Jumat, 1 Mei 2026

Kurikulum Merdeka

Kunci Jawaban PAI Kelas 8 Halaman 155 Kurikulum Merdeka Aktivitas 6 Simpulan

Kunci Jawaban PAI Kelas 8 Halaman 155 Kurikulum Merdeka, simpulan bacaan Kisah Rasulullah Mencoret Tujuh Kata dalam Perjanjian Hudaibiyah, Bab 6.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Nuryanti
Canva/Tribunnews.com
SOAL PAI KELAS 8 - Desain grafis soal buku PAI halaman 155 Kurikulum Merdeka dibuat dengan canva Senin (1/9/2025). Kunci Jawaban PAI Kelas 8 Halaman 155 Kurikulum Merdeka, simpulan bacaan Kisah Rasulullah Mencoret Tujuh Kata dalam Perjanjian Hudaibiyah, Bab 6. 

TRIBUNNEWS.COM - Bab 6 dalam buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti kelas VIII Kurikulum Merdeka, yang ditulis oleh Tatik Pudjiani dan Bagus Mustakim serta diterbitkan oleh Pusat Perbukuan Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kemendikbudristek tahun 2021, mengangkat tema “Inspirasi Al-Qur’an: Indahnya Beragama Secara Moderat.” 

Pada buku PAI kelas 8 halaman 155 kurikulum merdeka, siswa diajak untuk menyimpulkan pelajaran dari kisah Rasulullah SAW mencoret tujuh kata dalam Perjanjian Hudaibiyah, yakni sebuah peristiwa bersejarah yang sarat nilai toleransi, kebijaksanaan, dan moderasi dalam beragama.

Kisah ini terjadi pada tahun 628 M ketika Rasulullah SAW bersama sekitar 1.400 pengikutnya berangkat dari Madinah menuju Makkah untuk melaksanakan umrah. 

Namun, kaum Quraisy yang tidak menghendaki kehadiran kaum Muslimin menyiagakan pasukan untuk menghadang mereka. 

Demi menghindari konflik bersenjata, Rasulullah memilih jalur diplomasi dan menyepakati perjanjian damai yang dikenal sebagai Perjanjian Hudaibiyah. 

Dalam proses perundingan yang alot, beberapa klausul yang diajukan kaum Muslimin ditolak oleh pihak Quraisy, termasuk penulisan kalimat “Bismillahirrahmanirrahim” dan “Muhammad Rasulullah.” 

Kedua frasa tersebut diganti dengan “Bismika Allahumma” dan “Muhammad bin Abdullah,” yang berarti tujuh kata dihapus dari naskah perjanjian.

Meskipun penghapusan tersebut dianggap merugikan secara simbolis dan sempat menuai protes dari para sahabat, Rasulullah SAW tetap menerima keputusan itu dengan tenang. 

Bagi beliau, tercapainya perdamaian dan terhindarnya pertumpahan darah jauh lebih penting daripada mempertahankan simbol-simbol kehormatan. 

Sikap ini menjadi teladan nyata tentang bagaimana moderasi beragama dijalankan dalam praktik: mengedepankan maslahat, menghindari konflik, dan bersikap bijak dalam menghadapi perbedaan.

Aktivitas 6 pada buku PAI kelas 8 di halaman 155 kurikulum merdeka, mengajak siswa untuk merumuskan kesimpulan dari kisah tersebut. 

Baca juga: Kunci Jawaban PAI Kelas 8 Halaman 147 Kurikulum Merdeka Terjemahan QS Al-Baqarah Ayat 143

Kunci jawaban PAI kelas 8 halaman 155 kurikulum merdeka dalam artikel ini dapat digunakan sebagai referensi guru dan orang tua untuk kesimpulan bacaan Kisah Rasulullah Mencoret Tujuh Kata dalam Perjanjian Hudaibiyah.

Sebelum melihat kunci jawaban, siswa harus terlebih dahulu menjawabnya sendiri, setelah itu gunakan artikel ini untuk mengoreksi hasil pekerjaan siswa.

Kunci Jawaban PAI Kelas 8 Halaman 155 Kurikulum Merdeka

Aktivitas 6

Perhatikan catatan sejarah berikut. Diskusikan secara kelompok. Simpulan apa yang bisa kalian rumuskan? 

Simpulan Utama:

Rasulullah SAW menunjukkan sikap moderat, bijaksana, dan mengutamakan perdamaian dalam menghadapi konflik dengan kaum Quraisy. 

Meskipun harus mencoret tujuh kata penting yang menyangkut identitas Islam dan kenabiannya dalam naskah Perjanjian Hudaibiyah, beliau tetap menerima keputusan tersebut demi tercapainya kesepakatan damai dan menghindari pertumpahan darah. 

Sikap ini mencerminkan nilai-nilai Islam yang mengedepankan maslahat bersama, toleransi, dan kesediaan untuk berkompromi dalam hal-hal yang tidak prinsipil.

Nilai-nilai yang Terkandung:

Moderasi dalam beragama (wasathiyah): Tidak memaksakan kehendak, tetapi tetap menjaga prinsip dan tujuan utama dakwah.

Kebijaksanaan dalam diplomasi: Rasulullah memilih jalan damai meski harus mengalah secara simbolik.

Keteladanan dalam mengelola konflik: Menunjukkan bahwa kemenangan sejati bukan selalu melalui konfrontasi, tetapi melalui kesabaran dan strategi jangka panjang.

Pentingnya substansi dibanding simbol: Meskipun kata-kata penting dihapus, semangat perdamaian tetap terjaga.

Relevansi bagi siswa:

Kisah ini mengajarkan bahwa menjadi moderat bukan berarti lemah, melainkan mampu berpikir jernih, bersikap adil, dan mengutamakan kebaikan bersama. 

Dalam kehidupan sehari-hari, sikap seperti ini penting dalam menghadapi perbedaan pendapat, menyelesaikan konflik, dan membangun hubungan sosial yang harmonis.

(Tribunnews.com/M Alvian Fakka)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved