Ramadan 2026
Khutbah Jumat, 27 Februari 2026: Etika Bermedsos di Bulan Ramadan
Teks Khutbah Jumat, 27 Februari 2026, berjudul Etika Bermedsos di Bulan Ramadan: Menjaga Lisan dan Jejak Digital.
Ada beberapa bentuk pelanggaran digital yang sering kita anggap sepele, padahal besar di sisi Allah. Pertama, gibah digital, yakni membicarakan keburukan orang di grup WhatsApp atau kolom komentar. Kedua, fitnah dan hoaks atau menyebarkan berita tanpa tabayun (konfirmasi). Ketiga, ujaran kebencian, yakni menghina tokoh, kelompok, atau saudara seiman. Keempat, riya’ digital, yaitu suka memamerkan ibadah demi pujian manusia. Kelima, perdebatan sia-sia, adu argumen yang melahirkan permusuhan.
Sejatinya, Ramadan menjadi momentum membersihkan hati, bukan memperkeruh lini masa. Hati yang bersih tentu menjadi cahaya penuntun ke arah kesalehan spiritual dan sosial. Sementara itu bila hati keruh, maka akan menjerumuskan ke jurang kegelapan.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Hari ini manusia mengenal istilah jejak digital. Apa yang kita unggah bertahun-tahun lalu bisa muncul kembali. Foto, video, tulisan, komentar semua tersimpan. Bayangkan kelak di hari kiamat, ketika catatan amal dibuka. Bukan hanya apa yang kita ucapkan, tetapi semuanya tertulis lengkap. Jika di dunia saja jejak digital bisa menjadi bukti di pengadilan, maka di akhirat catatan amal jauh lebih detail dan sempurna. Allah berfirman:
وَوُضِعَ الْكِتٰبُ فَتَرَى الْمُجْرِمِيْنَ مُشْفِقِيْنَ مِمَّا فِيْهِ وَيَقُوْلُوْنَ يٰوَيْلَتَنَا مَالِ هٰذَا الْكِتٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيْرَةً وَّلَا كَبِيْرَةً اِلَّآ اَحْصٰىهَاۚ وَوَجَدُوْا مَا عَمِلُوْا حَاضِرًاۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ اَحَدًاࣖ
"Diletakkanlah kitab (catatan amal pada setiap orang), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya. Mereka berkata, ‘Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak meninggalkan yang kecil dan yang besar, kecuali mencatatnya.’ Mereka mendapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Tuhanmu tidak menzalimi seorang pun.” (Q.S. Al-Kahf [18]: 49)
Maka sebelum memposting sesuatu, renungkan: Apakah saya siap melihat ini kembali di hadapan Allah?
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ramadan mengajarkan kita untuk memperlambat reaksi dan memperdalam refleksi. Maka, mari kita ubah cara kita bermedia sosial di bulan Ramadan dengan tiga prinsip:
Pertama, prinsip takwa. Takwa adalah memelihara diri untuk senantiasa taat kepada Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Gunakan media sosial dengan kesadaran, bahwa Allah selalu mengawasi. Setiap goresan tulisan di media sosial tidak lepas dari pengawasan Allah Swt.
Kedua, prinsip manfaat. Rasulullah saw mengajarkan, tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan yang tidak bermanfaat.
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ.
“Termasuk tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.” (Imam at-Tirmidzi dalam Sunan at-Tirmidzi, No. 2317)
Ketiga, prinsip pertanggungjawaban. Setiap tulisan akan diminta pertanggungjawaban, baik di dunia maupun di akhirat.
Jemaah yang dicintai Allah,
Mari jadikan media sosial sebagai ladang pahala. Bulan suci Ramadan adalah kesempatan emas untuk menabur kebajikan. Media sosial bisa menjadi saving pahala dengan menjadikan Ramadan sebagai momentum menyebar ilmu yang sahih, mengajak pada kebajikan, dan mengutamakan ukhuah islamiah, serta menginspirasi untuk melakukan kegiatan bemanfaat.
Tetapi jika satu unggahan keburukan dan menyesatkan mengundang orang lain untuk berbuat maksiat, maka dosanya akan terus mengalir sebagaimana ditegaskan Allah Swt dalam surah Al-‘Ankabut [29]: 13,
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Salat-Tarawih-Pertama-1447-H-di-Masjid-Agung-Medan_20260219_093659.jpg)