Melihat Jejak Sejarah Belitong di Parang Badau
TIDAK lebih dari tujuh bengkel yang masih memproduksi Parang Badau di Desa Badau,
Untuk memperkuat pernyataan itu, Stapel melampirkan sejumlah kutipan yang diambil dari buku register harian dari Batavia. Di antaranya disebutkan hubungan dagang antara Batavia dan Belitung dari 1640-1665.
Dalam kurun waktu tersebut, Belitung atau Belitong tercatat pernah mengirimkan sebuah tongkang bersama 21 awak dengan membawa 10.000 muatan yang berisi kapak dan parang. Selanjutnya Mei 1661 dikirim lagi 10.000 buah kapak dan 50 pikul damar, Mei 1665 dikirim 1900 pahat dan 100 buah parang, 5 pikul damar, dan 60 tikar. Pada November 1665, seorang penduduk Belitung membawa 2000 buah kapal ke Batavia.
Sudirun mengaku tak mengetahui mengenai sejarah tersebut. Setahunya di era 70-an sejumlah pengumpul dari Toboali, Bangka Selatan sudah membuka hubungan perdagangan dengan bengkel parang dan besi di Badau.
Terpisah, Pemerhati Budaya Bangka Ichsan Mokoginta mengatakan, Parang Badau dikenal masyarakat Bangka dengan sebutan Parang Belitung. Oleh masyarakat di sana Parang Belitung diyakini menyimpan nilai mistis.
"Kalau di Bangka namanya Parang Belitung. Proses penempaannya mengandung nilai mistis. Bahkan bagi pencari lebah (Lebah Sunggau) parang ini memiliki tuah jika di badan parang ditemukan gurah tertentu," ungkap Ichan kepada bangkapos.com, Minggu (28/10/2012) pagi.
Sementara Pemerhati Budaya Belitong Fithrorozi menyakini Parang Badau menjadi jejak dari catatan sejarah perdagangan parang yang ditulis dalam buku Stapel. Catatan itu sekaligus menunjukkan bahwa Belitung sudah mengenal metalurgi yakni ilmu tentang pengerjaan logam secara kimiawi dan secara mekanis sehingga dari bijih kemudian diperoleh logam yang berguna.