Melihat Jejak Sejarah Belitong di Parang Badau
TIDAK lebih dari tujuh bengkel yang masih memproduksi Parang Badau di Desa Badau,
Laporan Wartawan Bangka Pos, Wahyu Kurniawan
TRIBUNNEWS.COM -- TIDAK lebih dari tujuh bengkel yang masih memproduksi Parang Badau di Desa Badau, Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung. Namun,keberadaan mereka menjadi 'benang merah' sejarah pengerjaan logam di Belitung ratusan tahun silam.
Sudirun (45) satu di antara tujuh pemilik bengkel pembuatan Parang Badau di Desa Badau yang masih bertahan. Tangannya sangat piawai menempa sepotong per bekas mobil menjadi sebilah parang bermutu tinggi.
Semula, sepotong per dibakar dalam bara api dan kemudian dibelah menjadi dua dengan menggunakan pahat. Kedua potongan per tersebut masing-masing dibelah lagi menjadi dua dengan pola menyerupai bentuk parang. Potongan yang sudah memiliki pola tersebut kemudian dibakar dan ditempa berkali-kali sampai mencapai benar-benar berbentuk parang.
Setelah mendapatkan bentuk yang diinginkan, parang kemudian diberi cap dan dihaluskan dengan menggunakan mesin pengasah. Setelah cukup mengilap, parang kemudian disepuh. Menurut Sudirun proses ini merupakan kunci dari kekuatan Parang Badau.
Parang yang sebelumnya sudah diasah kemudian dibakar lagi dalam bara api dan bagian mata parangnya dicelupkan ke dalam air di sebuah wadah bambu. Proses ini membuat mata parang mengelurkan efek berwarna biru mengkilap dan dipercaya membuat mata parang lebih awet.
Sudirun mengatakan, dirinya tak pernah menggunakan cetakan ataupun ukuran berat tetap. Tapi setiap parang buatannya yang sudah siap pakai memiliki panjang kurang lebih 30 sentimeter dengan berat kurang lebih 4,5-5 ons.
Sedangkan bentuk parang dibuat melonjong di bagian ulu. Bentuk ini membuat beban dipusatkan ke bagian ulu guna menimbulkan efek tebasan parang yang maksimal.
Dengan pengalaman lebih dari 30 tahun, Sudirun pun tak segan untuk memberikan garansi untuk setiap parang buatannya. Kepiawaiannya itu melengkapi citra Parang Badau yang selama ini dikenal sebagai perkakas nomor 1 di Pulau Belitung.
"Keahlian ini sudah turun temurun, saya ini sudah generasi ketiga, saya belajar dari ayah saya, dan ayah saya belajar dari kakek saya," kata Sudirun ketika ditemui bangkapos.com di kediamannya, Sabtu (27/10/2012) siang.
Para pewaris keahlian membuat parang tak bisa memastikan kapan pertama kali sejarah pembuatan Parang Badau dimulai. Sudirun sendiri mengaku, sejarah yang ia ketahui putus sampai kakeknya dan ia tak tahu sejak kapan dan di mana kakeknya mendapat keahlian membuat parang.
Seingatnya, pembuatan Parang Badau di zaman kakeknya sudah menggunakan bahan baku per bekas. Hanya saja peralatan yang digunakan untuk membuat parang masih sangat sederhana. Proses merapikan parang masih menggunakan kikir. Pompa untuk membakar arang yang disebut Puporan masih terbuat dari kayu, beda dengan sekarang yang sudah menggunakan pipa.
"Tapi ceritanya dulu, pembuatan parang ini dilakukan di satu tempat dalam satu bengkel, jadi kualitas parang antara satu tukang dengan tukang lainnya hampir sama, karena Quality controlnya lebih mudah,"
tutur Sudirun.
Komoditi Datang Dari penelusuran Pos Belitung, sejak abad ke-17 sudah terdapat produksi parang di Belitung. Hal itu diungkap oleh Dosen Sejarah Kolonial Universitas Amsterdam W.S.Stapel dalam buku Aanvullende Gegevens Geschiedenis Billiton, 1938.
"Pada permulaan abad ke-17 sudah ada hubungan dagang antara Pulau Belitung dengan beberapa tempat yang diduduki oleh Belanda, terutama dengan Batavia. Hasil ekspor yang utama dari Pulau Belitung yakni besi, dan perkakas dari besi, dan juga adakalanya damar dan beras," kata Stapel dalam bukunya.
Untuk memperkuat pernyataan itu, Stapel melampirkan sejumlah kutipan yang diambil dari buku register harian dari Batavia. Di antaranya disebutkan hubungan dagang antara Batavia dan Belitung dari 1640-1665.
Dalam kurun waktu tersebut, Belitung atau Belitong tercatat pernah mengirimkan sebuah tongkang bersama 21 awak dengan membawa 10.000 muatan yang berisi kapak dan parang. Selanjutnya Mei 1661 dikirim lagi 10.000 buah kapak dan 50 pikul damar, Mei 1665 dikirim 1900 pahat dan 100 buah parang, 5 pikul damar, dan 60 tikar. Pada November 1665, seorang penduduk Belitung membawa 2000 buah kapal ke Batavia.
Sudirun mengaku tak mengetahui mengenai sejarah tersebut. Setahunya di era 70-an sejumlah pengumpul dari Toboali, Bangka Selatan sudah membuka hubungan perdagangan dengan bengkel parang dan besi di Badau.
Terpisah, Pemerhati Budaya Bangka Ichsan Mokoginta mengatakan, Parang Badau dikenal masyarakat Bangka dengan sebutan Parang Belitung. Oleh masyarakat di sana Parang Belitung diyakini menyimpan nilai mistis.
"Kalau di Bangka namanya Parang Belitung. Proses penempaannya mengandung nilai mistis. Bahkan bagi pencari lebah (Lebah Sunggau) parang ini memiliki tuah jika di badan parang ditemukan gurah tertentu," ungkap Ichan kepada bangkapos.com, Minggu (28/10/2012) pagi.
Sementara Pemerhati Budaya Belitong Fithrorozi menyakini Parang Badau menjadi jejak dari catatan sejarah perdagangan parang yang ditulis dalam buku Stapel. Catatan itu sekaligus menunjukkan bahwa Belitung sudah mengenal metalurgi yakni ilmu tentang pengerjaan logam secara kimiawi dan secara mekanis sehingga dari bijih kemudian diperoleh logam yang berguna.