Senin, 27 April 2026

Lebaran 2026

Lebih Awal dari Muhammadiyah, Ini Daftar Lokasi Salat Idul Fitri yang Digelar 18 dan 19 Maret 2026

Sejumlah warga ada yang sudah menggelar salat Idul Fitri 1447 H lebih awal yakni di Ponorogo Jawa Timur dan Padang Sumbar.

Penulis: Anita K Wardhani

 

Ringkasan Berita:
  • Sejumlah warga di beberapa daerah ada yang sudah menggelar salat Idul Fitri 1447 H lebih awal.
  • Mereka salat Ied lebih awal dari Ormas Muhammadyah yang tentukan Lebaran 2026 pada 20 Maret, maupun pemerintah yang masih akan menggelar sidang isbat penentuan 1 Syawal 1447 H.
  • Jemaah yang mendahului salat Ied Rabu (18/3/2026) dan Kamis (19/3/2026).

 

 

TRIBUNNEWS.COM - Sejumlah warga di beberapa daerah menggelar Salat Idul Fitri lebih awal dari keputusan pemerintah dan Organisasi Masyarakat (Ormas) Islam.

Para jemaah ini ada yang sudah menggelar salat Idul Fitri pada Rabu (18/3/2026) kemarin dan Kamis (19/3/2026) hari ini. 

Baca juga: Lebaran Jatuh pada Hari Jumat, Salat Jumat Tetap Wajib atau Gugur?

Mengutip website resmi Muhammadiyah, Ormas ini memakai Kalender Hijriah Global Tunggal dan menetapakan Idul Fitri jatuh pada 20 Maret 2026


Penetapan awal bulan Syawal 1447 H tahun ini merujuk pada keputusan Musyawarah Nasional XXXII Tarjih Muhammadiyah tentang Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Berdasarkan kriteria kalender tersebut, 1 Syawal 1447 H ditetapkan jatuh pada Jumat Legi, 20 Maret 2026 M.

Sementara Pemerintah melalui Kementerian Agama belum menentukan kapan Lebaran 2026 sebelum menggelar sidang isbat pada Kamis 19 Maret 2026 hari ini. 

Nah, jemaah mana saja yang sudah melakukan salat Idul Fitri lebih awal? Berikut ulasan Tribunnews.com.


Ratusan Warga Gelar Salat Idul Fitri di Ponorogo Kamis Hari Ini 

Ratusan jamaah Tarekat Syathariyah di Desa dan Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Ponorogo, menggelar salat Idul Fitri lebih awal pada Kamis (19/3/2026) pagi. 

Pantauan Tribunnews.com Network, lokasi salat mulai terlihat ramai sejak matahari terbit.

Gema takbir sayup-sayup terdengar dari lokasi pelaksanaan salat di masjid yang berada di lingkungan Pondok Pesantren Darul Islam.

Jemaah terlihat mengenakan pakaian muslim, yang laki-laki berpeci dan memakai sarung. Sementara jemaah perempuan terlihat sudah mengenakan mukena. 

Menurut warga, tradisi melaksanakan Idul Fitri lebih awal ini bukan pertama kali mereka lakukan. 

Ini merupakan bagian dari keyakinan yang telah dijalankan secara turun-temurun oleh jemaah Thariqat Syathariyah di wilayah tersebut.

Baca juga: Zaskia Mecca Sempat Galau Gelar Salat Idul Fitri 2026, Lalu Pilih Syakir Daulay Jadi Imam


Selazimnya pelaksanaan salat Idul Fitri, jemaah pun saling bersalam-salman, saling bermaafan.

Warga juga berkumpul makan bersama yang kerap dikenal dengan proses genduren. 

Jemaah yang datang, kabarnya dari berbagai wilayah. Tidak hanya dari Ponorogo, namun juga dari luar kota, seperti dari Madiun, Kediri dan Wonogiri. 


Puasa Lebih Awal 

Mengapa jemaah Thariqat Syathariyah salat Idul Fitri lebih awal?

Imam Salat Ied sekaligus Ponpes Darul Islam, Ahmad Khumaidi tidak menjelaskan rinci. Ia hanya mengakui jika salat Ied mereka lakukan setelah genap 30 hari berpuasa. 

"Ya karena puasanya sudah genap 30 hari, kami lalu salat Ied," kata Ahmad Khumaidi, saat ditemui usai salat Ied. 

SALAT IED DULUAN -Ratusan jamaah Tarekat Syathariyah di Desa dan Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Ponorogo, menggelar salat Idul Fitri 1447 H lebih awal pada Kamis (19/3/2026) pagi. Mereka menggelar salat lebih dulu dari ketentuan Pemerintah juga Ormas Muhammadiyah.
SALAT IED DULUAN -Ratusan jamaah Tarekat Syathariyah di Desa dan Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Ponorogo, menggelar salat Idul Fitri 1447 H lebih awal pada Kamis (19/3/2026) pagi. Mereka menggelar salat lebih dulu dari ketentuan Pemerintah juga Ormas Muhammadiyah. (Tribunnews.com/ho/dokumentasi warga)


Jemaahnya ini sudah melakukan ibadah puasa Ramadan lebih awal. 

"Kami awal puasa lalu dimulai pada hari Selasa (17 Maret 2026)," kata Imam Salad Ied.

Salat Penuh Toleransi, Begini Reaksi Warga Sekitar 

Lantas, bagaimana reaksi warga sekitar?

Suasaa pelaksanaan salat terlihat berlangsung tertib dan aman. 

