Sabtu, 6 Juni 2026

Ramadan 2026

Haedar Nashir Ajak Umat Islam Sikapi Perbedaan Awal Ramadan dengan Tasamuh

Haedar Nashir mengajak umat Islam menyikapi perbedaan awal Ramadan dengan tasamuh dan menjadikan puasa sebagai kanopi sosial  

Tayang:
Editor: Eko Sutriyanto
Tangkap layar Youtube
PERBEDAAN AWAL RAMADAN - Di tengah potensi perbedaan awal Ramadan 1447 Hijriah, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir meminta umat Islam mengedepankan tasamuh dan kecerdasan, serta memaknai puasa sebagai sarana meneduhkan kehidupan sosial. Tasamuh bermakna sikap lapang dada,  keluasan pikiran dan toleransi 

Ringkasan Berita:
  • Menyambut Ramadan 1447 Hijriah, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengajak umat Islam menyikapi perbedaan awal puasa dengan kedewasaan dan sikap tasamuh
  • Ia menegaskan perbedaan penetapan Ramadan merupakan ruang ijtihad yang tidak perlu dipertentangkan
  • Ramadan diharapkan menjadi kanopi sosial yang meneduhkan dan memperkuat harmoni masyarakat.

TRIBUNNEWS.COM, YOGYAKARTA - Di tengah potensi perbedaan awal Ramadan 1447 Hijriah, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir meminta umat Islam mengedepankan tasamuh dan kecerdasan, serta memaknai puasa sebagai sarana meneduhkan kehidupan sosial.

Tasamuh bermakna sikap lapang dada,  keluasan pikiran dan toleransi.

Ia menegaskan, perbedaan penetapan awal Ramadan merupakan bagian dari ruang ijtihad yang sah dalam Islam dan tidak semestinya memicu perpecahan di tengah umat.

Menurutnya, setiap pihak memiliki dasar dan metode masing-masing yang perlu dihormati.

“Dalam ruang ijtihad, tidak perlu saling menyalahkan atau merasa paling benar sendiri. Yang terpenting adalah bagaimana umat menyikapinya dengan kedewasaan dan sikap tasamuh,” ujar Haedar Nashir, Selasa (17/2/2026).

Haedar menekankan, substansi utama puasa Ramadan adalah peningkatan ketakwaan, baik secara personal maupun kolektif. 

Baca juga: Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir Terima Nobel Perdamaian Asia Zayed Award di Abu Dhabi

Karena itu, umat Islam diminta lebih fokus pada nilai-nilai ibadah dan perbaikan diri, bukan terjebak pada perdebatan teknis yang berpotensi mengganggu persaudaraan.

Ia berharap, peningkatan ketakwaan selama Ramadan dapat berdampak langsung pada kualitas relasi sosial di masyarakat.

Puasa, kata Haedar, seharusnya melahirkan pribadi-pribadi yang lebih sabar, peduli, dan mampu menebar kebaikan bagi sesama serta lingkungan sekitar.

Dalam konteks sosial yang lebih luas, Haedar mengingatkan bahwa Ramadan harus menjadi sarana memperkuat kohesi sosial.

Umat Islam diharapkan mampu menahan diri dari konflik, termasuk di ruang publik dan media sosial, yang kerap memicu perpecahan.

“Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan hawa nafsu yang merusak kehidupan sosial. Ramadan harus menjadi kanopi sosial yang meneduhkan,” ujarnya.

Ia pun mengajak umat Islam menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk memperbaiki akhlak pribadi dan publik, sekaligus meningkatkan kualitas kehidupan di berbagai bidang.

Menurutnya, ketakwaan sejati akan bermuara pada kemajuan spiritual, sosial, dan kemanusiaan.

Umat Islam di seluruh dunia akan memulai puasa Ramadan 1447 H/2026.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved