Ramadan 2026
Sosok Luqmanul Hakim yang Menginspirasi, Bukan Nabi Tapi Namanya Ada di Dalam Alquran
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak umat mengambil hikmah dari sosok Luqmanul Hakim, figur sederhana yang namanya diabadikan dalam Alquran.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- Di hari kesembilan Ramadan, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak umat mengambil hikmah dari sosok Luqmanul Hakim.
- Siapa dia? Sampai namanya diabadikan dalam salah satu surah dalam Alquran.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ramadan adalah momentum membersihkan hati dan menata ulang cara pandang terhadap hidup.
Di hari kesembilan Ramadan, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak umat mengambil hikmah dari sosok Luqmanul Hakim, figur sederhana yang namanya diabadikan dalam Alquran.
Nama Luqmanul Hakim menjadi salah satu surah dalam Alquran.
Baca juga: Jejak Pengabdian KH Mursyidin Ketua MUI Sulawesi Tenggara, Jadi Penghapal Alquran sejak Kecil
Ia bukan nabi, tetapi sangat dimuliakan karena kebijaksanaannya.
Dalam riwayat disebutkan ia hanyalah seorang pencari kayu bakar di Habsy.
Ia bukan bangsawan, bukan ulama besar, dan bukan pula tokoh terpandang secara sosial.
Namun justru dari kesederhanaan itulah lahir pelajaran hidup yang dalam dan relevan hingga kini.
Mustahil Memuaskan Semua Orang
Salah satu kisah yang paling dikenal adalah saat Luqman pergi ke pasar bersama anaknya dengan menaiki seekor keledai.
Ketika ia duduk di atas keledai dan anaknya berjalan kaki, orang-orang mencibir:
”Lihatlah orang tua yang tidak punya perasaan, ia keenakan sementara anaknya berjalan kaki,"ungkap Nasaruddin pada keterangannya, Jumat (27/2/2026).
Baca juga: Menteri Agama Ajak Umat Jadikan Ramadan Momentum Perkuat Harmoni Bangsa
Mendengar itu, Luqman turun dan menyuruh anaknya naik. Namun komentar negatif kembali terdengar:
“Lihat orang tua itu, ia berjalan kaki sedangkan anaknya keenakan di punggung keledai, sungguh anak itu tidak tahu malu,"imbuhnya.
Ketika keduanya sama-sama naik ke atas keledai, cibiran tak berhenti. Bahkan saat mereka memutuskan berjalan kaki dan tidak menaiki keledai, tetap saja ada komentar miring.
Kisah ini memperlihatkan betapa subyektifnya penilaian manusia. Apa pun pilihan yang diambil, selalu ada sudut pandang yang mengkritik.
Di era sekarang, situasi ini terasa semakin nyata, terutama dalam kehidupan sosial yang penuh komentar.
Pelajaran yang bisa dipetik adalah keteguhan memegang nilai.
Agaknya mustahil memenuhi seluruh harapan masyarakat yang beragam dalam waktu bersamaan.
Karena itu, istiqamah pada nilai luhur menjadi kunci ketenangan.
Lidah dan Hati Penentu Baik Buruknya Hidup
Kisah lain yang sarat makna adalah saat Luqman diperintahkan tuannya menyembelih kambing dan mengambil daging terbaik.
Ia mengambil lidah dan hati. Ketika diminta mengambil daging terburuk, ia kembali membawa lidah dan hati.
Saat ditanya alasannya, Luqman menjawab:
”Wahai tuanku kalaulah lidah dan hati ini baik maka itu lebih bermanfaat dan apabila lidah dan hati ini jelek maka itu lebih jelek dan akan menimbulkan kerusakan.”
Jawaban ini menjadi refleksi mendalam, terutama di bulan Ramadan. Lidah dan hati adalah pusat kendali diri.
Ucapan yang baik membawa manfaat, sementara ucapan yang buruk bisa menimbulkan kerusakan.
Begitu pula hati, jika bersih akan melahirkan ketenangan, jika kotor akan memicu kesombongan dan konflik.
Ramadan melatih umat untuk menjaga keduanya. Tidak sekadar menahan lapar, tetapi juga menahan lisan dan membersihkan niat.
Prinsip Hidup yang Membawa Kedamaian
Dalam kisah Luqman di Alquran, terdapat banyak pelajaran penting, tidak mempersekutukan Allah (QS 31:13), berbuat baik kepada orang tua (QS 31:14), menyadari pengawasan Allah (QS 31:16), mendirikan shalat, berbuat kebajikan, menjauhi kemungkaran, bersabar, dan menghindari kesombongan (QS 31:17–19).
Jika nilai-nilai ini diinternalisasikan dalam prinsip hidup, ketenangan dan kedamaian akan lebih mudah diraih.
Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat komitmen tersebut.
Hikmah Ramadan hari kesembilan melalui kisah Luqmanul Hakim mengajarkan bahwa kebijaksanaan tidak ditentukan oleh status sosial.
Justru dari kesederhanaan, keteguhan hati, dan kemampuan menjaga lidah serta hati, seseorang bisa mencapai kemuliaan.
Di tengah dunia yang penuh penilaian, pelajaran ini terasa semakin relevan: tidak semua komentar perlu ditanggapi, tetapi setiap hati dan ucapan perlu dijaga.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Membaca-Alquran-di-Masjid-Agung-Al-Ukhuwwah-Kota-Bandung_20250302_115804.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.