Minggu, 12 April 2026

Ramadan 2026

Hindari Berbuka Puasa dengan Minuman Manis Berlebihan, Ini Tips Sehat dari Ahli Gizi

Konsumsi minuman manis berlebihan saat berbuka puasa dapat meningkatkan risiko karies, obesitas, gangguan pencernaan, dan komplikasi diabetes.

Penulis: Lanny Latifah
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
BUKA PUASA - Umat muslim mengikuti buka puasa bersama yang disediakan Masjid Istiqlal di Jakarta, Jumat (20/2/2026). Konsumsi minuman manis berlebihan saat berbuka puasa dapat meningkatkan risiko karies, obesitas, gangguan pencernaan, dan komplikasi diabetes. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 
Ringkasan Berita:
  • Konsumsi minuman manis berlebihan saat berbuka puasa dapat meningkatkan risiko karies, obesitas, gangguan pencernaan, dan komplikasi diabetes.
  • Batas konsumsi gula harian dianjurkan 50 gram atau sekitar empat sendok makan untuk menjaga gizi seimbang.
  • Alternatif sehat saat berbuka: air kelapa muda, jus buah/sayur tanpa tambahan gula, dan 1–3 butir kurma.

 

TRIBUNNEWS.COM - Bulan Ramadan kerap identik dengan minuman manis saat berbuka puasa.

Segarnya sirup, teh manis, atau kolak dianggap mampu memulihkan energi setelah berpuasa seharian.

Namun, konsumsi gula yang berlebihan justru dapat menimbulkan risiko kesehatan serius.

Profesor Ilmu Gizi Pangan IPB University sekaligus pakar human nutrition, Prof. Budi Setiawan, menjelaskan bahwa masyarakat cenderung memilih makanan dan minuman manis saat berbuka karena kadar gula darah menurun setelah puasa.

"Selain sebagai sumber energi, kecenderungan mengonsumsi makanan atau minuman manis saat berbuka bertujuan untuk segera mengembalikan kadar gula darah yang menurun selama berpuasa," ungkap dosen di Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University tersebut dikutip dari ipb.ac.id, Selasa (24/2/2026).

Asupan gula juga memicu perasaan puas dan bahagia.

Hal ini karena konsumsi karbohidrat dan gula meningkatkan produksi hormon serotonin, sehingga membuat tubuh terasa lebih rileks.

Meski demikian, Prof. Budi menekankan bahwa gula adalah komponen pangan yang perlu dibatasi, karena berada di puncak piramida gizi seimbang.

Menurut pedoman konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL), batas konsumsi gula harian adalah 50 gram, atau sekitar empat sendok makan.

"Konsumsi apa pun kalau berlebihan tentu saja tidak baik, makanya pedomannya adalah gizi seimbang," ujarnya.

Konsumsi minuman manis berlebihan saat berbuka maupun sahur bisa mengurangi porsi makanan bergizi lain, seperti sayur, buah, dan sumber protein.

Baca juga: Menu Sahur Ideal untuk Jaga Jantung saat Puasa, Dokter Gizi: Jangan Skip Sayur dan Buah

Selain itu, gula berlebih meningkatkan risiko karies gigi, kenaikan berat badan, serta gangguan metabolisme.

Bagi penderita diabetes mellitus, gula yang tidak terkendali dapat memicu naiknya kadar trigliserida, berpotensi meningkatkan risiko penyakit jantung, dan bahkan memicu gangguan pencernaan akibat asam lambung meningkat.

"Untuk penderita diabetes mellitus (DM), kadar gulanya harus dijaga. Konsumsi gula berlebih dalam tubuh pada gilirannya dapat meningkatkan kadar trigliserida dalam darah yang berisiko bagi penderita penyakit jantung. Bisa juga terjadi gangguan pencernaan akibat meningkatnya asam lambung," jelasnya.

Sebagai alternatif sehat, Prof. Budi menyarankan beberapa pilihan minuman:

  • Air kelapa muda, segar dan rendah gula tambahan.
  • Jus buah atau sayur, namun jangan ditambah gula berlebihan.
  • Buah manis alami, seperti kurma segar (ruthob) atau kurma kering, cukup 1–3 butir sebagai asupan energi instan.

"Akan tetapi, tentu saja tidak boleh berlebihan, cukup satu atau tiga butir saja," pungkasnya.

Dengan pengaturan konsumsi gula yang tepat, berbuka puasa tidak hanya menyegarkan, tetapi juga mendukung kesehatan dan menjaga keseimbangan gizi selama Ramadan.

(Tribunnews.com/Latifah)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved