Ramadan 2019

Rasa Lapar Selama Ramadan Adalah Istirahat Untuk Urusan Duniawi

Ungkapan simbolik dari para sufi harus menjadi muara ketaatan dalam segala hal. Seperti pernyataan Abul Abbas Qashshab:

Rasa Lapar Selama Ramadan Adalah Istirahat Untuk Urusan Duniawi
Surya/Ahmad Zaimul Haq
Anak-anak panti asuhan memilih baju untuk Lebaran saat acara Indahnya Berkah Ramadan yang merupakan program CSR tahunan dari Pasar Atom dan Pasar Atom Mall di Kota Surabaya, Senin (27/5/2019). Sebanyak 250 anak dari empat panti asuhan di Surabaya diundang ke Pasar Atom dan Pasar Atom Mall untuk bermain dan berbelanja baju Lebaran secara gratis. Surya/Ahmad Zaimul Haq 

TRIBUNNEWS.COM - Ada satu ungkapan menarik dari hadis qudsi, “Berlapar-laparlah, maka kau akan melihat-Ku, bersikap wirai-lah, niscaya kau akan mengernal-Ku; dan berlepas dirilah (dari dunia), maka kau akan sampai kepada-Ku.”

 Lapar menjadi perisai orang-orang yang zuhud dan qanaah. Karena di dalam lapar, mereka mengistirahatkan sejenak persoalan duniawi yang pembukanya adalah kenyang. Setelah kenyang, maka tersingkaplah satu per satu nafsu manusia.

Melalui kenyang keinginan untuk menggasak satu sama lain semakin potensial. Tubuh mulai tak enak, hati pun bergejolak, sementara sirr-nya yang seharusnya menjadi tempat penyimpanan khazanah Ilahiah kini menjelma serigala buas angkara murka. Tertutup dari segala kebaikan.

Dalam Kasyful Mahjub[1] (Penyingkapan Tirai), juz II (dua), al-Hujwiri menjadikan tema puasa dan lapar dalam satu rangkaian.

Pembahasannya dimulai dari puasa, lalu lapar dan semua yang berhubungan dengannya. Namun dalam kajian ini, penulis memilih untuk mengkaji terma lapar terlebih dahulu, baik secara lahiriah maupun lapar sebagai makna simbolik.

Meski keduanya tidak berlaku sebagai oposisi biner, namun adanya yang satu menyebabkan keberadaan lainnya. Tentunya kajian ini tidak berhenti pada konsepsi lapar dan puasa seperti sejak digaungkan sebagai laku sufistik, atau bahkan sebagai bentuk peribadatan. Sedikit lebih jauh dari itu, melihat dibalik makna tersirat sepertinya perlu dilakukan agar kajian ini tidak sekadar euforia peradaban, namun dapat berdialog dengan zaman.

Seperti kita tahu, Kasyful Mahjub adalah warisan intelektual tertua Persia. Ia menjadi salah satu dari deretan karya awal dalam kajian tasawuf.

Pengertian dan pemahaman yang dibangun di dalamnya belum mencakup tokoh-tokoh sufi lainnya, karena kitab ini lahir sebelum referensi tasawuf lainnya muncul. Dalam jalur sufisme, al-Hujwiri sepertinya lebih condong kepada tasawuf akhlaqi ketimbang tasawuf falsafi.

Ini sebagaimana dikemukakan Reynold A. Nichloson dalam pengantar edisi bahasa Inggris yang mengatakan bahwa al-Hujwiri mencoba menyepadankan konsepsi teologisnya dengan corak mistikisme yang tinggi dengan meletakkan teori fana sebagai yang paling unggul. Namun demikian, al-Hujwiri tidak sampai masuk pada pemahaman ekstrim yang menjadikannya layak disebut seorang panteis.

Ekspresi “ketenangan” lebih dia sukai ketimbang “kemabukan” dalam mengikuti teori al-Junayd. Dan tak jarang mengingatkan para pembacanya, ketika seorang sufi mencapai tingkatan tertinggi sekalipun, dia tetap terkena kewajiban hukum-hukum syariat. Sementara dalam ekstase musik dan penggunaan simbolisme erotik dalam puisi atau syair, al-Hujwiri lebih memilih sikap hati-hati. Dengan kata lain, dia seakan ingin menghadirkan tasawuf sebagai tafsiran Islam yang benar.[2]

Halaman
12
Editor: Husein Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved