Kurikulum Merdeka
Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 5 Halaman 130, Latihan: Huruf Kapital
Berikut kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 5 halaman 130 Kurikulum Merdeka, Latihan tentang huruf kapital.
TRIBUNNEWS.COM - Materi pembelajaran Bahasa Indonesia kelas 5 Kurikulum Merdeka Bab VI adalah Cinta Indonesia.
Pada bab ini, murid akan belajar menjadi pribadi yang cinta tanah air melalui pengenalan sejarah lewat wisata ke museum/bangunan bersejarah, mengenal simbol, petunjuk, dan informasi di lokasi wisata, serta menerima dan membuat informasi lewat pengumuman.
Unsur kebahasaan yang akan dipelajari murid pada bab ini adalah huruf kapital, kalimat perintah, menulis angka dan bilangan, membaca tatap/memindai (scanning), dan menulis pengumuman.
Huruf kapital adalah huruf besar yang digunakan dalam penulisan untuk menandai hal-hal tertentu agar teks mudah dipahami dan sesuai dengan kaidah bahasa.
Contoh huruf kapital: A, B, C, D, dan seterusnya.
Sebagai latihan, pada soal Bahasa Indonesia kelas 5 halaman 130 Kurikulum Merdeka, siswa diminta untuk menuliskan paragraf menggunakan huruf kapital yang tepat.
Soal itu terdapat pada Buku Bahasa Indonesia Bergerak Bersama untuk SD Kelas V yang ditulis oleh Evy Verawaty dan Zulqarnain terbitan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) cetakan pertama tahun 2021.
Untuk membantu memahami materi dengan lebih baik, Tribunnews.com menghadirkan kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 5 halaman 130 Kurikulum Merdeka.
Simak kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 5 halaman 130 Kurikulum Merdeka di bawah ini.
Latihan
Bacalah tiga paragraf singkat tentang sejarah Museum Ambarawa berikut ini.
Salinlah kembali paragraf ini dalam buku kalian dengan penggunaan huruf kapital yang tepat.
Jawaban:
1. Museum Kereta Api Indonesia awalnya adalah sebuah stasiun yang bernama Stasiun Willem I. Stasiun ini diresmikan pada tanggal 21 Mei 1873 bersamaan dengan dibukanya perlintasan kereta api di jalur Kedungjati-Ambarawa. Museum ini terletak di Kota Ambarawa, Jawa Tengah.
2. Pada awal pengoperasiannya, Stasiun Willem I digunakan sebagai sarana pengangkutan komoditas ekspor dan transportasi militer di sekitar Jawa Tengah. Setelah dinonaktifkan tahun 1976, Stasiun Ambarawa dicanangkan sebagai Museum Kereta Api oleh Gubernur Jawa Tengah pada saat itu, Supardjo Rustam. Rencana ini bertujuan untuk menyelamatkan tinggalan lokomotif uap serta sebagai salah satu daya tarik wisata di Jawa Tengah. Stasiun Ambarawa dipilih karena Ambarawa memiliki latar belakang historis yang kuat dalam perjuangan kemerdekaan yakni Pertempuran Ambarawa. Selain itu, Stasiun Ambarawa pada saat itu masih menyimpan teknologi kuno yang masih bisa dioperasikan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/SISWA-SD-BELAJAR-4.jpg)