Warga sekitar yang tidak ikut salat Ied bersama jemaah ini juga turut menghormati perbedaan waktu pelaksanaan Idul Fitri tersebut. 

Suasana toleransi antarwarga di Ponorogo terlihat  meskipun terdapat perbedaan dalam pelaksanaan salat Ied. 


"Ya saling menghormati, niatnya ya ibadah karena Allah," katanya. 

Salat juga dikawal pengamanan oleh jajaran dari Polsek Sukorejo. 

"Di wilayah kami ada kegiatan masyarakat, yakni pelaksanaan salat Ied. Kami dari polri memberikan rasa aman dan nyaman untuk masyarakat yang hari ini merayakan Idul Fitri lebih awal," kata Kapolsek Sukorejo, IPTU Agus Tri Cahyo Wiyono.

Menurut Cahyo, perbedaan bukan dasar perpecahan tapi jadi bibit indah persaudaraan. 

"Janganlah perbedaan menjadi jadi pecah belah, dengan adanya perbedaan, bisa membuat warna semakin indah. Di sini toleransi sangat kuat dan akrab, sehingga masyarakatnya bisa jaga kamtibmas," pungkas IPTU Agus. 

Salat Idul Fitri di Padang 18 Maret 2026

Sebelumnya, dilansir Tribunnews.com, puluhan jemaah Tarekat Naqsabandiyah di Lubuk Sarik, Kelurahan Padang Besi, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar) menunaikan ibadah salat Idulfitri 1447 H, Rabu, (18/3/2026) pagi.

Jemaah Tarekat Naqsabandiyah merayakan Lebaran lebih dulu dari Pemerintah.

IDUL FITRI- Jemaah Tarekat Naqsabandiyah di Padang Besi merayakan Idul Fitri 2026 hari ini, Rabu (18/3/2026).  Khutbah Idul Fitri Jemaah Tarekat Naqsabandiyah di Padang Besi, Lubuk Kilangan, Kota Padang, Sumatera Barat disampaikan dalam Bahasa Arab.
IDUL FITRI- Jemaah Tarekat Naqsabandiyah di Padang Besi merayakan Idul Fitri 2026 hari ini, Rabu (18/3/2026). Khutbah Idul Fitri Jemaah Tarekat Naqsabandiyah di Padang Besi, Lubuk Kilangan, Kota Padang, Sumatera Barat disampaikan dalam Bahasa Arab. (Tribun Padang/Tribun Padang)

Pelaksanaan salat Ied yang berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 09.00 WIB ini menjadi momen spesial, terutama dengan hadirnya sosok khatib muda berusia 20 tahun, Riski Rafandi.

Riski tidak hanya bertindak sebagai jemaah, namun ia dipercaya berdiri di mimbar menyampaikan khutbah raya di hadapan puluhan pasang mata jemaah yang memenuhi masjid.

Dalam penyampaiannya, Riski menggunakan bahasa Arab yang fasih, menjaga tradisi literasi klasik yang selama ini dipertahankan oleh jemaah Naqsabandiyah secara turun-temurun.

Riski mengungkapkan bahwa penetapan 1 Syawal bagi jemaah mereka didasarkan pada perhitungan yang matang menggunakan Kitab Munjid (Munjib).

Puasa 30 Hari

Menurutnya, jemaah di lokasi tersebut telah memulai ibadah puasa Ramadan sejak tanggal 16 Februari lalu, sehingga hari ini puasa mereka telah genap 30 hari.

"Kami sudah menunaikan puasa sejak 16 Februari. Jadi, hari ini hitungannya sudah genap satu bulan penuh atau 30 hari," ujar Riski seusai pelaksanaan salat Id.

Penetapan waktu ibadah ini, lanjut Riski, merupakan hasil perpaduan metode warisan para ulama tarekat yang mencakup hisab, rukyah, serta berpegang teguh pada dalil, ijma, dan qiyas.

Metode Hisabul Rukyat yang digunakan tidak sekadar mengandalkan perhitungan astronomi tradisional di atas kertas, tetapi juga mencocokkannya dengan fenomena alam yang teramati.

Perpaduan antara hitungan matematis dan pengamatan fisik hilal ini dianggap sebagai cara yang paling akurat oleh jemaah untuk menentukan pergantian bulan hijriah.

Meski pelaksanaan lebaran kali ini berbeda dengan kalender pemerintah, tokoh setempat menekankan bahwa perbedaan ini bukanlah ajakan untuk berselisih atau memicu perpecahan.

Keputusan tersebut ditegaskan sebagai murni menjalankan tradisi dan keyakinan spiritual yang telah lama mengakar kuat di tengah komunitas Naqsabandiyah di Kota Padang.

Menariknya, terdapat pula perbedaan internal di antara kelompok tarekat. Riski menyebutkan bahwa jemaah Naqsabandiyah di Surau Baru Pauh baru memulai puasa pada 17 Februari.

Hal ini menyebabkan jemaah di Pauh kemungkinan besar baru akan menggenapkan puasa 30 hari dan merayakan Idul Fitri pada esok hari.

"Perbedaan ini bukan untuk perpecahan. Ini adalah bagian dari ketaatan kami pada guru-guru dan kitab rujukan yang kami pelajari secara mendalam," tambahnya lagi.

Di sisi lain, Imam Masjid, Defra Dika, memastikan seluruh rangkaian ibadah berjalan lancar dengan kondisi masjid yang terisi penuh oleh jemaah yang datang dari berbagai penjuru Lubuk Kilangan.


(Tribunnews.com/Anita K Wardhani/ Tribun Padang/Arif Ramanda Kurnia)

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved