Minggu, 31 Mei 2026

RS PTPN VI Terbengkalai

Puluhan tempat tidur pasien dan berbagai jenis peralatan medis milik Rumah Sakit PTPN VI Kayu Aro terbengkalai

Tayang:
Editor: Prawira

TRIBUNNEWS.COM, KERINCI - Puluhan tempat tidur pasien dan berbagai jenis peralatan medis milik Rumah Sakit PTPN VI Kayu Aro, hanya menjadi barang rongsokan dan terbengkalai karena tidak dipakai sesuai dengan fungsinya. Padahal berbagai peralatan yang dimiliki rumah sakit itu harganya cukup mahal.

RS PTPN VI terpaksa tak lagi melayani pasien lantaran izin operasi Rumah Sakit PTPN VI yang berada di areal perkebunan teh tersebut tidak diperpanjang. Penyebabnya, rumah sakit dianggap tidak memenuhi syarat menjadi rumah sakit.

Ironisnya, rumah sakit ini sangat dibutuhkan warga sekitar, karena rumah sakit terdekat lainnya berjarak 40 km, yakni di Sungaipenuh.  

"Ya, izin rumah sakit ini hanya berlaku hingga Oktober 2010, dan tidak bisa diperpanjang lagi lantaran kita kekurangan tenaga medis, khususnya dokter," ujar Manager PTPN VI, Zainal Prayitno, kepada Tribun, Jumat (23/9) kemarin. Awalnya rumah sakit yang didirikan sejak zaman penjajahan Belanda tersebut, memiliki beberapa dokter, namun beberapa orang dokter mengundurkan diri, termasuk kepala rumah sakit, yang sudah diangkat menjadi PNS.

"Dulunya rumah sakit ini didirikan untuk pusat kesehatan karyawan perkebunan saja, namun saat masa jayanya banyak warga umum yang berobat, selain dari Sungaipenuh ada juga yang datang berobat dari kabupaten tetangga," katanya.

Karena fasilitas rumah sakit yang lengkap, dan fasilitas ruangan yang memadai, ditambah lagi dengan kondisi lingkungan rumah sakit yang sangat mendukung, Zainal sangat menyayangkan jika rumah sakit tersebut harus ditutup dan terbengkalai begitu saja.
"Kita mengharapkan rumah sakit ini berfungsi kembali. Kami sudah mengusulkan kepada Pemda untuk bekerjasama mengaktifkan kembali rumah sakit ini. Bagaimana bentuk kerjasamanya terserah, yang jelas saling menguntungkan," jelasnya.

Menurut pegawai bagian tata usaha Rumah Sakit PTPN VI Riani, rumah sakit yang memiliki beberapa bagian bangunan tersebut, memiliki daya tampung sekitar 100 pasien, dengan perlengkapan medis yang cukup memadai.

"Petugas yang masih bertahan sekitar 29 orang, 13 di antaranya adalah tenaga medis, dan selebihnya tenaga administrasi. Saat masih aktif, rumah sakit ini memiliki 80 orang petugas," terangnya.
Selain didukung tenaga medis, rumah sakit tersebut memiliki ruang poli gigi, ruangan operasi, ruangan ronsen, kamar bersalin, ruang labor, ruang apotik, ruangan UGD, ruang perawatan anak, ruang isolasi, ruang pospartus, serta beberapa ruangan perawatan lainnya.

"Ruang perawatan kelas III untuk wanita berkapasitas 20 orang, begitu juga dengan ruang perawatan kelas III pria. Selain itu ada juga ruangan kelas II pria dan wanita, ditambah dengan ruangan VIP dan super VIP, serta ruang KB," kata Rianti.

Menurutnya sejumlah perlengkapan medis sudah mengalami kerusakan, karena tidak pernah lagi dipakai, serta ketinggalan teknologi. Beberapa alat medis yang masih berfungsi adalah alat ronsen, perlengkapan pemasangan alat KB, ruang operasi, dan mobil ambulan.

"Beberapa alat sudah rusak, yakni alat perawatan gigi, beberapa unit tempat tidur, dan mikroskop. Sementara kondisi bangunan masih sangat kokoh, meskipun dibangun zaman penjajahan Belanda," tambahnya lagi.

Jika rumah sakit tersebut kembali berfungsi, Rianti berharap beberapa petugas yang masih bertahan tetap diberdayakan, meskipun mereka tidak mendapatkan sekolah kesehatan secara formal.
"Jangan sampai mereka dibuang, karena pengalaman mereka masih bisa dimanfaatkan," pungkasnya.

Sumber: Tribun Jambi
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved