PASCAMERAPI MELETUS
Duh... Saya Stres Melihat Rumah Hancur Begini
Siapa orangnya yang tidak sedih jika apa yang telah usahakan bertahun-tahun tiba-tiba hancur lebur.
TRIBUNNEWS.COM, JOGJA- Siapa orangnya yang tidak sedih jika apa yang telah usahakan bertahun-tahun tiba-tiba hancur lebur. Lebih dari itu, kehilangan anggota keluarga dan sanak saudara seolah melengkapi kesedihan ketika menatap kondisi rumahnya 40 hari sejak meletus Gunung Merapi.
Wajah pria itu pucat. Sejenak ia tak bisa berkata-kata, dan hanya air mata yang mengalir membasahi pipi jatuh ke tanah. Sugianto (25), satu dari ribuan warga korban erupsi Merapi benar-benar tak percaya, ketika untuk kali pertama melihat rumahnya pascaerupsi Merapi tanggal 26 Oktober silam.
"Kok Begini. Kok sampai begini," ujar warga Dusun Ngrangkah, Desa Pangukrejo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, Minggu (5/12) pagi.
Sugianto benar-benar tak bisa percaya melihat rumah yang ia bangun dari jerih payahnya bertahun-tahun bekerja, kini hanya tingga puing-puing. “Saya stres melihat kondisi rumah saya hancur,” katanya terbata-bata menahan kesedihan.
Kesedihan suami Ningtri Susanti (23) itu memang cukup beralasan. Sebab, rumah sederhana yang ambruk diterjang material vulkanik Merapi itu merupakan hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun. Selama ini, Sugianto bekerja sebagai kuli bangunan dengan upah hanya Rp 20 ribu per hari.
“Saya kerja keras membangun rumah itu. Sekarang hasil kerja keras saya telah sirna,” katanya sambil menatap puing-puing rumahnya.
Setelah beberapa saat menatap rumahnya, Sugianto pun bergerak memasuki bekas rumahnya itu. Dengan sabar, ia membersihkan debu dan material lain yang menutupi reruntuhan rumahnya. “Barangkali masih ada barang yang bisa saya bawa,” kata Sugianto.
Sekitar satu jam mencari-cari, laki-laki itu pun menemukan beberapa barang yang bisa digunakan untuk melanjutkan hidup. Beberap gelas, piring dan pakaian pun berhasil ia selamatkan.
“Lumayan, masih ada barang yang selamat.Setidaknya saya masih punya harta, meski hanya ini,” kata Sugianto dengan suara lirih, sambil mengangkat beberapa barang yang ditemukan itu.
Dengan beberapa barang itu, Sugianto melangkah meninggalkan rumahnya. Sesekali ia menoleh ke belakang, seperti tak percaya bila rumahnya telah hancur. “Saya kembali ke Maguwoharjo saja (Barak pengungsi, red),” katanya sambil melangkah.
Sugianto dan istrinya, mulai mengungsi sejak 2 hari sebelum Merapi murka. Sudah 7 barak yang ia tempati dan yang paling akhir di Maguwoharjo. "Maguwoharjo adalah tempat pengungsian yang kesembilan. Sebelumnya, saya sempat ngungsi di Kantor Desa Umbulharjo, kemudian pindah-pindah" tandasnya dengan mata masih memerah. (*)