Pilpres 2019

Rayakan Capaian 80 Juta Suara Real Count Internal, TKN Jokowi-Ma'ruf: Pertandingan Sudah Selesai

Riuh tepuk tangan dan ucapan selamat terus terdengar saat Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Maruf Amin merayakan pencapaian 80 juta suara

Rayakan Capaian 80 Juta Suara Real Count Internal, TKN Jokowi-Ma'ruf: Pertandingan Sudah Selesai
Tribunnews.com/ Fransiskus Adhiyuda
Riuh tepuk tangan dan ucapan selamat terus terdengar saat Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Maruf Amin merayakan pencapaian 80 juta suara di Pilpres 2019. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fransiskus Adhiyuda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Riuh tepuk tangan dan ucapan selamat terus terdengar saat Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Maruf Amin merayakan pencapaian 80 juta suara dalam Pilpres 2019.

Angka 80 juta itu didapat dari hasil rekapitulasi internal TKN dengan cara pengumpulan data real count formulir C1 seluruh Indonesia.

Wakil Direktur Saksi TKN Jokowi-Maruf Lukman Edy mengatakan, perolehan 80 juta suara merupakan angka kemenangan psikologis atau telah mencapai 50 persen plus 1 suara dari partisipasi pemilih.

Merujuk data dari Komisi Pemilihan Umum (KPU), bahwa angka partisipasi pemilih mencapai 155 juta suara atau 81 persen.

Baca: Prabowo: Pernyataan Hendropriyono Rasis

"Kalau sudah 80 juta, artinya pertandingan sudah selesai. Sisanya itu formalitas aja," kata Lukman di War Room TKN di Kantor Highend, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Rabu (8/5/2019).

Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tersebut mengatakan, walaupun sisa suara seluruhnya menjadi milik pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, tidak akan mempengaruhi hasil akhir.
Sebab, Jokowi-Ma'ruf tetap memenangkan kontestasi Pilpres.

Sementara itu, Ketua TKN Jokowi-Ma'ruf Erick Thohir menjelaskan, ekspose perolehan 80 juta suara dilakukan bukan dimaksudkan untuk marekan data TKN.

Namun, Erick menjelaskan ekspose perhitungan dilakukan untuk memperlihatkan transparansi yang dilakukan tim pemenangan 01.

Baca: Debat Panas Soal Kematian Ratusan Anggota KPPS, Haris Azhar : Kenapa Negara Cuma Bayar RP 500 Ribu

"Ini lah yang harus kita jaga. Kami tidak mungkin memulai sesuatu yang besar itu dari kecurangan," jelas Erick.

Halaman
1234
Penulis: Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor: Adi Suhendi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved