Ramadan 2026
Meraih Pahala Besar di Bulan Ramadan 1447 H dengan Kekuatan Sabar
Sabar pada hakikatnya adalah kemampuan menahan diri saat ibadah puasa Ramadan memiliki pahala yang besar Allah sudah menetapkan ada posisi yang mulia.
Rasulullah SAW kemudian menjelaskan: "Nazala malakun minasama yukadzibu bimaq laka. Tadi malaikat turun dari langit membela dan mendustakan ucapan orang yang menghinamu."
Namun ketika Abu Bakar membalas, beliau bersabda: "Waqo’aitona maka datanglah setan. Aku tidak mungkin duduk bersama setan."
"Ya, jadi ini artinya apa? Kalau suatu saat kita ini dihina orang, maka sudah bertahan ya. Enggak usah memberikan respon."
"Orang Jawa bilang becik ketitik olo ketoro. Nanti yang memang benar akan muncul, yang memang salah ya sejarah akan mencatat itu ya," terangnya.
Kisah ini memberi pelajaran mendalam bahwa ketika seseorang mampu menahan diri dari membalas hinaan, malaikat turun membelanya.
Tetapi saat emosi mengambil alih dan balasan dilontarkan, setanlah yang hadir.
Ramadan menjadi waktu terbaik untuk melatih diri agar tidak reaktif, apalagi dalam kondisi lapar dan haus yang bisa memicu emosi.
Selain dalam menghadapi hinaan, sabar juga diperlukan dalam tiga kondisi utama: saat menjalankan kebaikan, saat menghadapi penderitaan, dan saat tertimpa musibah.
Bahkan bisa jadi ujian yang datang kepada seseorang merupakan jalan untuk mengangkat derajatnya di sisi Allah.
Dalam riwayat lain disebutkan: "Innal abda idza sabaqot lahu minallahi manzilatun lam yablugha biamalihi."
"Seseorang itu kalau Allah sudah menetapkan ada posisi yang mulia, posisi tinggi, ya ibarat tangga mungkin tangga ke-100 gitu ya, derajat derajatnya tinggi."
"Tapi ternyata amal yang ia miliki itu tidak bisa mengantarkan sampai derajat yang Allah sudah gadang-gadang, yang Allah sudah tentukan. Puasanya, salatnya, zakatnya enggak cukup untuk bisa sampai ke derajat yang tinggi itu," jelasnya.
Maka Allah akan mengujinya: "Ibtalahu fi jasadihi au fi malihi au fi waladihi."
Allah mengujinya melalui fisiknya (jasadnya), hartanya, atau anaknya.
"Maka Allah kemudian memberikan ujian kepada orang tersebut diuji melalui jasadnya. Fi jasadihi. Mungkin sakit berkepanjangan. umurnya sebenarnya masih muda, tampilannya sudah seperti orang tua ya, tenaganya loyo ya, sudah tidak bisa berbuat banyak. Itu namanya diuji dengan melalui jasadnya," ujarnya.