Ramadan 2019

Syeikh Abdul Qodir Al Jaelani Menafsir Malam Lailatul Qodar

Malam luar biasa yang tak seorang pun tahu tepatnya. Hanya saja dianjurkan bagi siapa yang berharap kebaikan dan kemuliaannya untuk menghadang malam

Syeikh Abdul Qodir Al Jaelani Menafsir Malam Lailatul Qodar
Tribun Jabar
Lailatul Qodar, malam paling istimewa di bulan Ramadan 

TRIBUNNEWS.COM - Malam itu, suasana sunyi, tenang, lengang. Angin merespons dengan semilirnya. Sejumlah malaikat turun ke langit dunia pada malam itu untuk menuntaskan berbagai perkara manusia.

Ada pula yang bertugas membawakan sejumput keberkahan dari Tuhannya. Mereka turun berbaris memadati langit dunia sembari merapalkan tasbih, tahmid, dan tahlil. Malam itu tak seperti biasanya.

Malam luar biasa yang tak seorang pun tahu tepatnya. Hanya saja dianjurkan bagi siapa yang berharap kebaikan dan kemuliaannya untuk menghadang malam dengan penghambaan dan pujian seriuh-riuhnya.

Dalam membincangkan Lailatur Qadr, Syekh Abdul Qadir Al-Jilani berangkat dari pembacaannya terhadap Alquran.

Singgungan tentang keutamaan malam itu sudah dimulai ketika membuka tafsiran bismillahirrahmanirrahim: Dengan nama Allah yang telah menentukan berbagai takdir makhluk di dalam hadirat ilmu-Nya dan lembaran ketetapan-Nya dengan diturunkannya Alquran kepada hamba-Nya.

Juga sebagai pemberi peringatan bagi mereka ke jalan makrifat dan keimanan, sekaligus membangunkan mereka dari tidur panjang kelenaan dan kelalaian.

Pintu masuk di atas setidaknya menunjukkan kita secercah pemahaman tentang keajaiban lailatul qadr. Bahwa pada malam itu diturunkan Alquran dari tempat yang agung. Kalimat inna anzalnahu fi lailatil qadr menyiratkan turunnya Alquran dengan cara penuh kelembutan kepada seluruh hamba Allah SWT. Diturunkannya kitab ini pun sebagai pemberi penjelasan perihal jalan keselamatan dari api kebodohan. Sebab, orang-orang dungu tak akan menyambut malam agung itu, kecuali mereka yang memahami hakikat alam gaib.[1]

Maka dikatakan, wahai Muhammad, sekiranya Allah tidak memberitahumu perihal keagungan malam itu, niscaya tak ada yang mengetahui rahasia-rahasianya, hingga Allah memberitahukannya. Malam yang penuh keagungan dan hikmah. Malam yang berlimpah keberkahan, di mana amal saleh pada malam itu lebih baik dari seribu bulan. Bahkan para sahabat tidak pernah merasakan puncak kegembiraan sebagaimana ketika disebutkan firman-Nya, “malam itu lebih baik dari seribu bulan.”

Para malaikat turun sejak terbenamnya matahari sampai terbitnya. Turunnya para malaikat ini disertai oleh punggawa mereka, yakni Jibril, sebagai jelmaan dari ar-Ruh al-Amin. Ruh yang menjelma rupa manusia dan makhluk teragung. Dialah malaikat paling mulia. Ada yang mengatakan, turunnya Jibril dengan rupa manusia, namun dengan jasad malaikat.

Pada malam itu, mereka turun dengan berbaris-baris dan dipimpin oleh Jibril as. (Lihat QS an-Naba [78]: 36) atas izin Tuhan untuk menyelesaikan berbagai perkara kebaikan dan keberkahan. Mereka turun ke langit dunia hingga fajar menjelang dengan penuh kesejahteraan dan kedamaian, tanpa keburukan dan sihir. Kalimat mathla dengan lam fathahmengindikasikan tempat terbitnya; jika dengan kasrahmenandakan terbitnya. Dan para malaikat menghaturkan salam kedamaian kepada orang-orang mukmin hingga terbitnya fajar. Demikian penjelasan Sang Syekh.[2]

Halaman
12
Editor: Husein Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved