Panen Melimpah, Harga Cengkeh Anjlok

Harga cengkeh di tingkat petani di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, terus turun

Panen Melimpah, Harga Cengkeh Anjlok
IST
Panen Cengkeh

TRIBUNNEWS.COM PURWAKARTA,- Harga cengkeh di tingkat petani di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, terus turun seiring meningkatnya pasokan dalam dua bulan terakhir. Namun, harga dinilai masih menguntungkan petani dan para pekerja yang terlibat di usaha tersebut.

Emit Sasmita (50), petani cengkeh di Desa Sukadami, Kecamatan Wanayasa, Sabtu (28/7/2012), menyebutkan, harga cengkeh kering turun dari Rp 140.000 per kilogram (kg) pada Mei 2012 menjadi Rp 78.000-83.000 beberapa hari ini. Penurunan terjadi seiring dimulainya panen di sebagian besar sentra cengkeh, khususnya di Kecamatan Wanayasa, Pondoksalam, Bojong, Kiarapedes, dan Darangdan.

Emit menambahkan, produksi cengkeh musim ini terbilang besar. Satu pohon usia 25 tahun milik Emit, misalnya, sudah menghasilkan 80 kg (cengkeh basah) meski panen belum usai. Tahun lalu hasil panen tak lebih dari 30 kg per pohon. Sebagian pohon tak berbuah karena pengaruh cuaca.

Menurut Emit, meski harga anjlok, petani tetap untung karena hasil panen melimpah. Dengan menjual cengkeh basah, petani bisa memperoleh Rp 2 juta dari satu pohon. Padahal, petani umumnya hanya merawat pohon seadanya, yakni pupuk dan semprot dengan biaya ribuan hingga puluhan ribu rupiah per pohon.

Selain petani, panen kali ini menguntungkan para pemetik, pengumpul tangkai dan daun, serta warga pemungut biji rontok. Seorang pemungut biji yang rontok bisa mengumpulkan 3-5 kg cengkeh basah per hari yang dapat dijual ke pengumpul Rp 75.000-125.000.

Adi (48), buruh cengkeh di Desa Sukadami, mengatakan, selain memungut cengkeh yang dapat dijual Rp 25.000 per kg, warga juga memanfaatkan tangkai cengkeh dan daun. Tangkai bisa dijual Rp 6.000 per kg, sementara daun cengkeh Rp 1.500 per kg.

Buruh seperti Adi juga mendapat pemasukan dari upah petik cengkeh Rp 2.000 per kg dan pipil Rp 600 per kg. Selama tahun 2010-2011, petani cengkeh dan komoditas perkebunan lain, seperti manggis, rambutan, dan mangga di Purwakarta dan Subang tak memperoleh hasil menguntungkan akibat gangguan cuaca.

Hujan tak menentu, proses penyerbukan, pembuahan, dan panen melenceng dari jadwal rutin tahunan. Produksi pun cenderung turun.

Editor: Budi Prasetyo
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved