Rabu, 22 April 2026

Ramadan 2026

Sekjen PKB: Guru Ilmu Banyak, Guru Adab Sulit Dicari

DPP PKB menegaskan komitmennya membangun politik berbasis adab melalui Kajian Rutin Ramadan Seri ke-4. 

Penulis: Chaerul Umam
Editor: Wahyu Aji
HO/PKB
KAJIAN RAMADAN - DPP PKB melanjutkan Kajian Rutin Ramadan Seri ke-4, di Kantor DPP PKB, Jakarta Pusat, Senin (23/2/2026). Dalam forum tersebut, kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya Hadratussyeikh KH. Hasyim Asy'ari menjadi rujukan utama. 

Ringkasan Berita:
  • Partai Kebangkitan Bangsa menggelar Kajian Rutin Ramadan dengan menjadikan kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya Hasyim Asy'ari sebagai pedoman untuk membangun etika, moral, dan tanggung jawab kader dalam berpolitik.
  • Sekjen PKB Hasanuddin Wahid menegaskan politik tanpa adab mudah terjebak pragmatisme. 
  • Menurutnya, ilmu bisa dicari lewat teknologi, tetapi adab harus ditanamkan lewat keteladanan ulama dan tradisi pesantren.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menegaskan komitmennya membangun politik berbasis adab melalui Kajian Rutin Ramadan Seri ke-4. 

Dalam forum tersebut, kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya KH Hasyim Asy'ari dijadikan rujukan utama untuk memperkuat fondasi moral para kader.

Kitab ini membahas etika, adab, dan tanggung jawab moral seorang guru (‘alim) maupun murid (muta’allim) dalam proses belajar-mengajar. 

Sekjen DPP PKB, Hasanuddin Wahid (Cak Udin), menekankan bahwa adab harus menjadi fondasi utama dalam praktik politik, terlebih di tengah dinamika nasional yang semakin kompleks.

“Mencari orang pintar itu banyak. Mencari orang cerdas itu mudah. Tapi mencari orang beradab itu sulit. Hari ini guru ilmu sangat mudah—ChatGPT, AI, dan teknologi digital tersedia di genggaman. Tetapi guru adab tidak bisa dicari sembarangan. Perlu istikharah, perlu sanad, perlu keteladanan,” katanya di kantor DPP PKB, Jakarta Pusat, Senin (23/2/2026).

Menurut Cak Udin, politik yang kehilangan dimensi moral berpotensi terjebak pada pragmatisme dan transaksi kepentingan semata.

Sebab itu, PKB memilih menjadikan warisan ulama sebagai kompas perjuangan agar tetap berada dalam koridor nilai keumatan dan kebangsaan.

Cak Udin menjelaskan, ada dua alasan utama PKB terus mengkaji karya-karya KH Hasyim Asy'ari.

Pertama, sebagai bentuk kecintaan dan komitmen intelektual terhadap pemikiran sang ulama. 

PKB ingin para kadernya tidak hanya terhubung secara historis, tetapi juga secara nilai dan perjuangan sebagai santri Hadratusyaikh.

Kedua, sebagai bentuk pengabdian dalam menjaga dan membesarkan karya terbesar beliau, yakni Nahdlatul Ulama (NU). Bagi PKB, merawat NU merupakan tanggung jawab ideologis yang melekat pada identitas partai.

“Sepelik apa pun dunia politik Indonesia, kita masih punya kendali. Kendali itu adalah kitab kuning karya para ulama. Dan NU itu adalah kitab kuning terbesar Mbah Hasyim. Itulah pemandu kita. Tidak banyak partai politik yang menjadikan kitab kuning sebagai arah perjuangan,” ucapnya.

Kajian ini dibuka dan dipandu oleh KH. Fahmi Amrullah Hadziq, cucu langsung Hadratusyaikh Hasyim Asy’ari.

Kehadiran beliau memperkuat sanad keilmuan sekaligus menegaskan ikatan historis PKB dengan tradisi pesantren.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved