Kabut Asap di Dumai
Kualitas Udara Dumai Membahayakan
Kebakaran lahan yang terjadi di Dumai dan sejumlah daerah lainnya, hingga Jumat (22/10/2010), sudah melebihi batas kewajaran
TRIBUNNEWS.COM, DUMAI - Kebakaran lahan yang terjadi di Dumai dan sejumlah daerah lainnya, hingga Jumat (22/10/2010), sudah melebihi batas kewajaran. Dampak yang ditimbulkan berupa asap semakin parah. Seperti racun, kabut asap tersebut sudah menggerogoti kesehatan serta menganggu aktivitas warga.
Sudah sejak beberapa hari belakangan, kabut asap tersebut masih bergelayut menyelumuti Kota Dumai. Bukanya semakin menipis, asap yang muncul malah makin menebal khusunya malam dan pagi hari.
Alat ukur Indeks Standar Pengukuran Udara (ISPU) milik PT CPI mencatat kualitas udara di Dumai diangka 306 PSI (polutan standar indek) dengan kandungan zat asam yang tinggi dan partikel berbahaya yakni particulate matter berukuran 10 mikron atau PM-10 sebanyak 306 mg/m3. Pengukuran itu dilakukan para pukul 07.00 WIB.
Berdasarkan angka tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kota Dumai, Marjoko mengatakan kondisi udara tersebut sudah masuk kategori berbahaya. Pencemaran udara oleh asap tersebut merupakan terparah dari dua hari belakangan.
Sebelumnya, Rabu (20/10/2010) dan Kamis (21/10/2010), kualitas udara di Dumai tersebut hanya mencapai angka 257 sampai 265 PSI. Meskipun angkanya lebih rendah kondisi itu masih tergolong jelek karena udaranya sangat tidak sehat.
"Zat asam dan partikel berbahaya yang diakandungnya ini sangat berbahaya. Selain menganggu kesehatan saluran pernafasan juga dapat membuat iritasi mata dan kulit. Partikel halus yang masuk kedalam saluran pernafasan tersebut dapat menyebabkan infeksi. Jika peradangan itu terjadi terus menerus dampak sesudah itu bisa menjadi kanker," katanya.
Keberadaan kabut asap diakuinya tidak menutup kemungkinan bisa menyebabkan kematian. Terutama untuk yang memiliki latar belakang penyakit jantung. Sebab kandungan gas dan partikel yang ada dalam kabut tersebut dapat memicunya.
Ia menyebutkan warga yang memiliki latar belakang penyakit saluran pernafasan ini seperti, paru- paru, jantung dan juga asma, sedapat mungkin untuk menghindari asap dan tetap berada dalam rumah. Sebab penyakit yang sudah diderita itu akan cepat muncul kembali dengan rangsangan asap yang berterbaran diluaran.
Selain itu, menurut golongan usia, yang paling riskan terserang penyakit gangguan asap tersebut adalah kelompok balita, usia lanjut dan juga ibu hamil. Sebab daya tahan tubuh menerima antioksidan yang terkandung dalam asap masih rendah. Sedangkan untuk ibu hamil, kandungan zat asam dalam asap dapat merusak fungsi otak pada janin yang dikandungnya.
"Kita tekankan betul kepada masyarakat untuk kelompok ini sedapat mungkin menghindari asap. Lebih baik berada di dalam ruangan daripada harus menanggung resiko buruk yang akan didapat," katanya.
Meskipun begitu bukan berarti di luar kelompok itu, juga tidak harus berhati-hati. Menghindari kabut asap tersebut adalah lebih baik. Jika tidak ada hal yang penting, lebih baik tidak keluar ruangan.
Kalaupun terpaksa keluar hendaknya menggunakan alat pelindung seperti masker. Minimal bisa menggunakan sapu tangan untuk menutup hidung atau mulut. Saat berkendaraan kaca mobil, kaca helm ditutup dan menggunakan jaket. (*)