Rabu, 6 Mei 2026

Banjir Bandang Padang

Kami Belum Sempat Berbuka Puasa Tiba-tiba Air Meluap

Sehari setelah banjir surut, sebagian warga sudah kembali ke rumah masing-masing.

Tayang:
Editor: Rachmat Hidayat

TRIBUNNEWS.COM,PADANG-- "Sudahlah, Nur, jangan menangis lagi. Hapuslah air mata kau itu." Demikian kata Mardus (65) kepada Nurdini (60), istrinya.  Mendengar kata suaminya, Nurdini mengusap air mata dengan kain panjang di lehernya.

Tapi setelah itu, giliran Mardus pula yang menangis. Mereka duduk bersimpuh di depan rumah yang sudah terbenam lumpur.

Mereka hanya bisa pasrah. Di depan mereka berdua, orang-orang berlalu-lalang mengangkat barang-barang yang tersisa. Tapi mereka tidak beranjak atau bekerja seperti para tetangga mereka tersebut.

"Kami mau apa? Tidak ada lagi yang tersisa. Rumah sudah habis tertimbun tanah. TV? Entah di mana, belum bertemu lagi," ujar Nurdini.

TV adalah benda paling berharga di rumahnya. Rumah mereka berada persis di tepi Batang Kuranji. Tepatnya di bawah jembatan Koto Panjang, Limau Manis, Kota Padang, yang putus akibat banjir bandang, Selasa malam (24//7).

Saat sungai meluap, rumahnya termasuk yang pertama dihantam banjir. "Kami belum sempat berbuka puasa. Padahal nasi sudah disiapkan. Tiba-tiba air meluap dan rumah terpaksa ditinggalkan," cerita Nurdini, Rabu (25/7).

Banjir yang tiba-tiba datang sekitar pukul 18.30 WIB itu sontak membuat warga di sekitar Koto Panjang itu meninggalkan rumah. Ada yang naik ke dataran tinggi, ada yang menumpang rumah tetangga yang aman, seperti yang dilakukan Nurdini dan Mardus.

Mardus dan beberapa warga lainnya mendatangi rumah mereka kembali, setelah air surut pada Rabu dini hari. Sesampai di depan rumah, mereka tak kuasa menahan air mata. Rumah-rumah kecil itu sudah tak berbentuk lagi. "Saya belum tidur dari tadi malam. Nasi bungkus pembagian itu tak tersuap. Tubuh ini remuk sekali rasanya. Tak tahu harus bagaimana lagi," keluh Mardus.

Sehari setelah banjir surut, sebagian warga sudah kembali ke rumah masing-masing.

Mereka membersihkan rumah dari lumpur yang mulai mengering. Namun rumah Mardus sulit dibersihkan karena lumpurnya yang sangat tebal dan mulai mengeras. Enam orang anaknya bergantian mencangkul timbunan tanah di dalam rumah yang tingginya mencapai satu meter.

"Semuanya sudah habis. Biasanya siang ini saya istirahat sepulang dari sawah. Kini sudah tak bisa lagi, karena sawah pun ikut kena banjir. Habis akal saya, Nak. Sebentar lagi Hari Raya (Lebaran-red)," ujar Nur. (singgalang)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved