas Airlangga (S1&S2) dengan pengalaman dalam program pengembangan pemuda seperti Pena Bangsa dan pelatihan kepemimpinan Rumah Kepemimpinan
- Stephanie Dinda Iskandar, lulusan S1 Universitas Indonesia, pendiri dan CEO Green Neighbour Indonesia, sebuah koalisi yang menjembatani riset, kebijakan, dan aksi komunitas untuk mempercepat solusi iklim dan berpengalaman dalam riset kebijakan bersama Bappenas, DPR RI, dan lembaga think tank
- Jordi Hildianto, lulusan Sampoerna University & University of Arizona (S1 Double Degree) yang memiliki kepemimpinan yang kuat dalam advokasi pemuda dan kesehatan mental remaja dan berpengalaman dalam program seperti Helping Adolescents Thrive (HAT) dari UNICEF, serta Forum Generasi Berencana Indonesia dari BKKBN
- Salsabila Hardiyanti Warmanda, sarjana S1 Universitas Indonesia yang memiliki semangat besar terhadap pendidikan inklusif, kesehatan mental, dan dampak sosial dan aktif melalui inisiatif seperti Sekolah Sehat Jiwa serta Sadari Project
- Eka Hermansyah, lulusan Universitas Islam Internasional (S1&S2), profesional pendidikan yang berkomitmen pada kesetaraan hak anak, pendidikan, dan pembelajaran inklusif, yang telah berpengalaman bersama organisasi-organisasi pembangunan seperti SEAMEO CECCEP dan Save the Children.
Baca juga: Tanoto Foundation Paparkan Model Pengasuhan Anak Usia Dini Berbasis Komunitas di ARNEC 2025
Keberagaman Tanoto Fellows angkatan 2025 ini menunjukkan bahwa kepemimpinan pembangunan tidak terbatas pada satu bidang saja.
Dari konservasi laut, kebijakan pendidikan, hingga inklusi sosial, para fellow menghadirkan keahlian berbeda-beda yang relevan untuk menghadapi berbagai tantangan Indonesia di masa depan.
Belinda juga menekankan bahwa untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut, selain menggunakan sains dan teknologi untuk menciptakan dampak yang lebih besar, para fellow juga perlu membangun kualitas kepemimpinan yang utuh, yaitu rendah hati, memiliki visi dan tujuan yang jelas, dan memiliki empati untuk memahami perasaan orang lain serta melihat situasi dari sudut pandang mereka.
Tahun ini Tanoto Fellows akan ditempatkan di 4 provinsi daerah mitra Tanoto Foundation yaitu Sumatra Utara, Riau, Jawa Tengah, Dan Kalimantan Timur.
Legacy in Motion
Acara Tanoto Foundation Fellowship Program Graduation & Inauguration bertajuk “Legacy in Motion: Celebrating the Tanoto Foundation Fellowship Journey” yang dilakukan di Tanoto Foundation Impact Gallery, Jakarta turut dihadiri oleh para mitra pembangunan dan pemerintah.
Beberapa di antaranya adalah Kepala Badan Pusat Statistik, Amalia Adininggar Widyasanti, dan Presiden Direktur Amartha Foundation, Aria Widyanto, yang menjadi pembicara dalam salah satu sesi diskusi.
“Saya berharap Tanoto Fellows, baik yang lulus hari ini maupun yang baru bergabung, dapat selalu berpikir berdasarkan data dan fakta. Jangan terburu-buru menarik kesimpulan sebelum benar-benar menguji kebenarannya. Dengan membiasakan diri melakukan riset dan analisis, kita akan lebih mampu mengambil keputusan yang tepat. Karena itu, mari terus membangun kebiasaan untuk berpegang pada bukti dalam setiap program dan kebijakan yang kita jalankan,” sebut Amalia.
Sedangkan, Aria berpesan agar Tanoto Fellows untuk tidak lupa dengan tempat asal mereka atau desa-desa di Indonesia yang masih perlu dibangun.
“Sebagai contoh, salah satu fokus Amartha Foundation adalah pendidikan di desa. Sekolah memang ada, tetapi infrastruktur masih terbatas. Anak-anak yang kami dukung rata-rata adalah sarjana pertama di kampung mereka dan itu menjadi semangat untuk melahirkan changemaker yang kembali berkontribusi bagi desanya. Setuju dengan pesan Ibu Belinda, kita butuh lebih banyak anak berprestasi yang mau kembali untuk membangun desa,” ucap Aria.
Baca juga: Tanoto Foundation dan Gates Foundation Bekerja Sama Tingkatkan Kesehatan, Gizi, & Pendidikan di Asia
Model Pembelajaran Unik
Tanoto Foundation Fellowship Program mengusung metode experiential learning. Selama satu tahun penuh, Tanoto Fellows akan menjalani lima tahap pembelajaran, yaitu: orientasi (Induction), pengenalan ekosistem (Immersion), mendesain inisiatif, implementasi inisiatif, dan refleksi akhir.
Mereka juga akan mengikuti leadership camp dengan topik mulai dari manajemen proyek, monitoring dan evaluasi, keberlanjutan tata kelola, hingga investasi berdampak.
Selain itu, fellows juga akan mendapat pendampingan intensif melalui 1-on-1 coaching, mentoring dari ahli, serta ruang refleksi seperti journaling dan critical reflection. Model ini dirancang agar para peserta tidak hanya berkembang secara profesional, tetapi juga mengalami transformasi pribadi sebagai pemimpin.
Setelah lulus, para alumni akan tergabung dalam Tanoto Fellows Network, wadah pembelajaran sepanjang hayat sekaligus ruang kolaborasi antar alumni Tanoto Foundation Fellowship Program.
Dengan terus bertambahnya jumlah alumni, Tanoto Foundation berharap program ini menjadi model berkelanjutan yang menghasilkan pemimpin muda dengan kapasitas transformasi diri sekaligus daya ungkit sosial.
“Para fellow menunjukkan bahwa transformasi dimulai dari dalam diri, lalu meluas ke masyarakat. Ini adalah perjalanan untuk membentuk pemimpin yang rendah hati, tangguh, dan visioner. Tanoto Fellows adalah warisan yang terus bergerak dan hidup dalam setiap langkahnya,” tutup Belinda.
Veronica Tan: Bangun Generasi Tangguh Lewat Akal Budi dan Hati Nurani |
![]() |
---|
Tanoto Foundation Bentuk Pemimpin Masa Depan Lewat Tanoto Scholars Gathering 2025 |
![]() |
---|
Tanoto Foundation Paparkan Model Pengasuhan Anak Usia Dini Berbasis Komunitas di ARNEC 2025 |
![]() |
---|
Inovasi Doktor Termuda IPB Deteksi Kerusakan Lingkungan dengan Berbasis Sains dan Teknologi |
![]() |
---|
Tanoto Foundation Buka Program Beasiswa Kepemimpinan Teladan 2026: Syarat dan Tahapan Seleksinya |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.