Jumat, 24 April 2026

Suami Berjudi dan Jarang Pulang, Ibu-ibu Demo Pemkab Aceh Singkil

Lebih-lebih karena, gara-gara asyik berjudi, suami mereka jarang pulang dan tak menghiraukan kebutuhan dapur dan pendidikan anak-anaknya.

Editor: Dewi Agustina

TRIBUNNEWS.COM, SINGKIL - Sedikitnya 100 ibu-ibu dari Desa Siompin, Kecamatan Suro, Aceh Singkil, dengan membawa serta anak-anaknya, Kamis (7/3/2013) siang berdemo ke Kantor Bupati Aceh Singkil. Menamakan diri Gerakan Antimaksiat Siompin (Gamis), mereka menuntut pemkab setempat memberantas judi dan minuman keras yang marak di daerah itu.

Lebih-lebih karena, gara-gara asyik berjudi, suami mereka jarang pulang dan tak menghiraukan kebutuhan dapur dan pendidikan anak-anaknya.

Dari Siompin ke kantor bupati yang terletak di Desa Pulau Sarok, Kecamatan Singkil, para pengunjuk rasa menempuh jarak sekitar 50 kilometer. Mereka naik dua truk dan selebihnya naik sepeda motor. Dalam aksi itu mereka membawa spanduk dan poster berisi tuntutan ganyang judi dan miras. Mereka juga menjerit-jerit histeris saat menyuarakan tuntutannya.

"Suami kami tidak mengurus lagi anak-anak. Suami kami sibuk berjudi. Duit habis dipakai untuk pasang togel. Ke mana WH, Satpol PP, dan Pak Polisi," teriak seorang orator dari kalangan pengunjuk rasa.

Niat mereka datang jauh-jauh untuk bertemu langsung dengan Bupati Aceh Singkil, Safriadi SH, menyuarakan tuntutannya. Teriakan histeris kaum ibu itu kian menjadi-jadi saat diberitahu bahwa Bupati Safriadi tak berada di kantor. Bupati saat itu sedang menghadiri Musdalub Partai Golkar di Kota Baharu.

Sekda Aceh Singkil, HM Yakub KS coba menemui pengunjuk rasa. Tapi saat ia mulai berpidato, justru diteriaki massa, tanda penolakan. Kaum ibu itu bahkan mengusir Camat Suro, Samsuddin, yang datang ke teras kantor bupati tempat pengunjuk rasa berkumpul.

Mereka tiba pukul 10.00 WIB. Selesai beberapa orang berorasi, semuanya duduk di halaman kantor bupati. Mereka mengatakan tidak akan pulang sebelum bertemu dengan Bupati Safriadi.

Mendengar itu, Wakil Bupati Dulmusrid datang menemui demonstran. Tapi ia mengalami nasib serupa dengan Sekda.

"Karena Ibu-ibu tidak mau menerima saya, jadi saya mohon diri," ujar Dulmusrid sambil berlalu.

Para pengunjuk rasa melanjutkan orasinya minta judi togel, kim, biliar, dan tuak di daerah mereka segera ditumpas. Mereka klaim judi dan tuak itu sebagai penyebab para suami jarang pulang ke rumah dan mengabaikan kewajiban sebagai suami dan ayah.

Unjuk rasa itu dikoordinir Ramli Manik, didampingi mahasiswa, antara lain, Jirin Capah (Ketua Himapas), Idir Ali Angkat, Nazar, dan Alam.

Menariknya, unjuk rasa itu diisi dengan aksi teatrikal kaum ibu. Mereka lakonkan praktik judi dan mabuk-mabukan yang dilakukan para suami.

"Berantas judi! Kami akan menginap di kantor bupati kalau belum bertemu bupati. Kami juga akan unjuk rasa dengan membawa lebih banyak lagi peserta, jika judi tidak diberantas," teriak Nurmala, koordinator lapangan unjuk rasa.

Sekitar pukul 14.15 WIB, polisi akhirnya bernegosiasi dengan pengunjuk rasa. Barulah massa dari Gamis itu bersedia tuntutannya ditampung Wakil Bupati Dulmusrid. Tapi mereka mematok syarat, lapak-lapak judi harus ditertibkan segera. Bila tidak, maka jangan salahkan masyarakat akan bertindak sendiri.

Wakil Bupati menegaskan, segera turun ke lapangan memberantas perjudian siapa pun pemilik dan pelakunya.

"Tolong masyarakat membantu," harapnya. Usai mendengar tanggapan Wakil Bupati Aceh Singkil itu, kaum ibu tersebut langsung membubarkan diri.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved