Jumat, 8 Mei 2026

UPH Luluskan 4.000 Wisudawan dan Beri Gelar Doktor Honoris Causa bagi Pelopor Pendidikan Papua

UPH lantik 4.469 lulusan dan anugerahkan Doktor Honoris Causa kepada Wallace Wiley atas dedikasinya memajukan pendidikan di pedalaman Papua.

Tayang:
Istimewa
WISUDA UPH - Sebanyak 4.469 wisudawan Universitas Pelita Harapan (UPH) mengikuti prosesi wisuda Semester Ganjil TA 2025/2026 di Auditorium Grand Chapel, Karawaci, Tangerang, pada 7-8 Mei 2026. Mengangkat tema 'For I Know to Whom I Have Believed', wisuda ini menjadi momentum pengutusan lulusan yang berintegritas untuk membawa dampak positif bagi masyarakat. 

TRIBUNNEWS.COM - Universitas Pelita Harapan (UPH) terus menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan berkualitas yang melahirkan lulusan unggul, adaptif, dan siap memberi dampak bagi masyarakat. 

Pada Wisuda Semester Ganjil Tahun Akademik 2025/2026 yang diselenggarakan pada 7-8 Mei 2026 di Auditorium Grand Chapel, Kampus Utama UPH Lippo Village, Karawaci, Tangerang, sebanyak 4.469 wisudawan resmi dilantik. 

Para lulusan berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari Program Doktor, Magister, Sarjana, hingga Diploma Tiga, sebagai generasi sumber daya manusia yang dipersiapkan untuk memasuki dunia profesional dengan kompetensi dan karakter yang kuat. 

Mengusung tema ‘For I Know to Whom I Have Believed’, prosesi wisuda tahun ini menegaskan bahwa keberhasilan tidak hanya diukur melalui capaian akademik, tetapi juga melalui pembentukan iman, integritas, dan ketangguhan dalam menghadapi perubahan zaman. 

Dalam sambutannya, Rektor UPH, Dr. (Hon.) Jonathan L. Parapak, M.Eng.Sc., menyampaikan rasa syukurnya atas keberhasilan para mahasiswa yang telah menyelesaikan studi hingga diwisuda. Ia menegaskan, bahwa pendidikan di UPH tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga mempersiapkan lulusan untuk membawa dampak positif bagi masyarakat. 

“Kami sungguh mengucap syukur kepada Allah atas seluruh pencapaian mahasiswa. Hari ini kami mengutus saudara-saudara untuk menjadi pemimpin dan membawa berkat di tengah masyarakat,” ucapnya. 

Pesan disampaikan oleh Dr. (H.C.) James T. Riady, Pendiri Yayasan Pendidikan Pelita Harapan (YPPH), mengenai arti kesuksesan, tujuan hidup, dan tantangan generasi masa kini. Ia mengingatkan bahwa setelah menerima gelar akademik, para lulusan akan memasuki dunia yang penuh ambisi dan tuntutan pencapaian. 

Mengaitkannya dengan pesan Rasul Paulus tentang iman dan makna hidup, Dr. James menegaskan bahwa kehidupan tidak cukup dibangun hanya di atas intelektualitas dan pengetahuan, tetapi juga membutuhkan keyakinan yang kokoh terhadap kebenaran yang diyakini. 

Dr. James juga menyoroti tantangan generasi muda di tengah perkembangan teknologi dan revolusi industri. Menurutnya, meski generasi saat ini semakin maju secara teknologi, banyak yang rentan menghadapi kebingungan secara spiritual. 

Karena itu, ia mendorong wisudawan untuk merespons perkembangan artificial intelligence (AI) secara bijak, seraya mengingatkan bahwa teknologi tidak dapat menggantikan hikmat dan karakter manusia. 

“Saya berharap kalian membawa pulang dua hal ini, yaitu keyakinan yang kokoh dan kemampuan berpikir kritis. Sebab tanpa itu, kalian dapat dengan mudah dibentuk bukan oleh kebenaran. Jadilah pribadi yang mau berkontribusi dan memimpin, karena kesuksesan sejati adalah ketika seseorang mampu memberi dampak nyata bagi masyarakat,” pesan Dr. James. 

Turut hadir Dr. Henri Togar Hasiholan Tambunan, S.E., M.A., Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah III yang menyampaikan pesan inspiratif kepada para wisudawan. Dalam sambutannya, ia menjelaskan bahwa arah kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdiktisaintek RI) saat ini berfokus pada “Diktisaintek Berdampak”. Oleh karena itu, riset, inovasi, dan lulusan perguruan tinggi diharapkan mampu menghadirkan solusi nyata bagi tantangan zaman. 

Ia juga menilai bahwa pendidikan di UPH tidak hanya berfokus pada transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter yang berlandaskan iman dan integritas. Menurutnya, wisuda menjadi awal bagi para lulusan untuk terus berkarya dan menjadi agen perubahan yang membawa dampak positif bagi masyarakat. 

“Gunakanlah ilmu yang kalian dapatkan untuk membangun sesama. Dunia di luar sana sedang menunggu kontribusi nyata kalian. Kecerdasan buatan dan otomatisasi mungkin mengubah cara kita bekerja, tetapi kreativitas, empati, dan kepemimpinan yang berintegritas tidak akan pernah bisa digantikan oleh mesin. Selamat melangkah, selamat berkarya, dan teruslah menjadi terang di mana pun Anda berada,” ujarnya. 

Baca juga: UPH Gelar Media Gathering 2026: Rayakan Semangat Kebersyukuran, Perkuat Kolaborasi Siap Berdampak

Honoris Causa bagi Pelopor Pendidikan di Papua 

Momentum wisuda kali ini juga menjadi istimewa dengan penganugerahan gelar akademik kehormatan Doktor Honoris Causa (H.C.) di bidang manajemen kepada Wallace Wiley atau yang akrab disapa Wally, atas dedikasinya dalam memajukan pendidikan di pedalaman Papua. Selama hampir lima dekade tinggal di Kabupaten Jayapura, pria berusia 78 tahun ini mengabdikan hidupnya untuk membuka akses pendidikan bagi anak-anak Papua. 

Berawal dari pengalamannya di dunia penerbangan perintis melalui Mission Aviation Fellowship (MAF), Dr. Wally terdorong mendirikan sekolah setelah menyadari minimnya tenaga lokal asli Papua di bidang aviasi. 

Pada 2019, pria kelahiran negara bagian Washington di Amerika Serikat ini bahkan memilih menjadi warga negara Indonesia (WNI) sebagai bentuk komitmen terhadap pelayanan pendidikan di Papua. Hingga kini, lebih dari 17 sekolah dari jenjang TK hingga SMA telah berdiri sebagai buah pengabdiannya. 

Penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa kepada Dr. Wally diberikan secara langsung oleh Rektor UPH, bersama dengan Dr. Stephanie Riady, B.A., M.Ed., Presiden UPH sekaligus Direktur Eksekutif Pelita Harapan Group (PHG). 

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Stephanie membacakan naskah penghormatan akademik yang menjelaskan alasan dan pertimbangan UPH dalam menganugerahkan gelar kehormatan tersebut kepada Dr. Wally. 

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Stephanie mengatakan bahwa perjalanan hidup Dr. Wally menjadi contoh nyata bahwa manajemen bukan hanya tentang mengelola organisasi, tetapi juga tentang melayani dan membawa dampak bagi sesama. 

Dr. Stephanie menyampaikan, melalui dedikasi dan pelayanannya, Dr. Wally berhasil menggerakkan berbagai sumber daya, mulai dari tenaga manusia, dukungan finansial, hingga jaringan internasional, untuk memperluas akses pendidikan di Papua, termasuk di daerah terpencil. Upaya tersebut juga menghadirkan harapan baru bagi banyak generasi muda Papua. 

“Hidup Anda adalah contoh nyata bahwa kepemimpinan yang lahir dari panggilan dan iman mampu membawa perubahan, bahkan di situasi yang paling sulit. Kiranya perjalanan hidup Anda terus menginspirasi kita untuk memimpin dengan berani, melayani dengan rendah hati, dan menggunakan setiap kepercayaan yang diberikan bagi kemuliaan Tuhan,” ucap Dr. Stephanie. 

Dalam orasinya, Dr. Wally membagikan perjalanan hidupnya yang tumbuh di keluarga misionaris di Meksiko. Panggilan ayahnya sebagai misionaris membentuk arah hidup sekaligus iman keluarganya. Saat dewasa dan menempuh pendidikan di Amerika Serikat, ia sempat mengejar hal-hal yang kerap dianggap sebagai ukuran kesuksesan dunia, seperti kekayaan, ketenaran, kuasa, dan kesenangan. Namun, pengalaman tersebut justru membawanya menyadari bahwa damai sejahtera sejati terlihat melalui kehidupan sederhana sang ayah. 

Berawal dari keterampilan konstruksi yang dimilikinya, perjalanan hidup Dr. Wally berkembang hingga akhirnya melayani di bidang pendidikan dan kesehatan di Papua. Ia percaya seluruh perjalanan tersebut terjadi bukan karena rencana pribadinya, melainkan karena penyertaan Tuhan dalam setiap langkah hidupnya. 

Bagi Dr. Wally, seluruh perjalanan hidupnya merupakan wujud kasih karunia Tuhan. Karena itu, ia menegaskan bahwa gelar kehormatan yang diterimanya bukanlah tentang pencapaian pribadi, melainkan karya Tuhan melalui orang-orang yang hadir dalam perjalanannya. Di akhir pesannya, ia mengajak para wisudawan menggunakan pendidikan, talenta, dan kesempatan yang dimiliki untuk melayani sesama. 

“Saya sangat merasa terhormat menerima penghargaan ini dari UPH. Namun, ini bukan tentang apa yang telah saya lakukan, melainkan tentang kasih karunia Tuhan dan orang-orang yang Tuhan hadirkan dalam perjalanan hidup saya. Ketika Tuhan bertanya, ‘Apa yang kamu miliki?’ Apa pun itu baik pendidikan, kemampuan, maupun kesempatan, serahkanlah semuanya kepada-Nya dan biarkan Tuhan yang memimpin langkah kita,” ujarnya. 

Baca juga: UPH Luncurkan Program Spesialis Bedah Saraf, Cetak Dokter Inovatif di Bidang Neuro-Onkologi

Lulusan dari Berbagai Profesi dan Latar Belakang Warnai Wisuda UPH 

Wisuda UPH tahun ini juga mencerminkan keberagaman latar belakang para lulusannya, mulai dari f igur publik hingga keluarga tokoh nasional. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa pendidikan tinggi menjadi ruang pembelajaran yang terbuka bagi siapa saja untuk terus bertumbuh dan mengembangkan diri. 

Salah satunya adalah Mawar Eva de Jongh, S.I.Kom., Figur Publik Indonesia yang lulus dari Program Studi Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) Ilmu Komunikasi UPH. Di tengah padatnya aktivitas di industri hiburan, Mawar tetap menjalani proses perkuliahan dengan komitmen dan disiplin dalam mengatur waktu. 

Perjalanan akademiknya menjadi inspirasi bahwa semangat belajar dapat berjalan selaras dengan karier profesional, sekaligus menegaskan bahwa pendidikan tetap menjadi fondasi penting bagi pengembangan diri. 

Keputusan Mawar untuk melanjutkan studi melalui sistem PJJ berangkat dari kesibukannya di dunia hiburan. Ia mengaku sejak awal mencari program perkuliahan yang fleksibel, tetapi tetap berkualitas. Ketertarikannya pada Ilmu Komunikasi juga bukan tanpa alasan. 

Ia melihat bidang tersebut relevan dengan kehidupan sehari-hari sekaligus mendukung perjalanan kariernya sebagai figur publik. Mawar juga mengapresiasi sistem pembelajaran daring yang dinilai sangat mendukung proses studinya di tengah jadwal kerja yang dinamis. 

“Selama belajar di UPH, saya bukan hanya belajar Ilmu Komunikasi lebih dalam, tapi juga merasa berkembang secara personal dan rohani. Saya sangat bersyukur bisa belajar di UPH. Hopefully saya bisa terus memberikan impact yang baik bagi banyak orang lewat karya dan ilmu yang saya miliki. Untuk teman-teman yang sedang belajar atau yang juga berada di industri hiburan, jangan menyerah. Tetap semangat, tentukan tujuan kalian, dan percaya bahwa kalian pasti bisa,” ucap Mawar. 

Keberagaman lulusan tersebut juga terlihat dari hadirnya anggota Kepolisian Republik Indonesia (Polri) yang menyelesaikan pendidikan di UPH. Kelulusan para anggota Polri tersebut dapat terjalin berkat kolaborasi antara UPH dan Polri. 

Selain itu, turut dilantik Evy Harjono, S.H., lulusan Prodi Hukum S1 Kelas Karyawan UPH. Evy merupakan istri dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI periode 2011–2014, Dr. Amir Syamsudin, S.H., M.H. Kehadirannya menjadi bukti bahwa semangat belajar tidak mengenal usia maupun latar belakang, serta menunjukkan komitmen untuk terus mengembangkan diri melalui pendidikan tinggi. 

Baca juga: UPH Kolaborasi dengan Warga Bencongan Indah Tangerang Sulap Sampah Plastik Jadi Paving Block

Lulusan Unggul: Berprestasi Secara Akademik dan Berkembang Secara Personal 

Perjalanan para lulusan UPH mencerminkan keseimbangan antara pencapaian akademik dan pengembangan diri. Selain meraih prestasi akademik, mahasiswa juga dibentuk melalui berbagai pengalaman yang mengasah karakter, kepemimpinan, serta keterlibatan aktif dalam kegiatan kampus, termasuk melalui Student Engagement Program (SEP) Poin. 

Melalui berbagai pengalaman tersebut, mahasiswa dipersiapkan tidak hanya dengan kompetensi akademik, tetapi juga kesiapan profesional dan sosial yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. 

Sebagai bentuk apresiasi, UPH memberikan penghargaan kepada lulusan berprestasi, baik dari sisi akademik maupun non-akademik. Penerima penghargaan pada wisuda kali ini antara lain: 

1. Dr. Donny Setiawan, S.H., M.H. – Peraih IPK Tertinggi Program Doktor (Lulusan Doktor Hukum, Magna Cum Laude, 3.94) 

2. Alexander Panggabean, M.Kom. – Peraih IPK Tertinggi Program Magister (Lulusan Magister Informatika, Summa Cum Laude, 4.00) 

3. Gabriel Alvaro, M.Kom. – Peraih IPK Tertinggi Program Magister (Lulusan Magister Informatika, Summa Cum Laude, 4.00) 

4. dr. Debora Semeia Takaliuang, Sp.Rad. – Peraih IPK Tertinggi Program Pendidikan Dokter Spesialis (Lulusan Program Spesiali Radiologi, Sangat Memuaskan, 3.75) 

5. Lisa, S.Ak. – Peraih IPK Tertinggi Program Sarjana (Lulusan Akuntansi, Summa Cum Laude, 3.97) 

6. Louise Shania Sabela, S.H. – (Lulusan Program Sarjana Hukum, Peraih SEP Poin Tertinggi dengan 21.895 poin) 

Wisuda UPH tahun ini menjadi refleksi bahwa pendidikan tinggi membuka ruang bagi siapa saja, baik masyarakat umum, tokoh nasional, maupun aparatur negara, untuk terus bertumbuh, belajar, dan memberi dampak nyata bagi bangsa. 

Melalui prosesi wisuda ini, UPH menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar pencapaian akademik, tetapi juga proses pembentukan karakter dan arah hidup. Dengan pendekatan pendidikan holistis, UPH mempersiapkan lulusannya untuk menjadi pemimpin masa depan berkualitas unggul yang takut akan Tuhan dan berdampak bagi bangsa. 

Baca juga: Pelopori Dialog Lintas Sektor soal Performing Rights, UPH Dorong Ekosistem Musik yang Lebih Adil

Admin: Sponsored Content
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved