Industri Plywood Pernah Berjaya di Barito
Kejayaan industri plywood (kayu lapis) menjadi saksi keramaian lalu lintas di Sungai Barito
Tayang:
Editor:
Kisdiantoro
TRIBUNNEWS.COM, BANJARMASIN-- Kejayaan industri plywood (kayu lapis) menjadi saksi keramaian lalu lintas di Sungai Barito. Pesatnya industri plywood mampu menarik minat para pencari kerja, tak hanya dari Kalimantam. Ribuan pekerja dari Jawa pun berdatangan.
"Dulu, ketika masih jayanya perusahaan-perusaha an di bawah naungan Apindo (Asosiasi Pengusaha Indonesia), Sungai Barito sangat ramai oleh hilir mudik kelotok. Sekarang kelotok yang menyusuri sungai itu sangat sedikit karena berkurangnya jumlah pekerja industri perkayuan," kata Sekretaris Serikat Pekerja Indonesia PT Daya Sakti Unggul, Desa Jelapat, Tamban, Batola, Kalsel kepada BPost, kemarin.
Sungai Barito adalah jalur yang bakal dilewati rombongan Susur Sungai BPost 2010. Gelaran hasil kerja bareng BPost dengan PT Adaro, TB Gramedia Veteran Banjarmasin, Luwai Garment, Pemkab Kapuas, Pemkab Pulangpisau dan Pemko Palangkaraya ini dimulai Sabtu (17/7/2010) hingga Senin (19/7/2010).
Pada 1990-2005, tiap dermaga baik besar maupun kecil selalu dipadati para pekerja, terutama di pagi dan sore. Pada saat itulah mereka berangkat dan pulang kerja. "Dulu taksi kelotok tidak pernah sepi penumpang. Bahkan, masing-masing memiliki pelanggan masingmasing. Warung-warung, rumah kos dan sewaan dipenuhi pekerja. Itu semua tinggal kenangan indah," ucapnya.
Meredupnya perusahaan kayu berimbas pada kehidupan warga sekitar yang mengais rezeki sebagai pemilik atau juru mudi kelotok. Kini mereka hanya bisa berharap ada pemasukan lebih dari wisatawan yang ingin menikmati pemandangan Pasar Terapung, Kuin Utara, Banjarmasin atau Pulau Kembang, Batola.
"Banyak perusahaan gulung tikar termasuk Daya Sakti Unggul. Padahal, karyawannya pernah mencapai 5 ribu orang. Pada 1 Agustus 2009 perusahaan ditutup dan 14 Sepetember 2009 dinyatakan pailit," ucapnya.
Kisah indah masa lalu juga diungkapkan Tini. Dia adalah pemilik warung di Jelapat 1, Tamban. "Warung saya selalu ramai didatangi pembeli, para pekerja itu. Rezeki begitu mudah diperoleh, lain dengan sekarang. Sepi sekali," ujarnya.
Kegetiran hidup juga dirasakan Juru Mudi Kelotok, Ijai. "Dulu, tidak pernah sepi penumpang, bahkan sering kuwalahan karena banyaknya yang ingin naik. Selain pelanggan, tidak sedikit pekerja yang menggunakan jasa kelotok untuk kepentingan di luar berangkat dan pulang kerja," ucapnya.
Tak hanya juru mudi kelotok di Tamban, nasib serupa juga dialami para juru mudi kelotok di Dermaga Pasar Terapung. "Yang menyewa sangat jarang. Biasanya wisatawan. Bisa hanya sekali dalam seminggu. Dapat Rp 100 ribu seminggu sudah lumayan," ucap seorang juru mudi, Makmun.
"Dulu, ketika masih jayanya perusahaan-perusaha an di bawah naungan Apindo (Asosiasi Pengusaha Indonesia), Sungai Barito sangat ramai oleh hilir mudik kelotok. Sekarang kelotok yang menyusuri sungai itu sangat sedikit karena berkurangnya jumlah pekerja industri perkayuan," kata Sekretaris Serikat Pekerja Indonesia PT Daya Sakti Unggul, Desa Jelapat, Tamban, Batola, Kalsel kepada BPost, kemarin.
Sungai Barito adalah jalur yang bakal dilewati rombongan Susur Sungai BPost 2010. Gelaran hasil kerja bareng BPost dengan PT Adaro, TB Gramedia Veteran Banjarmasin, Luwai Garment, Pemkab Kapuas, Pemkab Pulangpisau dan Pemko Palangkaraya ini dimulai Sabtu (17/7/2010) hingga Senin (19/7/2010).
Pada 1990-2005, tiap dermaga baik besar maupun kecil selalu dipadati para pekerja, terutama di pagi dan sore. Pada saat itulah mereka berangkat dan pulang kerja. "Dulu taksi kelotok tidak pernah sepi penumpang. Bahkan, masing-masing memiliki pelanggan masingmasing. Warung-warung, rumah kos dan sewaan dipenuhi pekerja. Itu semua tinggal kenangan indah," ucapnya.
Meredupnya perusahaan kayu berimbas pada kehidupan warga sekitar yang mengais rezeki sebagai pemilik atau juru mudi kelotok. Kini mereka hanya bisa berharap ada pemasukan lebih dari wisatawan yang ingin menikmati pemandangan Pasar Terapung, Kuin Utara, Banjarmasin atau Pulau Kembang, Batola.
"Banyak perusahaan gulung tikar termasuk Daya Sakti Unggul. Padahal, karyawannya pernah mencapai 5 ribu orang. Pada 1 Agustus 2009 perusahaan ditutup dan 14 Sepetember 2009 dinyatakan pailit," ucapnya.
Kisah indah masa lalu juga diungkapkan Tini. Dia adalah pemilik warung di Jelapat 1, Tamban. "Warung saya selalu ramai didatangi pembeli, para pekerja itu. Rezeki begitu mudah diperoleh, lain dengan sekarang. Sepi sekali," ujarnya.
Kegetiran hidup juga dirasakan Juru Mudi Kelotok, Ijai. "Dulu, tidak pernah sepi penumpang, bahkan sering kuwalahan karena banyaknya yang ingin naik. Selain pelanggan, tidak sedikit pekerja yang menggunakan jasa kelotok untuk kepentingan di luar berangkat dan pulang kerja," ucapnya.
Tak hanya juru mudi kelotok di Tamban, nasib serupa juga dialami para juru mudi kelotok di Dermaga Pasar Terapung. "Yang menyewa sangat jarang. Biasanya wisatawan. Bisa hanya sekali dalam seminggu. Dapat Rp 100 ribu seminggu sudah lumayan," ucap seorang juru mudi, Makmun.