Minggu, 12 April 2026

Eksklusif Tribunnews

Cuaca Ekstem di Finlandia Bagian Utara: Malam Hari Cuma 25 Menit

Sudah hampir tiga tahun ia menimba ilmu di sana, jauh dari nusantara.menetap sementara waktu di benua biru bagian utara.

TRIBUNNEWS/HO
Mahasiswa doktoral Muchammad Tholchah (41 tahun) di Tampere University. TRIBUNNEWS/HO 

"Tidak ikut makan siang dianggap sebagai pelanggaran dan guru bisa kena teguran pemerintah jika ada anak tidak ikut makan siang," ujar Tholchah.

Pandemi corona atau covid-19 ini membuat anak Tholchah harus belajar dari rumah. "Dan anak kami bisa puasa sebagaimana biasa," sambungnya.

Baca: Kebijakan Pelonggaran Transportasi, PPP Khawatir Muncul Gelombang II Covid-19

Tiga kali berpuasa di Finlandia, tentunya membuat ia merindukan suasana bulan Ramadhan di Indonesia. Di Tampere tak ada momen buka puasa bersama. "Di Indonesia bisa buka puasa bersama dengan teman kampus, teman kuliah, kawan lama atau sesama perantau," kata Tholchah.

Momen kebersamaan itu, menjadi ajang saling kumpul. Melepas kerinduan antar sahabat lama. Buka bersama, bagi Tolchah, menjadi ajang silahturahmi bersama kerabat. "Itu jadi sesuatu yang aduh kalau puasa di sini tidak ada kayak gitu ya," imbuh dia.

Baca: HOAKS Meteor Jatuh di Surabaya, Ini Kebenarannya Menurut LAPAN

Suasana Ramadan di Indonesia juga membuat dirinya rindu ingin pulang. Bagaimana saat malam pertama puasa ada keramaian. Ada bunyi petasan. Ada suara orang mengaji dari masjid.

"Kalau malam bunyi petasan, di masjid suara orang ngaji baca Al Quran sepanjang malam. Atau sesekali ikut tadarus di masjid dekat rumah. Di sini kan tidak ada, bukan karena pandemi tapi ramadhan tahun-tahun kemarin memang tidak ada," ucap Tholchah.

Atau momen berbagi antar tetangga. Seperti berbagi kue lebaran. "Kalau mikir itu jadi kangen ingin pulang ke Indonesia," tuturnya.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved