Rabu, 27 Mei 2026

Celengan

DULU, "ritual" paling menyenangkan bagi anak-anak adalah memecah celengan menjelang lebaran.

Tayang:
Editor: Kisdiantoro

Catatan Sujarwo, Wartawan Tribun Jabar

DULU, "ritual" paling menyenangkan bagi anak-anak adalah memecah celengan menjelang lebaran. Buah hemat dari menyisakan uang jajan itu dinikmati saat lebaran tiba. Tak kalah meriahnya memecah celengan menjelang liburan sekolah.

Maklum, sebelum bank swasta berkembang pesat dibarengi gerakan gemar menabung, tradisi menabung di celengan sudah lazim dilakukan tiap keluarga. Untuk membukanya memang harus dipecah, karena sebelum zaman plastik, celengan terbuat dari keramik atau porselen.

Celengan bertujuan mengajarkan kepada anak agar rajin menabung. Bentuknya pun bukan hanya berupa celeng (babi hutan). Dalam perkembangannya, ada juga celengan berupa sapi, ayam jago, kendi, bulat, kotak dan lainnya.

Entah kebetulan atau karena proses sejarah, celengan sejak dulu selalu diidentikkan dengan celeng atau pig (babi) atau pula piggy (anak babi). Dari etimologi Bahasa Inggris kuno, pygg sejenis tanah liat untuk membuat benda keramik.

Pada waktu itu masyarakat terbiasa menyimpan peralatan rumah tangga dalam benda-benda berbahan pygg, tak terkecuali uang. Konon, karena salah pengucapan orang Inggris di abad ke-18, ketika warga Eropa terbiasa mengatakan pygg lantas menjadi pig untuk menyebut celengan. Kebetulan pula dalam lafal aslinya, pygg juga berarti (hidung) pesek.

Lagi-lagi serba kebetulan, alat tradisional untuk menabung uang (logam) ini lebih dikenal di negeri ini dengan sebutan celengan karena pertama mengenalnya dari China. Dalam sejarah, celengan pertama kali datang dari Cina, bentuknya berupa babi. Di China, babi dianggap melambangkan kemakmuran.

Awal kedatangan benda keramik itu mulanya dinamakan celengcelengan, yang akhirnya disebut celengan. Celengan yang tertua di negeri ini ditemukan di situs Majapahit (abad 14-15). Mengutip dari literatur, di Trowulan, Jawa Timur, bekas Kerajaan Majapahit, celengan berbentuk babi itulah yang banyak ditemukan.

Disebutkan pula, pada zaman itu pejabat kerajaan Majapahit yang bertugas melindungi pasar setiap hari menerima setoran berupa delapan ribu kepeng uang dari China, pengganti nilai tukar berupa emas atau perak. Uang kepeng dari China itulah yang oleh masyarakat saat itu kebanyakan di-celeng-kan ke celengan babi.

Dari zaman Majapahit kembali ke zaman globalisasi sekarang. Entah mengacu dari sejarah budaya China atau tidak, di Seattle, kotanya Bill Gates, salah satu orang terkaya di dunia, piggy yang dari perunggu tersebut adalah maskot dari Pike Place Market.

Tak ada salahnya pula orang Barat menyebut celengan dengan the piggy bank. Dalam dunia perbankan sekarang, celengan boleh juga disamakan dengan rekening atau uang yang tersimpan sebagai tabungan.

Entah berangkat dari mana, rasanya bukan mengacu sejarah, awal Juli ini sedang heboh terkait celengan. Sampai-sampai Majalah Tempo digugat karena penggugat tersinggung dengan cover majalah edisi 28 Juni-4 Juli 2010. Dalam laporan soal Rekening  Gendut Perwira Polisi di edisi itu, Tempo menurunkan cover bergambar celengan babi.

"Saya mohon apapun tolonglah kalau kritik yang memberikan motivasi atau support kita nggak marah. Tapi jangan digambarkan itu (babi). Kita cegah untuk tidak marah karena apa, digambarkan dengan suatu yang haram, babi," ujar Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri seusai upacara HUT Polri di Mako Brimob Polri, Kelapa Dua, Depok, Kamis (1/7). Saat itu wartawan menanyakan menyoal cover Majalah Tempo tersebut

Terlepas dari gugat-menggugat, ada yang khas dari celengan. Meski dikocak-kocak, celengan tidak akan mudah berbunyi jika isinya penuh. Umumnya, sang pemilik pun akan menyimpan celengan itu di tempat paling tersembunyi.
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved