Kamis, 11 Juni 2026

Uang Sandar TKI Rp 200 Ribu

Sejak bulan Desember lalu, ribuan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal dari Malaysia

Tayang:
Editor: Hendra Gunawan

Laporan Tim Wartawan Tribun Batam

TRIBUNPEKANBARU.COM, BATAM-Sejak bulan Desember lalu, ribuan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal dari Malaysia masuk Batam dan Kepri pada umumnya. Para pekerja yang kebanyakan mencari pengahasilan di perkebunan-perkebunan, proyek bangunan, dan pekerja serabutan itu memilih kabur dari Negeri Jiran karena sedang ada razia besar-besaran.

Razia atau yang biasa disebut dengan istilah 'pemutihan' itu dilakukan otoritas setempat biasanya untuk pengecekan paspor, visa, maupun permit kerja.
Di samping itu ribuan TKI telah dipulangkan paksa, setelah sebelumnya dirazia dan ditahan secara sewenang-wenang oleh pemerintah Malaysia. Ada yang dicambuk, ada juga yang ditahan berhari-hari sebelum akhirnya diserahkan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) maupun Konsulat Jenderal (Konjen) setempat.

Para TKI ini tidak lebih baik nasibnya dibandingkan dengan mereka yang lolos dari kejaran petugas. Bagi yang berhasil melarikan diri, para TKI pun mesti bergelut dengan maut karena berhari-hari kabur ke tengah hutan tanpa arah pasti.

Pemerintah Indonesia, termasuk pemerintah daerah di wilayah perbatasan, seperti halnya Pemprov Kepulauan Riau maupun Pemko Batam, baru mengetahui nasib mereka ketika para TKI dipulangkan. Pihak-pihak berkompeten mengaku tidak mengetahui ketika para TKI menyeberang secara ilegal.

Lantas bagaimana modus para calo TKI menjalankan modus menyelundupkan para TKI? Adakah pihak yang bermain? Berdasarkan penelusuran tim Tribun, ratusan pelabuhan tikus yang tersebar di Batam menjadi tempat favorit  jalur penyelundupan maupun pemulangan ribuan TKI ilegal itu.

Meskipun sudah puluhan tahun beroperasi, keberadaan pintu-pintu penyelundupan tersebut belum tertangani sebagaimana mestinya. Disinyalir jalur ini tetap beroperasi karena adanya jaminan keamanan yang dilakukan oleh lembaga tertentu, bahkan ada permainan oknum aparat.

Pantauan Tribun di beberapa pelabuhan tikus yang masih tetap eksis, antara lain pelabuhan di Tanjung Sengkuang, Teluk Mata Ikan, Teluk Mergong, Tanjung Memban, Batu Merah, Dapur 12 dan pelabuhan tikus Batam Lestari, Sekupang. Selain menerima TKI yang pulang secara ilegal, ada juga sebagian oknum penyalur tenaga kerja ke luar negeri yang nekat menggunakan jalur tikus tersebut untuk menjalankan aktivitas usahanya.

Bahkan, jalur tikus ini konon juga menjadi lokasi paling aman bagi penyelundup minuman keras (miras) impor dari beberapa negara tetangga.
Mengenai teknis pengiriman para TKI itu sendiri sangat sederhana. Para agen TKI ilegal mengumpulkan para TKI di sebuah tempat di Batam. Setelah mendapatkan penjelasan dan persiapan, para calon TKI langsung dibawa ke pelabuhan tikus untuk diseberangkan menggunakan perahu-perahu atau kapal yang jauh dari layak. Karena pemberangkatannya yang sembarangan itu tak heran jika pengiriman maupun penjemputan TKI ini kerap mengalami kecelakaan laut.

"Kita diseberangkan menggunakan perahu kayu. Kita dari darat tersamar karena penjemputan dilakukan menggunakan perahu yang menunggu di lautan, beberapa puluh meter dari pantai. Kita berbasah-basah hingga menggapai perahu. Untuk menyeberang pokoknya asal bisa naik, berapa pun diangkut," kata Eva, salah seorang TKI ilegal yang kini tengah berada di Batam, kepada Tribun, pekan lalu.

Eva menuturkan, untuk menyeberang ke Sekupang dari Malaysia dirinya bagaikan dijejal di dalam kapal. Nakhoda kapal juga tak mempedulikan kecepatan dan cuaca buruk di lautan.

"Ampun...seperti mau mati di laut. Kita semua saling bergandengan agar tak terlempar ke laut. Kita semua, ada 17 orang berdoa kalau memang akan tenggelam, kita tenggelam bersama-sama," katanya. Menurutnya, proses penjemputan oleh sang tekong atau calo yang membawanya, sama saat ia dan rombongannya diselundupkan ke Malaysia beberapa bulan lalu.

Kisah duka perjuangan untuk keluar masuk Malaysia juga didapatkan Tribun dari sejumlah TKI ilegal. Menurutnya, TKI selalu siap main kucing-kucingan untuk bisa mencari nafkah di negeri orang. Jika sial, mereka pun sadar pasti tidak selamat.

Namun, ibarat sudah jatuh, masih tertimpa tangga pula ketika para TKI keluar dari Malaysia. Seperti halnya ketika hendak diselundupkan, pada saat datang pun para TKI mengaku masih dikenai pungutan tak jelas oleh lembaga yang tak berkompeten.

"Ada pemungutan liar dengan mengatas-namakan biaya keamanan bagi TKI yang pulang secara gelap. Siapa yang menarik saya lupa, tapi hanya aku ingat oleh salah satu lembaga gitu," kata Udin, TKI yang baru pulang dari Johor. Ia memastikan pungutan itu ada di beberapa pelabuhan tikus, terutama yang ia ketahui di wilayah Nongsa.

Sumber: Tribun Batam
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved