Scan QRIS, Nonton Wayang Orang Sriwedari Solo Jadi Makin Praktis
Wisatawan padati Wayang Orang Sriwedari, QRIS memudahkan transaksi tiket. Berikut cerita lengkapnya.
Laporan wartawan Tribunnews.com, Endra Kurniawan
TRIBUNNEWS.COM - Ratusan orang dari berbagai penjuru daerah memadati Gedung Wayang Orang Sriwedari di Kota Solo, Jawa Tengah, pada Kamis (28/5/2026) malam.
Suasana depan gedung bersejarah di pusat Kota Solo itu terasa hidup, diwarnai gelak tawa anak-anak, obrolan hangat antarkeluarga, hingga pasangan yang datang berdua menikmati malam bersama.
Satu per satu, mereka berbaris rapi di depan loket. Tak ada desak-desakan. Ponsel dikeluarkan, kode QRIS dipindai, transaksi selesai dalam hitungan detik.
Pengunjung kini tak perlu lagi repot membawa uang tunai, dan penjaga loket pun tak disibukkan dengan menghitung kembalian.
Semua jadi lebih praktis, cukup satu klik, tiket langsung berpindah tangan dengan harga terjangkau, yakni Rp20.000 wisatawan lokal dan Rp50.000 wisatawan mancanegara. Sedangkan jadwal pertunjungan tersedia setiap hari, kecuali Minggu dan tanggal libur nasional.
Kembali ke pertunjukan, begitu melangkah masuk ke dalam gedung, penonton langsung disambut alunan gamelan yang mengalun lembut, jadi menemani para pengunjung mencari kursi terbaik.
Ada yang langsung mengisi barisan depan, sementara sebagian lain naik ke balkon yang lebih lengang.
Jarum jam tepat menunjukkan pukul 20.00 WIB, artinya pertunjukan segera dimulai.
Begitu tirai penutup dibuka, muncul dua orang pembawa acara menjelaskan susunan pemain, cerita yang akan dibawakan, hingga larangan bagi penonton.
Lakon yang dipentaskan kali ini adalah Seno Kudra, sebuah kisah heroik tentang perjuangan melawan kezaliman.
Cerita bermula ketika penguasa Kerajaan Eka Cakra, Prabu Kala Bakasura, memerintahkan para pengikutnya untuk mencari manusia sebagai santapan karena persediaan makanan di istana mulai menipis.
Niat kejam tersebut mendapat perlawanan dari Prabu Brotoseno, yang berjuang melindungi rakyat Desa Manahilan dari ancaman raksasa pemakan manusia.
Para penonton juga dihibur dengan kemunculan Punakawan yang terdiri dari tokoh Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong dalam adegan Gara-gara menjadi momen transisi penting yang hadir di pertengahan menuju klimaks cerita.
Gara-gara diisi dengan guyonan, kritik sosial yang dikemas komedi, disampaikan lewat bahasa gaul dan kekinian.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Scan-QRIS-Nonton-Wayang-Orang-Solo-Jadi-Makin-Praktis-3.jpg)