Ramadan 2026
Ramadan saat Musibah, Menag Ingatkan Hikmah Ujian sebagai Kenaikan Kelas
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak umat untuk merenungi makna musibah dan penderitaan sebagai bagian dari proses kenaikan martabat manusia.
Pilihan itu menunjukkan bahwa penderitaan fisik tidak selalu lebih berat dibanding penderitaan batin.
Banyak orang, bahkan bukan nabi, lebih memilih kesederhanaan atau kesulitan fisik demi menjaga ketenangan jiwa.
Kisah Nabi Ayyub juga menjadi contoh bagaimana penderitaan dapat dihadapi dengan sudut pandang berbeda.
Penyakit yang berat dan pengasingan tidak membuatnya larut dalam kebencian. Justru penderitaan itu diubah menjadi bentuk kedekatan dengan Tuhan.
Musibah Bisa Diajak Berkompromi
Menurut Nasaruddin Umar, rasa sakit, kecewa, malu, dan tertekan sering kali lebih banyak bersumber dari cara pandang psikologis.
Musibah bisa menjadi batu loncatan untuk naik lebih tinggi. Banyak orang justru menemukan kreativitas, kekuatan, dan keberhasilan setelah melewati masa-masa sulit.
Ia mengingatkan agar tidak memusuhi musibah. Karena ketika musibah dilawan dengan kebencian, rasa sakitnya bisa terasa lebih berat.
Sebaliknya, ketika diterima dengan kesadaran batin, beban psikologisnya dapat berkurang secara signifikan.
Ujian Keburukan yang Mengangkat Derajat
Musibah disebut sebagai ujian keburukan (balaun sayyiah), tetapi justru mampu mengangkat martabat kemanusiaan.
Dalam hadis disebutkan bahwa jika Tuhan menyayangi hamba-Nya, maka ujian dan kesulitan bisa datang lebih awal di dunia agar menjadi penghapus dosa.
Refleksi Ramadan hari keenam ini mengajak umat untuk tidak sekadar bertanya “mengapa saya diuji?”, tetapi mencoba melihat ujian sebagai bagian dari proses pendewasaan spiritual.
Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk berdamai dengan musibah, mengubah keluhan menjadi perenungan, dan menjadikan setiap ujian sebagai jalan kenaikan kelas dalam kehidupan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Polwan-Peduli-Aceh-Tenggara.jpg)