Kamis, 21 Mei 2026

Ramadan 2026

Menghitung Jejak Karbon Ramadhan: Saat Ibadah Bertemu Tanggung Jawab Lingkungan

Ramadhan menghadirkan denyut kehidupan yang lebih hidup di kota maupun desa melalui berbagai aktivitas ibadah dan sosial.

Tayang: | Diperbarui:
HandOut/IST
SERAP EMISI KARBON - hutan mangrove di Indonesia rata-rata mampu menyerap 52,85 ton CO2/hektar/tahun, angka ini dua kali lebih tinggi dibandingkan estimasi global (26,42 ton CO2/hektare/tahun). 

Ramadhan seharusnya menjadi momentum yang tepat untuk menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam tindakan nyata. Mengambil makanan secukupnya, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, membawa wadah sendiri saat membeli takjil, hingga menghemat listrik adalah bentuk ibadah yang sering kali luput dari perhatian. 

Ibadah tidak berhenti pada ritual, tetapi tercermin dari cara kita memperlakukan lingkungan.
Masjid dan ruang-ruang sosial memiliki peran penting dalam membentuk kesadaran ini. Sebagai pusat aktivitas Ramadhan, masjid dapat menjadi teladan dalam pengelolaan sampah, pengurangan plastik, dan penggunaan energi yang lebih bijak. Contoh sederhana, seperti penyajian takjil tanpa kemasan sekali pakai atau pemilahan sampah, dapat menyampaikan pesan yang kuat tanpa perlu banyak kata.

Upaya menghitung dan mengurangi jejak karbon Ramadhan tentu tidak dimaksudkan untuk membatasi kebahagiaan atau mengurangi kekhusyukan ibadah. Justru sebaliknya, ini adalah upaya memperluas makna Ramadhan agar lebih relevan dengan tantangan zaman. Menahan lapar dan dahaga seharusnya juga berarti menahan diri dari konsumsi berlebihan dan perilaku yang merusak lingkungan.

Green accounting mengingatkan kita bahwa setiap pilihan kecil yang kita buat memiliki dampak besar jika dilakukan secara kolektif. Apa yang kita beli, bagaimana kita makan, bagaimana kita bergerak, dan bagaimana kita membuang sisa konsumsi, semuanya membentuk jejak yang akan diwariskan ke masa depan.


Ramadhan akan berlalu, tetapi dampaknya terhadap lingkungan bisa bertahan lama. Pertanyaannya sederhana, jejak apa yang ingin kita tinggalkan. Jejak sampah dan emisi, atau jejak kesadaran dan perubahan.

Jika Ramadhan dimaknai tidak hanya sebagai ritual tahunan, tetapi juga sebagai latihan hidup berkelanjutan, maka bulan suci ini dapat menjadi titik awal perubahan. Perubahan cara kita mengonsumsi, berpindah, dan memperlakukan alam dengan lebih bertanggung jawab.

Ramadhan yang ramah lingkungan bukanlah Ramadhan yang kehilangan makna, melainkan Ramadhan yang lebih utuh. Ia tidak hanya membersihkan jiwa, tetapi juga menjaga bumi. Di situlah green accounting menemukan relevansinya, mengingatkan kita bahwa keberkahan sejati tidak lahir dari pemborosan, melainkan dari keseimbangan.

 

 

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved