Ramadan 2026
Ramadan Sehat! 3 Persiapan Medis Wajib agar Tubuh Tak Kaget Jalankan Puasa
Tak hanya mental, secara fiisk tubuh juga perlu dipersiapkan agar mampu beradaptasi dengan perubahan pola makan dan aktivitas saat puasa.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- Tubuh juga perlu dipersiapkan agar mampu beradaptasi dengan perubahan pola makan dan aktivitas selama berpuasa.
- Dokter menekankan pentingnya refleksi kondisi kesehatan sebelum memasuki bulan puasa.
- Konsultasi medis penting agar jadwal dan dosis obat bisa disesuaikan dengan waktu sahur dan berbuka.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Menjelang Ramadan, banyak orang fokus pada persiapan batin.
Padahal, dari sisi medis, tubuh juga perlu dipersiapkan agar mampu beradaptasi dengan perubahan pola makan dan aktivitas selama berpuasa.
Baca juga: Jadwal Ramadan 2026 Sejumah Negara: Eropa Puasa 19 Februari, Arab dan Indonesia Masih Pantau Hilal
Dokter sekaligus Health Management Specialist Corporate HR dr Santi di perusahaan tersebut menekankan pentingnya refleksi kondisi kesehatan sebelum memasuki bulan puasa.
Menurutnya, setiap individu perlu “berkaca” pada kondisi tubuh masing-masing, terutama bagi yang memiliki penyakit kronis seperti diabetes, gangguan lambung, atau keluhan kesehatan lain.
“Berkaca kalau punya penyakit kronis. Punya diabetes, punya sakit emas, punya sembelit, sakit kepala. Terus diberesin dulu. Lapor sama dokternya. Saya mau puasa dok supaya dilakukan penyesuaian nanti obatnya, dosisnya, terus dilakukan persiapan-persiapannya, laboratoriumnyanya," ungkapnya pada siaran radio Sonora FM dilansir, Selasa (17/2/2026).
Ia menjelaskan, konsultasi medis penting agar jadwal dan dosis obat bisa disesuaikan dengan waktu sahur dan berbuka, sehingga puasa tetap aman dijalani.
Tubuh Perlu Waktu Adaptasi
Perubahan drastis dari pola makan bebas sepanjang hari menjadi terbatas saat puasa membuat tubuh membutuhkan proses penyesuaian.
Tanpa persiapan, tubuh bisa mengalami “shock” akibat perubahan ritme aktivitas.
“Tubuhnya akan terkejut. Kenapa? Dari pola yang biasanya siang makan, siang bisa minum sepanjang hari. Tiba-tiba enggak bisa," imbuhnya.
Selain perubahan pola makan, aktivitas sosial selama Ramadan yang meningkat serta perubahan jam tidur juga ikut memengaruhi kondisi fisik. Karena itu, persiapan tidak bisa dilakukan secara mendadak.
Pola Makan Jadi Prioritas Utama
Dalam skala prioritas persiapan Ramadan, ia menilai pola makan menjadi aspek paling penting karena berhubungan langsung dengan energi harian.
Masyarakat disarankan mulai mengurangi konsumsi
- gorengan
- makanan tinggi gula tambahan
- makanan berbasis tepung berlebihan
- makanan asin
- kopi
- rokok.