11 Desa di Batanghari Terendam
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat sebanyak 11 desa dan 110 kepala keluarga
TRIBUNNEWS.COM, MUARA BULIAN - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat sebanyak 11 desa dan 110 kepala keluarga terkena banjir di Kecamatan Mersam, Kabupaten Batanghari.
"Ketinggian air mencapai kisaran 30-80 cm. Dan ketinggiannya bervariasi. Namun belum sampai menyentuh lantai rumah warga," ujar Samral Lubis, Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan, BPBD Batanghari, Senin (17/12/2012).
Desa yang terkena banjir di antaranya adalah Desa Benteng Rendah, Kembang Paseban, Kembang Tanjung, Mersam Ilir, Pematang Gadung, Teluk Melintang, Sengkati Gedang, Sengkati Baru, Sengkati Kecil Seberang, Sungai Puar Dalam, dan Rantau Gedang.
Untuk Kecamatan Maro Sebo Ulu, 110 KK di Desa Batu Sawar sudah terendam. Air dikabarkan sudah surut kembali dalam delapan jam. Air masih menggenangi perkarangan rumah di desa tersebut.
"Di Maro Sebo Ulu itu, air sudah mengepung 110 KK. Ketinggian air sekarang sebatas tiang rumah. Dan terakhir dikabarkan mulai surut dalam 8 jam," ujar Samral.
Air yang menggenangi Kecamatan Mersam dan Maro Sebo Ulu merupakan air kiriman dari Kabupaten Bungo dan Tebo. Air juga sempat terlacak meningkat di Jalan Ness, tepatnya di dekat Lapas Anak. Demikian pula dekat Jembatan Sungai Buluh arah ke Jambi.
"Bencana banjir ini berdampak pada lahan pertanian, perkebunan, sosial dan pendidikan. Sehingga perlu adanya koordinasi dengan dinas terkait untuk mencari solusi antisipasinya," ujar Samral.
Rakor sendiri direncanakan akan dilaksanakan pada hari Rabu (19/12/2012) di ruang Pola Kantor Bupati yang akan dihadiri langsung oleh Sekda, Ali Redo.
Warga RT 4 RW 1 Kelurahan Rengas Condong juga terendam banjir setinggi pinggang dewasa. Terdapat puluhan rumah warga terendam sehingga warga kesulitan untuk beraktivitas.
Yanto, warga RT 4 yang rumahnya ikut tenggelam saat ditemui terlihat sedang mengangkut beberapa papan dan kayu miliknya yang ikut terhanyut dibawa arus air. Dari sisi jalan rumahnya berjarak lebih kurang 60 meter. Dan dirinya memiliki satu perahu yang dimanfaatkannya untuk beraktivitas di genangan air.
"Air ini sudah dua hari merendam rumah. Akibatnya kami tidak bisa berbuat apa-apa, sampai anak-anak pun tidak bisa sekolah semua," ujar Yanto.
Yanto pun mengatakan bahwa rumah yang tenggelam bukan hanya rumahnya miliknya saja. Beberapa rumah di RT 4 ikut juga terendam seperti rumahnya. Sementara beberapa rumah yang memiliki kontruksi panggung, hanya terendam sebatas tiang. Akan tetapi tetap kesulitan beraktifitas karena keliling rumahnya telah digenangi air setinggi pinggang dewasa.
"Baru kali ini air sampai setinggi ini. Biasanya tahun lalu tidak sampai menenggelamkan rumah," ujar Yanto.
Yanto mengatakan banjir kali ini merupakan bencana alam bukan karena akibat dibangunnya water boom di seberang jalan rumahnya. Sebab, di bagian itu, merupakan daerah resapan air.
Hingga kini dirinya mengakui jika belum mendapatkan bantuan dari pihak manapun. Bahkan meskipun keberadaannya dekat dengan pusat kota pemerintahan kabupaten, tetapi belum mendapatkan kunjungan atau perhatian pihak manapun. (Tribun Jambi/Hendri Dunan)
Baca juga:
- Tiket Matarmaja, Malang - Jakarta Ludes Hingga 7 Januari 2013
- Belum Dibayar, Korban Lumpur Berupaya Jebol Tanggul
- Wakil Wali Kota Magelang Akui Pukul Istrinya 20 Kali