Jumat, 1 Mei 2026

Melihat Jejak Sejarah Belitong di Parang Badau

TIDAK lebih dari tujuh bengkel yang masih memproduksi Parang Badau di Desa Badau,

Tayang:
Editor: Hendra Gunawan

Laporan Wartawan Bangka Pos, Wahyu Kurniawan

TRIBUNNEWS.COM -- TIDAK lebih dari tujuh bengkel yang masih memproduksi Parang Badau di Desa Badau, Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung. Namun,keberadaan mereka menjadi 'benang merah' sejarah pengerjaan logam di Belitung ratusan tahun silam.

Sudirun (45) satu di antara tujuh pemilik bengkel pembuatan Parang Badau di Desa Badau yang masih bertahan. Tangannya sangat piawai menempa sepotong per bekas mobil menjadi sebilah parang bermutu tinggi.

Semula, sepotong per dibakar dalam bara api dan kemudian dibelah menjadi dua dengan menggunakan pahat. Kedua potongan per tersebut masing-masing dibelah lagi menjadi dua dengan pola menyerupai bentuk parang. Potongan yang sudah memiliki pola tersebut kemudian dibakar dan ditempa berkali-kali sampai mencapai benar-benar berbentuk parang.

Setelah mendapatkan bentuk yang diinginkan, parang kemudian diberi cap dan dihaluskan dengan menggunakan mesin pengasah. Setelah cukup mengilap, parang kemudian disepuh. Menurut Sudirun proses ini merupakan kunci dari kekuatan Parang Badau.

Parang yang sebelumnya sudah diasah kemudian dibakar lagi dalam bara api dan bagian mata parangnya dicelupkan ke dalam air di sebuah wadah bambu. Proses ini membuat mata parang mengelurkan efek berwarna biru mengkilap dan dipercaya membuat mata parang lebih awet.

Sudirun mengatakan, dirinya tak pernah menggunakan cetakan ataupun ukuran berat tetap. Tapi setiap parang buatannya yang sudah siap pakai memiliki panjang kurang lebih 30 sentimeter dengan berat kurang lebih 4,5-5 ons.

Sedangkan bentuk parang dibuat melonjong di bagian ulu. Bentuk ini membuat beban dipusatkan ke bagian ulu guna menimbulkan efek tebasan parang yang maksimal.

Dengan pengalaman lebih dari 30 tahun, Sudirun pun tak segan untuk memberikan garansi untuk setiap parang buatannya. Kepiawaiannya itu melengkapi citra Parang Badau yang selama ini dikenal sebagai perkakas nomor 1 di Pulau Belitung.

"Keahlian ini sudah turun temurun, saya ini sudah generasi ketiga, saya belajar dari ayah saya, dan ayah saya belajar dari kakek saya," kata Sudirun ketika ditemui bangkapos.com di kediamannya, Sabtu (27/10/2012) siang.

Para pewaris keahlian membuat parang tak bisa memastikan kapan pertama kali sejarah pembuatan Parang Badau dimulai. Sudirun sendiri mengaku, sejarah yang ia ketahui putus sampai kakeknya dan ia tak tahu sejak kapan dan di mana kakeknya mendapat keahlian membuat parang.

Seingatnya, pembuatan Parang Badau di zaman kakeknya sudah menggunakan bahan baku per bekas. Hanya saja peralatan yang digunakan untuk membuat parang masih sangat sederhana. Proses merapikan parang masih menggunakan kikir. Pompa untuk membakar arang yang disebut Puporan masih terbuat dari kayu, beda dengan sekarang yang sudah menggunakan pipa.

"Tapi ceritanya dulu, pembuatan parang ini dilakukan di satu tempat dalam satu bengkel, jadi kualitas parang antara satu tukang dengan tukang lainnya hampir sama, karena Quality controlnya lebih mudah,"
tutur Sudirun.

Komoditi Datang Dari penelusuran Pos Belitung, sejak abad ke-17 sudah terdapat produksi parang di Belitung. Hal itu diungkap oleh Dosen Sejarah Kolonial Universitas Amsterdam W.S.Stapel dalam buku Aanvullende Gegevens Geschiedenis Billiton, 1938.

"Pada permulaan abad ke-17 sudah ada hubungan dagang antara Pulau Belitung dengan beberapa tempat yang diduduki oleh Belanda, terutama dengan Batavia. Hasil ekspor yang utama dari Pulau Belitung yakni besi, dan perkakas dari besi, dan juga adakalanya damar dan beras," kata Stapel dalam bukunya.

Sumber: Bangka Pos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved