Minggu, 31 Agustus 2025

Pengorbanan Suami untuk Istri Tercinta

Dalam perjalanan, hati Adi berkecamuk oleh amarah, rasa rindu, cinta kepada istrinya, hingga perasaan ciut kehilangan nyawa.

zoom-inlihat foto Pengorbanan Suami untuk Istri Tercinta
NET
ILUSTRASI

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Lagu Bee Gees berjudul 'How Deep is Your Love' menjadi lagu yang mendorong keberanian Setiadi alias Adi (20) menjemput istrinya, Sri Eka Oktaviani alias Riska (17), di Kota Lubuk Linggau, Sumatera Selatan.

Riska diduga menjadi korban perdagangan manusia (human trafficking), yang kemudian dipekerjakan menjadi wanita penghibur.

Setelah ramainya pemberitaan bahwa Riska diduga dijual oleh ibunya sendiri, kemudian bekerja di tempat karaoke sebagai wanita penghibur, Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Satreskrim Polres Bandung langsung menerjunkan personelnya untuk menjemput Riska.

Tak hanya polisi yang pergi ke kota di utara Sumatera Selatan, Adi pun turut menemani polisi menjemput istrinya.

"Perkawinan kami belum berusia setahun ketika Riska pergi ke Lubuk Linggau. Saat polisi mengajak saya untuk pergi menjemputnya, saya langsung mengiyakan ajakan itu," ujar Adi ketika ditemui di kediamannya di Katapang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat belum lama ini.

Adi kemudian menceritakan pengalamannya ketika hendak menjemput Riska di Lubuk Linggau. Kala itu, Senin (21/5/2012), di suatu siang yang sangat terik, polisi menyiapkan semua yang dibutuhkan untuk menjemput Riska.

Di dalam mobil, sepucuk senjata api jenis AK-47 ditawarkan seorang polisi kepadanya sambil bergurau.

"Seorang polisi yang ikut menjemput bilang ke saya, jika nanti di Lubuk Linggau ada apa-apa, untuk jaga diri, gunakan senjata ini. Saya kaget dan tidak berani memegangnya. Lihat juga belum. Melihat senjata itu, meyakinkan saya agar bisa membawa pulang Riska," tutur Adi.

Perjalanan dari Kabupaten Bandung hingga Lubuk Linggau, yang menempuh 30 jam, dilalui Adi bersama polisi, yang juga dilengkapi beberapa pucuk senjata.
Ketika tiba di Jakarta, tersiar kabar bahwa Riska telah pulang. Namun, Adi dan polisi yang pergi menjemput belum yakin dengan kabar itu.

"Dengar kabar itu hati ini langsung tenang. Tapi, saya dan polisi belum percaya sepenuhnya dengan kabar itu, dan akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan," ungkapnya.

Dalam perjalanan, hati Adi berkecamuk oleh amarah, rasa rindu, cinta kepada istrinya, hingga perasaan ciut kehilangan nyawa.

"Pergi menjemput istri saya ke tempat yang dikenal rawan, bukan perkara gampang. Karena, meski bersama polisi, belum sepenuhnya bisa menjamin keselamatan nyawa saya," katanya.

Selama perjalanan dari Bandung hingga menyeberang melalui Pelabuhan Merak, Adi mengaku sering membayangkan akan tewas tertembak saat penggerebekan.

"Tapi, saya sadar saya adalah suami yang harus berkorban untuk istri. Ya, jika selama saya menikah belum bisa memberikan nafkah secara maksimal, paling tidak, saat itulah waktu yang tepat berbuat sesuatu untuk istri saya," paparnya sambil tersenyum.

Ketika tiba di Lampung, hati Adi kembali berkecamuk. Adi merasakan takut yang luar biasa. Lampu-lampu jalan di Lampung dan perempuan-perempuan malam yang ia lihat, menambah gejolak hartinya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan