Lebaran 2022

2 Contoh Khutbah Idul Fitri: Persatuan dengan Saling Memaafkan dan Mengetuk Pintu Surga

Contoh Khutbah Idul Fitri tentang menjaga persatuan dengan saling memaafkan dan mengetuk pintu surga dari KH. M Quraish Shihab dan KH Miftahul Huda.

Editor: Miftah
TRIBUN MEDAN/DANIL SIREGAR
Umat Islam melaksanakan Salat Idul Fitri di Masjid Raya Al Mashun, Medan, Kamis (13/5/2021). -- Contoh Khutbah Idul Fitri tentang menjaga persatuan dengan saling memaafkan dan mengetuk pintu surga dari KH. M Quraish Shihab dan KH Miftahul Huda. 

TRIBUNNEWS.COM - Umat Islam di Indonesia sudah memasuki minggu terakhir di Bulan Ramadhan 1443 H.

Sehingga, Hari Raya Idul Fitri 1443 H akan segera datang, yaitu 1 Syawal 1443 H.

Ada berbagai persiapan yang dapat dilakukan untuk menyambut hari kemenangan.

Misalnya meningkatkan amal ibadah, mempersiapkan diri memperbanyak amal sunnah saat Idul Fitri, dan berlatih berkhutbah.

Berikut ini dua contoh Khutbah Hari Raya Idul Fitri yang singkat dan jelas.

Baca juga: Bacaan Niat Shalat Idul Fitri dan Amalan Sunah Sebelum Idul Fitri serta Kalimat Takbir

1. Khutbah Pertama

Khutbah di bawah ini adalah ringkasan dari khutbah berjudul “Idul Fitri dan Semangat Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan” yang disampaikan Pendiri Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) KH M. Quraish Shihab, dikutip dari Kemenag:

Allah Akbar, Allah Akbar, Wa Lillahil Hamd.

Dengan takbir dan tahmid, kita melepas Ramadan yang insya Allah telah menempa hati, mengasuh jiwa serta mengasah nalar kita.

Dengan takbir dan tahmid, kita melepas bulan suci itu dengan hati harus penuh harap, dengan jiwa kuat penuh optimisme, betapa pun beratnya tantangan dan sulitnya situasi.

Ini karena kita menyadari bahwa Allah Maha Besar. Allahu Akbar, Allahu Akbar! Semua kecil dan ringan selama kita bersama dengan Allah.

Kita bersama sebagai umat Islam dan sebagai bangsa, kendati mazhab, agama atau pandangan politik kita berbeda, karena kita semua ber-Ketuhanan Yang Maha Esa.

Kita semua satu bangsa, satu bahasa dan satu tanah air dan kita semua telah sepakat ber-Bhineka Tunggal Ika, dan menyadari bahwa Islam, bahkan agama-agama tidak melarang kita berkelompok dan berbeda. Yang dilarangnya adalah berkelompok dan berselisih.

Maksudnya: Janganlah menjadi serupa dengan orang-orang yang berkelompok-kelompok dan berselisih dalam tujuan setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan. Mereka itulah yang mendapatkan siksa yang pedih. Demikian QS. Ali ‘Imran [3]: 105.

Halaman
1234
Sumber: TribunSolo.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved