Kamis, 21 Mei 2026

Pilkada Serentak 2020

Pilkada Serentak Momentum Menerapkan Kembali Pancasila

pilkada serentak yang digelar di tengah pandemi Covid-19 justru dapat menjadi momentum untuk kembali menerapkan Pancasila yang mulai jarang

Tayang:
Editor: Johnson Simanjuntak
Tribunnews.com/Chaerul Umam
Ketua Komisi II DPR fraksi Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia 

Berkaca pada pilkada dan pilpres terdahulu yang cenderung memanas dengan tema SARA, Romo Benny menyinggung pentingnya etika dan kepatuhan bersama dari tim pemenang masing-masing bakal calon kepala daerah untuk tidak menyulut konflik.

Namun penting pula adanya tindakan tegas dari Bawaslu, KPU, dan pihak kepolisian ketika ada pihak yang mulai menggunakan kampanye SARA. Peranan media sosial serta media massa juga dinilai penting dengan tidak fokus membahas tema SARA, melainkan bagaimana mengamalkan nilai Pancasila yaitu persatuan dalam pilkada. 

"Yang penting dari pilkada adalah kebersamaan. Meskipun kompetisinya itu keras, penuh argumentatif tapi tidak lagi menggunakan yang namanya kebencian, SARA, menyangkut karakter seseorang, tetapi adu gagasan kemudian meyakinkan publik kepada sesuatu yang punya nilai. Jadi sekarang ini momentumnya Pancasila itu betul-betul menjadi aplikasi dalam hidup nyata," jelasnya. 

Di sisi lain, Doli menuturkan masyarakat dimudahkan untuk menyeleksi bakal calon kepala daerah dengan kondisi pandemi Covid-19. Pasalnya kondisi ini membuat mereka akan fokus kepada satu tema yakni pandemi itu sendiri. 

Selain itu, ketika ada pihak yang berusaha memainkan isu seperti SARA maka akan mudah dipetakan, diketahui dan dilacak. Apalagi saat ini semua pihak berkomunikasi secara daring, dimana kemungkinan besar kampanye pun akan dilakukan secara daring. 

"Saya kira tim sukses atau tim pemenang pasangan calon juga nggak berani menggunakan tema-tema sensitif seperti itu. Jadi sekarang kalo nggak masyarakat, si pasangan calon atau timnya, berarti yang fasilitatornya yang membuat ini (isu SARA). Nah tadi KPU, Bawaslu, dan juga aparat penegak hukum juga harus bekerja dan kayaknya pekerjaannya lebih sederhana sekarang. Karena sudah ketahuan kalau nggak masyarakat, si pasangan calon, berarti si medianya (yang bermain isu SARA)," kata Doli. 

Oleh karenanya, politikus Golkar tersebut menghimbau kepada kawan-kawan media, penggiat media sosial, hingga media online untuk mengisi narasi dengan tema persatuan dan nilai Pancasila jika ingin membangun kembali tatanan baru. 

Staf Khusus Dewan Pengarah BPIP Romo Benny Susetyo, saat ditemui Tribunnews, usai menghadiri Dialog Tanya Jawab yang digelar di Kantor BPIP, Jalan Veteran III, Jakarta Pusat, Selasa (3/9/2019).
Staf Khusus Dewan Pengarah BPIP Romo Benny Susetyo, saat ditemui Tribunnews, usai menghadiri Dialog Tanya Jawab yang digelar di Kantor BPIP, Jalan Veteran III, Jakarta Pusat, Selasa (3/9/2019). (Fitri Wulandari/Tribunnews.com)

"Inilah momentum kita mengisi narasi dalam penyampaian di media sosial, di media online, dengan tema-tema persatuan, nilai-nilai Pancasila yang saya kira ini ditunggu sekarang oleh masyarakat kita. Karena kita membutuhkan persatuan untuk melawan pandemi Covid-19 ini keluar dari krisis," kata Doli. 

Romo Benny juga menegaskan pentingnya agar komunitas media menggiring agenda pilkada ini kepada narasi persatuan melawan pandemi Covid-19. Dengan begitu, isu SARA hingga hoaks pun dapat diminimalisir. 

Meski memang dia meyakini pasti ada upaya dari oknum-oknum tertentu untuk memperkeruh suasana. Namun hal itu akan mudah diidentifikasi karena tema yang diangkat di pilkada seragam terkait persatuan menghadapi pandemi. 

"Yang penting adalah agar komunitas media itu menggiring kepada agenda setting kepada pentingnya sekarang kita bersatu melawan covid ini. Jadi kalau semua media itu fokus dan agendanya jelas, ya isu (SARA) ini kesempatannya kecil, atau ruang mereka berekspresi. Itu berarti media jangan menggoreng isu SARA itu," kata Romo Benny.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved