Ramadan 2026
Fadhilah Puasa Hari ke-27 Ramadhan 1447 H/2026 M, Melewati Shiratal Mustaqiem Laksana Halilintar
Fadhilah Puasa hari ke-27 Ramadhan 1447 H adalah seperti menolong setiap mukmin dan mukminah, memberi pakaian pada tujuh puluh ribu orang.
Ringkasan Berita:
- Fadhilah Puasa hari ke-27 Ramadhan 1447 H adalah seperti menolong setiap mukmin dan mukminah, memberi pakaian pada tujuh puluh ribu orang yang telanjang, membantu seribu orang yang menjalin tali persaudaraan.
- Orang yang menunaikan puasa hari ke-27 Ramadhan 1447 H kalian seperti membaca semua kitab yang diturunkan oleh Allah kepada para Nabi-Nya.
- Melewati shiratal mustaqiem dengan mudah laksana halilintar.
TRIBUNNEWS.COM - Tepat pada hari ini, Selasa, 17 Maret 2026, umat Muslim di Indonesia telah sampai pada langkah ke-27 dalam perjalanan spiritual bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah.
Berada di garis finis ini bukan sekadar tentang menahan lapar dan dahaga, melainkan tentang memasuki fase paling krusial, sepuluh malam terakhir yang penuh kemuliaan.
Sepuluh hari terakhir adalah waktu di mana pintu langit terbuka lebar.
Islam mengajarkan bahwa masa ini adalah periode pelipatgandaan pahala yang tak terhingga. Menyadari waktu yang kian menipis, setiap Mukmin didorong untuk:
- Mempererat Kedekatan Spiritual: Meningkatkan intensitas interaksi dengan Allah SWT.
- Memperbaiki Kualitas Ibadah: Bukan lagi tentang kuantitas, melainkan tentang ketulusan dan kekhusyukan.
- Kepedulian Sosial: Menyeimbangkan ibadah vertikal dengan aksi nyata membantu sesama.
Memasuki hari ke-27, ini adalah saat yang tepat untuk melakukan muhasabah atau evaluasi diri.
Sejauh mana puasa kita telah mengubah karakter kita?
Refleksi ini bertujuan sebagai mesin pendorong untuk "gaspol" di sisa hari yang ada, bukan untuk meratapi kekurangan masa lalu.
Menjaga kualitas puasa, menyempurnakan shalat, hingga mengkhatamkan Al-Qur'an menjadi prioritas utama untuk menutup bulan suci ini dengan indah (husnul khatimah).
Kasih sayang Allah SWT begitu luas, di mana setiap amal sekecil apa pun di bulan ini dihargai dengan balasan yang istimewa.
Namun, kunci utama dari semua itu adalah kemurnian niat dan adab.
Tanpa niat yang ikhlas, ibadah hanya akan menjadi rutinitas fisik yang melelahkan.
Keutamaan ini ditegaskan kembali dalam sebuah hadis yang menjadi pegangan utama setiap Muslim:
"Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala (dari Allah), maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim).
Baca juga: Ramadhan Jadi Momentum Taubat dan Kembali kepada Allah
Secara manusiawi, tubuh mungkin mulai merasa letih setelah hampir sebulan penuh berpuasa.
Namun, pemahaman akan besarnya keutamaan di akhir Ramadhan harus menjadi energi tambahan bagi batin untuk tetap tegak berdiri dalam shalat malam dan zikir.
Mari kita tutup Ramadhan 1447 Hijriah ini dengan hati yang bersih dan kesungguhan dalam beramal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/mengisi-waktu-berpuasa-dengan-iktikaf-di-masjid-istiqal-jakarta_20210416_215350.jpg)