Gubernur Sulsel Dilempar Bom
Pengamat: Isu Syahrul Diteror Bisa Rekayasa
hanya design pencitraan demi menarik simpati publik.
Laporan Wartawan Tribun Timur / Ilham
TRIBUNNEWS.COM MAKASSAR,-Sejumlah pengamat politik menduga pelemparan benda campuran plastik disertai asap ke arah Calon Gubernur Sulsel nomor urut dua Syahrul Yasin Limpo manggung hanya design pencitraan demi menarik simpati publik.
Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar Aspiannor Masrie, mengatakan, modus insiden pelemparan di acara jalan sehat Syahrul, Monumen Mandala, Jl Jenderal Sudirman, Makassar, Minggu (11/11/2012) itu cenderung dikapitalisasi Tim Pemenang Sayang (Syahrul-Agus) dan termasuk Syahrul sendiri.
"Saat ini semua masih praduga tak bersalah karena motive pelaku belum ditahu. Yang jadi masalah saat Tim Sayang kemudian sontak memunculkan kata-kata, teror, bom atau SYL diteror bom, kemudian timnya mengingatkan waspada radikalisme, ini kelihatan dan bisa diduga didesain atau dibuat-buat agar masyarakat empati bahwa SYL dizalimi," kata Aspiannor kepada Tribun, Minggu (11/11/2012).
"Ritual yang kemudian bisa diduga pencitraan, saat SYL dikabarkan menghadap ibunya bahwa lolos dari teror bom, bom yang mana?. Padahal pelemparan itu baru asap tanpa ledakan. Kalau peneror atau teroris maka modusnya tidak sebodoh itu. Makanya kita minta polisi usut dan jelaskan kepada publik, supaya tidak muncul tudingan lain-lain bahwa itu aksi teroris, sekarang ini masih praduga tak bersalah," Aspiannor menambahkan.
Pengamat Komunikasi Politik UIN Alauddin Makassar DR Firdaus Muhammad, mengatakan, sebaiknya tim Sayang tidak reaktif dengan lantang menjual isu radikalisme, teroris, diteror bom pascapelemparan asap itu.
"Mengapa karena itu sangat sensitif bagi kalangan muslim, justru bisa menjadi bumerang bagi tim Sayang sendiri, percayakan pada pihak keamanan. Kalau merujuk pada teori, itu bisa saja hanya by design atau rekayasa tetapi untuk menghindari asumsi-asumsi yang bermunculan, sebaiknya pihak kepolisian segera publikasi siapa pelakunya. Atas kejadian ini SYL bisa dapat empati, tapi harus diperjelas dulu sosok pelakunya," kata Firadus Muhammad kepada Tribun.
Direktur Eksekutif PT Duta Politika Indonesia (PT DPI) Dedi Alamsyah, mengatakan, pelaku pelemparan adalah kelas bawah bukan orang profesional sebagaimana level teroris biasanya.
"Kenapa karena dia tidak persiapkan atau memastikan bom rakitan bisa meledak atau tidak, yang ada hanya asa. Kedua, kalau memang sasarannya Syahrul, harusnya dia bisa lansung "menyelesaikan" nya. Tapi kan cuma asap, dan lemparannya kelihatan jelas ke arah belakang SYL. Ini bisa jadi kasus jadi-jadian yang targetnya merebut simpati masyarakat, seolah-olah Syahrul tidak aman dan dizalimi," kata Dedy Alamsyah kepada Tribun.
Pantauan Tribun, pelemparan disertai asap tanpa ledakan itu terjadi saat Syahrul menyanyikan lagu Slank berjudul Ku Tak Bisa. Bukan saat Syahrul orasi sebagaimana diberitakan sebelumya. Jarak lemparan dari pelaku kurang lebih tujuh meter atau empat meter dari depan Syahrul berdiri.
Arah lemparan ke sisi belakang tempat Syahrul berdiri. Syahrul berdiri di lidah panggung. Sementara lemparan oknum yang mengenakan kaos warna kuning jatuh di sisi badan belakang "lidah" panggung. Hanya asap, tak ada ledakan sediktipun.
Sekitar pukul 08.10 Wita, pelaku diamankan aparat lantaran dihakimi sempat tim Sayang. Tak lama kemudian dibawa ke Polrestabes Makassar untuk dimintai keterangan.
Baca Juga
- Bosowa Serahkan Bantuan Secara Simbolik 30 menit lalu
- 'Bintang' di Puncak Tunas Pohon Cemara di Medan 39 menit lalu
- Fokus Bermain Untuk Persiba Balikpapan 41 menit lalu