Ramadan 2019

Mutiara Ramadan: Kekuatan Bahasa Agama

Oleh mereka yang beriman, sapaan Tuhan diyakini dan dihayati sebagai curahan kasih sayang, jalan keselamatan, serta ikatan janji yang harus dipenuhi.

Mutiara Ramadan: Kekuatan Bahasa Agama
TRIBUN MEDAN/Riski Cahyadi
Santri Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah membaca AlQuran ketika melaksanakan tadarus massal pada Ramadan 1439 H, di Medan, Sumatera Utara, Senin (21/5/2018). Kegiatan yang diikuti sedikitnya 2.500 santri tersebut, merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan pada bulan Ramadan.TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI 

Misalnya, secara sosiologis dan psikologis akan memperkukuh hubungan emosional antaranggota jemaah.

Keduanya, pembacaan ayat-ayat kitab suci itu, akan melahirkan daya mantra.

Maksudnya mampu membangkitkan emosi, imajinasi, dan intuisi tentang kehadiran Tuhan dalam diri dan jemaah.

Oleh karena itu, signifikansi dari upacara tahlilan dan doa-doa bersama tidak harus terletak pada pemahamannya, tetapi juga pada aspek pemeliharaan komitmen moral dan loyalitas kelompok.

Santri Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah membaca AlQuran ketika melaksanakan tadarus massal pada Ramadan 1439 H, di Medan, Sumatera Utara, Senin (21/5/2018). Kegiatan yang diikuti sedikitnya 2.500 santri tersebut, merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan pada bulan Ramadan.TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI
Santri Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah membaca AlQuran ketika melaksanakan tadarus massal pada Ramadan 1439 H, di Medan, Sumatera Utara, Senin (21/5/2018). Kegiatan yang diikuti sedikitnya 2.500 santri tersebut, merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan pada bulan Ramadan.TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI (TRIBUN MEDAN/Riski Cahyadi)

Akan jauh lebih efektif lagi jika religious gathering itu diiringi musik mistikal serta pembahasan terhadap pesan tauhid dan moral yang dikandungnya.

Bagi umat beragama yang masuk dalam kategori "ahlul kitab", teks kitab suci dan berbagai penafsirannya dihayati sebagai suatu mata air pencerahan Ilahi, yang kemudian oleh umatnya ditampung dalam sebuah bendungan dalam bentuk etika sosial dan tata cara ritual, yang dihidupkan secara terus-menerus oleh komunitasnya melalui salat jamaah, pengajian.

Jadi konsep masjid dan rumah ibadah lainnya bukan terletak pada bangunan fisiknya, melainkan pada setting psikologis-teologis dan mistikal dari para anggota jamaahnya.

Itulah sebabnya di berbagai kantor atau hotel, ketika waktu salat Jumat tiba seketika itu juga dimunculkan masjid.

Ilustrasi
Ilustrasi (google.com)

Bagi orang yang beriman, sebutan "Tuhan" dalam teks kitab suci bukan sekadar bunyi dari deretan huruf dan bukan pula objek analisis spekulatif sebagaimana dalam tradisi filsafat.

Pucuk Gunung Es

Halaman
123
Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved