Ramadan 2026
Habib Jafar Ajak Publik Memaknai “Kaya Hati” di Bulan Ramadan
Ramadan sering dipahami sebagai bulan menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu.
Pesan ini menegaskan bahwa “kaya hati” bukan tujuan instan, melainkan proses panjang membangun mentalitas cukup, empatik, dan hadir bagi sesama.
Dalam kesempatan yang sama, CCO Katadata Heri Susanto menegaskan bahwa tema “kaya hati” dipilih sebagai refleksi atas kecenderungan masyarakat modern yang menilai diri dari capaian materi.
“Ramadan mengajak kita berbenah: dari fokus memiliki menjadi memaknai, dari hobi mengumpulkan menjadi semangat memberi, dan dari rasa takut kekurangan menjadi merasa tercukupi,” ujarnya.
Ia mengutip Surah Al-Baqarah ayat 245 untuk menekankan bahwa memberi bukanlah kehilangan, melainkan jalan menuju keberkahan.
Selain tausiah, acara juga menghadirkan sesi diskusi bersama Databoks Katadata.
Manajer Databoks Jamalianuri memaparkan data tren zakat di Indonesia, yang menunjukkan peningkatan pencarian informasi dan donasi digital setiap Ramadan.
Kanal digital, menurutnya, semakin diminati generasi muda karena praktis, transparan, dan mudah diakses.
“Literasi zakat meningkat seiring kemudahan akses informasi. Tantangannya adalah memastikan publik memahami ke mana dana disalurkan dan dampak sosialnya,” jelasnya.
VP Finance and Business Development Katadata, Ivan Triyogo Priambodo, menambahkan bahwa zakat bukan sekadar kewajiban individual, melainkan instrumen sosial berkelanjutan.
“Zakat adalah investasi sosial yang dampaknya bisa dirasakan lebih luas ketika dikelola dengan baik,” ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Habib-Husein-Jafar-Al-Hadar-2.jpg)